Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juli 2021

Buku How To Win An Argument Sebuah Panduan Klasik Tentang Seni Persuasi

 




Glosarium

 

Aedile : pejabat Romawi, dipilih setiap tahun untuk menjabat selama 1 tahun, aedile diberi tugas untuk mengurus bangunan, kuil, pasar, festival rakyat, dan pasokan gandum

 

Aeschines: orator dan politisi Athena sekitar 397 sekitar 322 SM, lawan Demosthenes dalam persidangan termahsyur atas Citesisphon

 

Aeschines Socraticus: pengikut setia Sokrates, yang mengajar seni berpidato dan menulis pidato serta karya dialog Sokratik abad ke 4 SM

 

Agamemnon: dalam mitologi putra dari Atreus, saudara dari Menelaus suami dari Clytemnestra: raja Mycenae dan pemimpin ekspekdisi Yunani ke Troya

 

Alsium; kota paling tua di Etruria

 

Antonius: Marcus Antonius (143 – 87 SM) salah satu orator besar dari generasinya, mentor Cicero, dan tokoh utama dalam karya dialog Cicero, De Orantore, kakek dari salah satu Triumvirat, Mark Anthony

 

Antony Mark: Marcus Antonius sekitar 82 – 30 SM, cucu dari M Antonius si orator, pendukung setia Julius Caesar: di serang oleh Cicero dalam karyanya Philippics: bergabung dengan Octavian dan Lepidus sebagai anggota Triumvirat kedua, setelah menyatukan kekuatan pasukan dengan Cleopatra dan kalah dalam peperangan Actium ia bunuh diri

 

Appelles: pelukis Yunani terkenal yang berasal dari Colophon di Asia kecil. Ia seniman terpilih untuk melukis Aleksander Agung lukisannya mengenai Aphrodite di Pulau Kos dianggap sebagai mahakarya

 

Apologi: pidato yang disampikan oleh Sokrates, sebagaimana diceritakan Plato, dalam pembelaan atas dakwaan mengingkari para dewa yang ditimpakan kepadanya pada 399 SM

 

Appian Way (jalan Appia): Via Apphia, jalan raya pertama di Roma, dibangun pada 312 SM, membentang dari Roma sampai Capua

 

Appius  Claudius Caecus: Senator dan pejabat sensor (pejabat romawi yang bertanggung jawab menyelenggarakan sensus dan mengawasi moral warga negara) yang bertanggung jawab membangun Jalan Appia dan saluran air pertama untuk mengalirkan air ke Roma. Pada 280 SM ketika sudah tua, dan buta, Ia berbicara dengan penuh semangat di Senat, menolak berdamai dengan jenderal musuh Pyrrhus

 

Appropriateness (kepantasan) : salah satu dari 4 keutamaan, tradisional atau mutu gaya

 

Aquilius: Gaius Aquilius, pemeriksa utama dalam pengadilan Quinctius pada 81 SM

 

Aquillius: Manius Aquilius, konsul pada 101 SM dituntut atas dakwaan penggelapan pada 97 tetapi berhasil dibela oleh Marcus Antonius

 

Archias: penyair Yunani, guru, dan sahabat Cicero, yang membelanya dalam sebuah persidangan mengenai kewarganegaraan pada 62 SM

 

Aristoteles: filsuf Yunani (384 – 322 SM) murid Plato, tutor dari Aleksander Agung, dan pendiri sekolah filsafat yang dikenal sebagai Peripatos, penulis On Rhetoric dan banyak karya penting lain tentang filsafat dan ilmu alam

 

Arrangement (penyusunan) : langkah kedua dari langkah persiapan orator, memuat penataan bahan sebuah pidato

 

Artistic Proof (pembuktian dengan keterampilan) : upaya pembuktian yang dibuat seorang pembicara dengan keterampilannya sendiri, termasuk sumber persuasi berdasarkan logos. Ethos, dan pathos

 

Asia: pada zaman kuni, nama ini menunjuk secara khusus pada ap yang sekarang disebut Asia kecil, wilayah geografis yang kurang lebih sama dengan Turki pada masa modern. Pada 133 SM sebagian besar wilayah itu menjadi provinsi Asia di bawah Republik Roma

 

Aspasia: gundik dari jenderal Athan, Pericles, dikabarkan mengajar retorika berpatisipasi dalam dialog dengan Sokrates dan para pemikir berpengaruh yang lain

 

Bruttium: wilayah selatan Italia penduduk aslinya orang Brutii

 

Brutus: risalah retorika yang ditulis oleh Cicero pada 46 SM dipersembahkan kepada Marcus Junius Brutus menjadi salah satu pembunuh Caesar ditulis sebagian besar untuk menyajikan suatu sejarah seni pidato Romawi

 

Caecina: Aulus Caecina, seorang yang diwakili oleh Cicero dalam kasus rumit yang melibatkan tanah warisan

 

Caelius: Marcus Caelius Rufus (88 atau 87 – 48 SM) anak didik Cicero yang akan menjadi sahahat pena, dibela oleh Cicero dalam dakwaan kekerasan pada 56 SM

 

Caesar: Gaius Julius Caesar (102 – 44 SM) jenderal termasyhur, anggota apa yang kerap disebut Triumvirat Pertama, kelak akan menjadi diktator Roma, dibunuh pada 15 Maret 44 SM (The Ides Of March)

Calchas: seorang peramal yang menyertai armada kapal Yunani menuju Troya

 

Carbo: Gaius Papirius Carbo, konsul pada 120 SM dan salah satu orator terbaik dari generasinya pada 119 ia dituntut oleh Crassus yang kala itu masih muda, lalu bunuh diri sebab takut bahwa hukuman mati akan ditimpakan padanya

 

Castor: dalam mitologi, salah satu dari apa yang kerap disebut Dioscuri, putra kembar dari Zeus dan Leda, saudara dari Pollux

 

Cateline: Lucius Sergius Catilina, seorang senator yang kehilangan nama baik yang mendalangi percobaan kudeta melawan negara pada 63 SM ketika Cicero menjabat konsul, Cicero menyampaikan 4 pidato terkenal untuk melawannya (In Catilinam) dan menggagalkan kudeta, ia dibunuh bersama para pendukungnya pada 62

 

Cato: Marcus Porcius Cato (Cato Muda. 95 – 46 SM) musuh bebuyutan Caesar serta kaum Triumvirat dan pendukung setia pihak republikan selama Perang Sipil, terkenal dengan sifat yang lurus dan keras hati. Setelah kekalahan pihak dan Perang Thapsus, Cato bunuh diri alih – alih menerima pengampunan dari Caesar

 

Catulus: Quintus Lutatius Catulus (149 – 87 SM) konsul pada tahun 102 penulis dan penyair, salah satu mitra wicara dalam karya dialog Cicero, De Orantore

 

Charmadas: filsuf dari Akademi (sekolah yang didirikan Plato) pada periode skeptik sekitar 165 setelah 102 SM, terkenal dengan keterampilan pidato dan daya ingatannya yang luar biasa

 

Cinna: Lucius Cornelius Cinna konsul pada 87 – 84 SM, sekutu Marius dan lawan Sulla selama pergolakan sipil di Roma pada dekade 80 SM

 

Clarity (kejelasan) : salah satu dari 4 keutamaan tradisional atau mutu gaya

 

Clodia: saudari dar Publius Clodius Pulcher, menurut Cicero, dia dalang penggerak dibalik tuntutan atas Caelius, seorang muda yang telah menolak cintanya, ia kerap menjadi bahan gosip, dikabarkan bercinta dengan siapa saja dan bahkan diisukan menjalin hubungan inses dengan saudaranya

 

Clodius : Publius Clodius Pulcher (92 – 52 SM) musuh bebuyutan Cicero, pada 62 SM Clodius tertangkap ketika menyamar sebagai perempuan dalam ritual suci untuk Bona Dea (Dewi Yang Baik), dimana hanya perempuan yang boleh ikut, dalam pengadilan yang menyusul kemudian, Cicero berhasil membuktikan dalih Clodius sebagai salah pada 58 SM Clodius memprovokasi supaya Cicero diasingkan dan pada 52, ia dan Milo beserta rombongannya bertemu di Jalan Appia dan Clodius terbunuh, Milo dijatuhi dakwaan dan Cicero membelanya tetapi kalah

 

Cloelius: Sextus Cloelius, salah satu kaki tangan andalan Clodius, bertanggung jawab memancing huru hara dan kerusuhan di Roma

 

Cluentius: Aulus Cluentius Habitus, seorang yang dibela oleh Cicero pada 66 SM, atas dakwaan meracuni

 

Colline: berkenaan dengan distrik di sekitar Bukit Quirinale, Collinus dalam bahasa Latin berarti berbukit, tetapi khusus dalam kaitan dengan Roma, biasanya istilah ini berkenaan dengan Bukit Quirinale, satu dari tujuh bukit di Roma dan distrik di sekitarnya

 

Commonplaces (pola umum): argumen standar tentang itu spesifik atau tipe argumen standar, atau pola argumen abstrak yang dapat diacu dan diandalkan oleh si orator untuk membangun argumentasi logisnya atau daya tarik karakter dan emosi

 

Conclusion (kesimpulan): yang terakhir dari bagian pidato, pada umumnya dipakai untuk merekapitulasi dan menggugah emosi audiens

 

Consul (Konsul): para Konsul adalah pejabat utama Roma, memiliki baik kekuasaan sipil maupun militer, dua konsul dipilih setiap tahun untuk menjabat selama 1 tahun

 

Correctness (ketepatan): salah satu dari 4 keutamaan, tradisional, atau mutu gaya

 

Crassus Lucius Licinius: orator terbesar pada generasi 9140 – 91 SM) salah satu mentor Cicero dan mitra wicara utama dalam karya dialognya, De Oratore

 

Crassus Marcus Licinius: salah satu orang terkaya di Roma meninggal pada 53 SM, menjabat konsul bersama Pompey pada 70 SM dan seorang anggota dari apa yang disebut Triumvirat Pertama, dia dan pasukannya ditaklukkan oleh orang Parthia dan dibunuh oleh mereka pada 53

 

Ctesiphon: warga Athena yang pada 336 SM mengusulkan penganugerahan mahkota sebagai penghormatan untuk Demosthenes atas jasanya kepada negara

 

Cirius: Manius Curius, seorang yang terlibat dalam sebuah kasus terkenal mengenai warisan, dibela oleh Lucius Crassus dan Quintus Mucius, Scaevola Pontifex, melibatkan argumen tentang apa yang tertulis hukum versus rihnya

 

Deduksi: peroses penalaran dimana suatu kesimpulan niscaya dihasilkan dari premis yang dinyatakan penalaran silogistik

 

De Inventione (On Invention): karya paling awal Cicero yang diterbitkan, ditulis ketika masih remaja, tentang topik penemuan dalam retorika, sezaman dengan Rhetorica ad Herennium yang pengarangnya tak diketahui, wakil tipikal buku pegangan yang ditulis berdasarkan retorika Helenistik zaman sebelumnya

 

Delivery (penyampaian) : yang kelima dari langkah persiapan orator menyangkut penyampaian atau penyajian sebuah pidato dalam hal gerakan, gestur, ekspresi wajah dan suara

 

Demosthenes: yang paling terkenal diantara para orator Yunani (384 – 322 SM) yang oleh Cicero dianggap panutan terbaik untuk urusan berpidato

 

DE OFFICIIS (On Moral Duties): risalah karangan Cicero mengenai topik kewajiban moral disampaikan kepada putranya dan ditulis menjelang akhir hidupnya sangat berpengaruh terhadap zaman setelahnya

 

De Oratore (On The Ideal Orator): risalah paling agung karya Cicero mengenai retorika di tulis dalam 3 jilid pada 55 SM dipersembahkan kepada saudaranya Quintus. Risala disusun unik dalam bentuk dialog yang dikisahkan terjadi pada 91 SM mitra wicara utama di dalamnya adalah Crassus dan Antonius, yang dikisahkan berupaya menggambarkan orator ideal

 

Distinction (Kegemilangan): salah satu dari 4 keutamaan tradisi onal atau mutu gaya yang dianggap penting kadang diterjemahkan menjadi penghiasan (ornamentation) atau penyemarakan (embellishment)

 

Ennius: penyair Romawi termasyhur yang berasal dari Rudiae di Calabria (239 – 169 SM) pengarang karya komedi, tragedi, dan satir juga sebuah syair kepahlawanan Annales, yang berkisah tentang sejarah Roma sampai pada zamannya

 

Enthymeme: sebuah silogisme di mana entah premis mayor atau premis minornya implisit

 

Epicheireme: silogisme lima bagian dimana premis mayor dan premis minor diperkuat dengan argumen lebih lanjut baru lantas ditarik sebuah kesimpulan

 

Ephorus : sejarawan Yunani yang berasal dari Cyme di Asia Kecil sekitar 405 sekitar 330 SM dan seorang murid dari Isocrates

 

Equestrian Order (pasukan berkuda): para ksatria atau pasukan Kavaleri Romawi, kelas sosial nomor 2 di Roma, berisi orang kaya yang bukan Senator. Yang termasuk golongan ini adalah mereka yang memiliki aset senilai 400.000 sesterces dan terlahir sebagai orang bebas (Sestrerce dalam Inggris atau Sestertius dalam Latin (Sestertii) sebuah koin atau unit moneter Romawi kuno, terlahir sebagai orang bebas artinya terlahir bukan dari golongan budak). Pada zaman Cicero, mereka tak sungguh bertugas sebagai pasukan kavaleri

 

Ethos: bahasa Yunani untuk karakter bersama logos dan pathos, termasuk salah satu cara pembuktian dengan keterampilan (artistic mode of proof) ala Aristoteles, yang diadopsi oleh Cicero dalam karyanya De Orantore. Argumen berdasarkan karakter si pembicara atau klien dan karakter lawannya digunakan untuk membujuk audiens. Pemahaman Cicero tentang ethos agak berbeda dengan pemahaman Aristoteles

 

Etruria: sebuah distrik di Italia bagian barat laut

 

Figures Of Speech And Thought (kata kiasan dan makna figuratif): konfigurasi bahasa yang berbeda dari penggunaan normal dan harfiah: kata kiasan (figure of speech) biasanya menunjuk pada ekspresi verbal, sedangkan makna figuratif (figures of thought) menunjuk pada gagasan

 

Fimbria: Gaius Fimbria, pada tahun 104 SM, dan seorang orator energik

 

Flamen: seorang imam untuk keperluan pemujaan kepada salah satu dewa – dwi Romawi kuno

 

Flavius: Gaius Flavius, ketua majelis hakim dalam pengadilan atas Gnaesus Plancius

 

Formale: kota di pantai Barat Italia di mana Cicero di bunuh

 

Forum: tempat umum yang menjadi pusat kehidupan politik, perayaan, hukum, dan perdagangan, masyarakat Roma, tempat di mana terdapat gedung Senat. Romawi, juga tempat digelarnya sebagian besar pengadilan kriminal dan sipil, rapat umum, dan banyak pertemuan lain

 

Fregellans (orang Fregellae): penduduk Fregellae, sebuah kota kecil yang bersekutu dengan Roma, terletak kira – kira 60 mil di sebelah tenggara ibu kota. Pernah mengupayakan suatu pemberontakan pada 125 SM yang kemudian dihancurkan oleh orang Roma

 

Fufius: Lucius, Fufius, penuntut dalam kasus Manius Aquilius, yang dibela oleh Antonius pada 97 SM

 

Gracchus: Gaius Sempronius Gracchus, seorang pejabat tribunal rakyat pada 123 dan 122 SM seorang orator berbakat yang seperti saudaranya Tiberius, mengusulkan legislasi yang bertujuan mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kekuasaan rakyat. Ia dibenci oleh dewan senator, dan terbunuh dalam kerusuhan pada 121 SM

 

Grattius: penuntut dalam kasus melawan klien Cicero, Archias. Tak tersedia informasi lebih lanjut tentangnya

 

Heraclea: sebuah kita di Italia Selatan, terletak di pinggir sungai Siris

Hortensius:  Quintus Hortensius Hortalus (114 – 50 SM), orang sezaman Cicero tetapi lebih tua darinya, memiliki pengaruh besar di pengadilan sebelum tampilnya Cicero, ditaklukan oleh Cicero dalam kasus terkenal Verres (70 SM) setelahnya kedua orator berkolaborasi dalam beberapa kasus penting

 

In Catilinam: Against Catiline, menunjuk pada salah satu dari 4 pidato yang disampaikan oleh Cicero untuk melawan Catiline dan percobaan kudetanya, November – Desember 63 SM

 

Induksi: penalaran dari yang khusus ke yang umu, menarik sebuah kesimpulan dari contoh khusus dan memperluasnya sampai mencakup kasus lain yang serupa

 

Invention (penemuan): yang pertama dari langkah persiapan orator melibatkan penggalian memikirkan dengan cermat bahan untuk sebuah pidato

 

Iphigena: dalam mitologi putri dari Agamemnon dan Clytemnestra dikurbankan demi memperoleh cuaca yang mendukung untuk pelayaran ke Troya

 

Isocarates: orator Athena, ahli retorika, dan guru termahsyur dalam retorika dan seni pidato, terutama dalam bidang gaya dan ritme narasi (436 – 338 SM)

 

Junius: Marcus Junius seorang advokat yang sebelumnya mewakili klien Cicero, Publius Quinctius: pertunjukkan sebagai duta provinsi membuatnya tak bisa hadir di persidangan pada hari ketika Cicero menyampaikan pidato pembelaan

 

Lanuvium: sebuah kota kecil di Jalan Appia, di sebelah tenggara Roma

 

Lepidus : Marcus Aemilius Lepidus, konsul pada tahun 46 dan 42 SM, bersama Anthony dan Octavian menjadi salah satu anggota Triumvirat kedua, meninggal pada 13 atau 12 SM

 

Logos: argumentasi rasional bersama ethos dan pathos, termasuk salah satu cara pembuktian dengan keterampilan (artistic modes of proof) ala Aristoteles, yang diadopsi oleh Cicero dalam karyanya De Oratore

 

Lucullus Lucius Licinius: konsul pada 74 SM yang melancarkan beberapa operasi militer sukses melawan Mithridates, Raja Pontus

 

Lucullus Marcus Licinius: saudara dari Lucius, konsul pada 73 SM. Ia hadir dari bertindak sebagai seorang saksi pada pihak Archias dalam pendaftarannya sebagai warga negara di Heraclea

 

Manilian Law: hukum yang diusulkan oleh seorang pejabat tribunal, Gaius Manilius, pada 66 SM yang memberikan komando tertinggi kepada Pompey dalam perang melawan Mithridates, hukum itu didukung oleh Cicero dalam pidatonya. De Lege Manilia

 

Manilius: Gaius Manilius, seorang pejabat tribunal pada 66 SM, pengusul hukum yang memberikan komando tertinggi kepada Pompey dalam perang melawan Mithridates

 

Marius: Gaius Marius (sekitar 157 – 86 SM), jenderal terkenal berasal dari tempat lahir Cicero Arpinum, Marius mereformasi tentara Romawi menjadi konsul sebnayak 7 kali, dan terlibat dalam perang sipil berdarah melawan Sulla pada sekitar 80 an

 

Memory (ingatan) : langkah persiapan orator yang keempat memuat upaya menghafal sebuah pidato

 

Menelaus: dalam mitologi, raja Sparta, putra dari Atreus saudara dari Agamemnon, suami dari Helen, yang diculik oleh Paris ke Tokyo

 

Metrodorus dari skepsis: ahli retorika (140 – 71 SM) dari Skepsis di Asia kecil, yang termahsyur dengan daya ingatannya yang menakjubkan

 

Milo: Titus Annius Milo, seorang pejabat tribunal pada 57 SM yang memperjuangkan supaya Cicero kembali dari pengasingan. Di dakwa atas pembunuhan Clodius pada 52, ia dibela oleh Cicero, tetapi dinyatakan bersalah dan dikirim ke pengasingan

 

Mithridates: Raja Pontus (Kawasan Laut Hitam) yang selama berpuluh tahun mengusik kepentingan Roma di Asia kecil akhirnya berhasil di taklukkan oleh Pompey Agung

 

Naevius, Gnaeus: penyair Romawi populer sekitar 235 – 205 SM yang menulis karya komedi, tragedi, dan sebuah syair kepahlawanan tentang Perang Punicus Pertama

 

Naevius Sextus: diseret ke pengadilan melawan Publius Quinctius, yang dibela oleh Cicero pada 81 SM

 

Narration (Narasi): kedua dari bagian pidato tradisional, pernyataan fakta menurut si pembicara, ia harus singkat, jelas, dan persuasif

 

Nonartistic Proof (pembuktian tanpa keterampilan): pembuktian yang tidak ditemukan berdasarkan keterampilan si pembicara, misal perjanjian tertulis, pernyataan para saksi, dan seterusnya

 

Norbanus: Gaius Norbanus, pejabat tribunal pada 103 SM. Pada 95, ia dituduh berkhianat dan berhasil dibela oleh Marcus Antonius

 

On Rhetoric: risalah karangan Aristoteles, mengenai seni persuasi lisan

 

Orator: risalah retorika yang ditulis oleh Cicero dalam bentuk surat (46 SM) yang dialamatkan kepada Brutus. Cicero menegaskan bahwa orator ideal harus menguasai 3 ragam gaya: agung, sedang, dan biasa

 

Ovatio: sebuah perayaan atas aksi keberanian seorang jenderal, dianugerahkan atas pencapaian yang dianggap layak, tetapi tak cukup layak untuk perayaan penuh

 

Partition (partisi) : sebuah bagian dari sebuah pidato yang kadang dimasukkan ke dalam daftar pembagian standar, dimana si pembicara membuat garis besar atau mendaftar pokok yang hendak dicakupnya dalam pembuktiannya

 

Pathos: bahasa Yunnai untuk emosi bersama logos dan ethos termasuk salah satu cara pembuktian dengan keterampilan (artistic modes of proof) ala Aristoteles, yang diadopsi oleh Cicero dalam karyanya De Orantore. Melalui sarana ini, pembicara membujuk audiens dengan menarik atau mengaduk emosi. Pemahaman Cicero tentang pathos agak berbeda dengan pemahaman Aristoteles

 

Periodic Structure (struktur periodik): stukrur kalimat yang rumit dan kerap kali panjang, dimana kepenuhan gagasannya biasanya ditunda sampai bagian akhir kalimat

 

Plancius: Gnaeus Plancius Quaestor di Makedonia pada 58 SM, yang menolong Cicero selama pengasingannya, kelak ia didakwa atas kasus suap dalam pemilihan umum dan berhasil dibela oleh Cicero dan Hortensius

 

Plato: filfus Athena sekitar 429 – 347 SM, pengikut Sokrates, pendiri sekolah filsafat yang dikenal Akademia, guru Aristoteles pada umumnya bersikap kritis terhadap retorika

 

Pollux: dalam mitologi, salah satu dari apa yang biasa disebut Dioscuri, putra kembar dari Zeus dan Leda, saudara dari Castor

 

Pompey: Gnaeus Pompeius Magnus (106 – 48 SM) jenderal besar yang menghalau para bajak laut dari kawasan Mideterania pada 67 SM dan diberi komando atas Asia kecil dalam perang melawan Mithridates pada 66, bersama Caesar dan Crassus, menjadi anggota dari apa yang disebut Triumvirat Pertama, setelah ditaklukkan oleh Caesar dalam Perang Sipil, ia dibunuh di Mesir pada 48 SM

 

praetorL pada zaman Cicero, salah satu dari 8 pejabat tinggi Romawi, beberapa di antaranya mengetuai sejumlah pengadilan kriminal. Menjabat selama 1 tahun seperti pejabat lain, kekuasaan militer dan sipil praetor berada di bawah kekuasaan militer dan sipil para konsul

 

Pro Archia : pidato pembelaan Cicero di pihak Archias disampaikan pada 62 SM

 

Pro Caecina: pidato pembelaan Cicero di pihak Aulus Caecina disampaikan pada 69 SM

 

PRO Caelio: pidato pembelaan Cicero di pihak Marcus Caelius Rufus disampaikan pada 56 SM

 

Pro Lege Manilia: pidato Cicero yang mendukung hukum yang diusulkan oleh pejabat tribunal Manilius, hukum yang memberikan kepada Pompey komando dalam perang melawan Mithridates, juga dikneal dengan nama latin, De Imperio Cn Pompei

 

Prologue (Prolog): yang pertama dari bagian pidato tradisional, pengantar, dirancang untuk membuat audiens menjadi penuh perhatian, terbuka untuk menerima dan memiliki kecenderungan positif terhadap si pembicara

 

Pro milone: pidato pembelaan Cicero di pihak T Annius Milo disampaikan pada 52 SM

 

Proof (pembuktian): salah satu dari bagian pidato tradisional dimana pembicara menyajikan bukti untuk pendirian yang diperjuangkannya

 

Pro Plancio: pidato pembelaan Cicero di pohak Gnaeus Plancius disampaikan pada 54 SM

 

Pro Quinctio: pidato pembelaan Cicero di pihak Publius Quinctius disampaikan pada 81 SM, pidatonya paling awal yang kini masih ada

 

Pro Rabirio Perduellions Reo: pidato pembelaan Cicero di pihak Gaius Rabirius disampaikan pada 63 SM tahun ketika ia menjabat sebagai konsul

 

Pro Roscio Amerino; pidato pembelaan Cicero di pihak Roscius dari America disampaikan pada 80 SM

 

Prose Rhythm (ritme prosa): ritme metrum yang biasa diterapkan secara terampil pada prosa orator. Metrum untuk pidato berupa prosa tak perlu sekonsisten puisi, tetapi tetap diharapkan memiliki ritme dan kadensa, khususnya pada akhir klausa dan kalimat

 

Quaestor: pada zaman Cicero, salah satu dari 20 pejabat tinggi dipilih setiap tahun yang tugas utamanya sebagai pejabat keuangan, kerap terikat pada para pejabat senior

 

Quinctius: Publius Quinctius, klien Cicero dalam sebuah kasus yang memuat perdebatan atas kepemilikan harta

 

Quintilian: Marcus Fabius Quintilianus (sekitar 35 – sekitar 95 SM) guru termahsyur retorika, penulis Institutio Oratoria (Training of The Orator)

 

Rabirius: Gaius Rabirius, klien Cicero dalam kasus yang melibatkan tuntutan hukuman mati, yang sesungguhnya bertujuan menyerang Senat dan kekuasaan para konsul

 

Refutation (sanggahan) : dalam istilah retorika, sub bagian dari pembuktian sebuah pidato dimana si pembicara menyanggah argumen lawannya

 

Rhetorica Ad Herennium (Rhetoric To Herennius): risalah anonim tentang retorika dalam 4 jilid, dialamatkan kepada Gaius Herennius, seorang yang juga tidak dikenal Tradisi manuskrip keliru mengatribusikannnya kepada Cicero, kendati karya itu kurang lebih sezaman dengan karyanya De Inventione dan berasal dari sumber sama

 

Rhodes: Pulau paling timur dari sebuah kepulauan di Yunani yang dikenal sebagai Kepulauan Dodekanesa, di lepas pantai barat daya Turki

 

Roscius dari America: didakwa membunuh ayahnya sendiri (80 SM) ia dibela oleh Cicero dan dibebaskan

 

Rostra: panggung pembicara terletak di forum Romawi, disebut karena dihias dengan bagian tajam dari kapal (rostra) yang direbut dalam sebuah pertempuran laut pada 338 SM

 

Scaebola Augur : Quintus Mucius Scaevola Sang Peramal sekitar 168/160 sekitar 87 SM, ahli hukum terkemmuka, ayah mertua dari Crassus si orator, dan setelah meninggalnya Crassus, menjadi mentor utama Cicero, ia salah satu tokoh pembicara dalam karya Cicero De Orantore

 

Scaevola Pontifex: Quintus Mucius Scaevola Sang Imam Besar, konsul pada 95 SM, ahli hukum terkemuka yang berbicara bertentangan dengan Crassus dalam kasus terkenal mengenai warisan yang melibatkan Curius, dimana Scaevola mempertahankan hukum tertulis versus roh hukum

 

Senate (Senat) : dewan penasihat Roma yang terdiri dari para purnawirawan pejahat (jumlahnya sekitar 600 pada zaman Cicero), tugas utamanya adalah memberi nasihat. Kendati secara teknis tidak menjalankan proses legislasi, Senat sangat berpengaruh dalam urusan kenegaraan

 

Simonides dari Keios: penyair liris Yunani dari Pulau Keios (557 – 468 SM) yang diyakini menemukan seni mengingat

 

Sokrates: filsuf terkenal Athena dan tokoh publik (469 – 399 SM) Plato dan Xenophon termasuk di antara para pengikutnya

 

Status: salah satu dari empat pendirian argumen yang dipilih untik menangani pokok yang sedang diperkarakan dalam suatu kasus hukum, mengelompokkan pendirian argumen adalah salah satu unsur utama dari langkah penemuan, langkah persiapan pertama orator

 

Style (gaya): salah satu langkah persiapan orator yang standar, berisi aktivitas menuangkan bahan sebuah pidati ke dalam kata

 

Sulla: Lucius Cornelius Sulla Fellix (138n – 78 SM), jenderal berpengaruh dan bangsawan terkemuka, saingan Marius selama dekade penuh kerusuhan pada 80 an pemenang dalam perang sipil berdarah pada 82, dengan  mengandalkan penyitaan harta dan pelarangan kegitan untuk memulihkan ketertiban, setelahnya sebagai diktator, ia menetapkan banyak hukum, memperbesar wewenang Senat dan mereformasi serta merombak prosedur pengadilan dan yudisial. Setelah menyelesaikan program reformasinya, ia mundur untuk menyepi pada 79 dan meninggal tak lama setelahnya

 

Sulpicius: Publius Sulpicius Rufus (124 = 88 SM), pejabat tribunal rakyat pada 88 SM salah satu mitra wicara dalam karya dialog Cicero, De Orantore

 

Syllogism (Silogisme) : salah satu jenis penalaran deduktif yang memuat sebuah premis mayor, sebuah premis minor, dan sebuah kesimpulan

 

Theophrastus: filsuf Yunani sekitar 371 – 286 SM) murid Aristoteles penulis banyak karya mengenai sains, filsafat, dan retorika

 

Theopompus: sejarawan Yunani dari Pulau Khios (378 sekitar 320 SM) murid Isocarates, dan penulis banyak mengenai sejarah

 

Tribune (Of The People) – Pejabat Tribunal (Rakyat) : pejabat Romawi yang bertugas melindungi kepentingan rakyat pada zaman Cicero sepuluh orang pejabat tribunal dipilih setiap tahun untuk menjabat selama 1 tahun. Para pejabat tribunal dapat memveto tindakan pejabat, hukum, keputusan Senat, dan pemilihan umu, serta dapat menyelenggarakan pertemuan dan mengusulkan hukum

 

Tusculum: kota kecil yang terletak di pegunungan di sebelah tenggara Roma, sekitar 10 mil dari kota itu, lokasi tempat peristirahatan kesukaan Cicero

 

Ulysses: nama Latin untuk Odysseus dalam mitologi putra dari Laertes, raja Ithaca, pahlawan Perang Troya, tema karya Homeros Odyssey

 

War With The Alliens (perang sekutu Italia) : kiga dikenal sebagai perang sosial atau perang Marsic, perang antara Roma dan sekutunya di Italian sejak 91 – 87 SM, menghasilkan pemberian status kewarganegaraan kepada sekutu Italia di sebelah selatan Sungai Po

Xenophon: Jenderal Athena dan penulis sekitar 430 – setelah 355 SM, pengikut Socrates penulis karya seperti Anabasis, Hellenica, dan Memorabilia, dan beberapa yang lain

 

Penemuan: mengindentifikasi dan mengelompokkan pokok persoalan menurut pendirian argumen dan menggali sumber pembuktian

 

Yang terpenting adalah seberapa baik kau hidup, bukan seberapa panjang, dan sering kali baik tidak berarti berumur panjang (Seneca)

 

Siapapun yang ingin menjadi bebas semestinya tidak mengharapkan atau menghindari apapun yang tergantung pada orang lain, jika tidak seseorang pasti akan menjadi budak (Epiktetos)

 

 

Selama manusia mampu berkomunikasi, ia akan berupaya untuk saling mempengaruhi. Entah untuk sekadar bertahan hidup, entah untuk mengendalikan keadaan, entah untuk membawa orang lain memasuki cara berpikir, atau sekadar untuk memenangkan argument, selalu mengandalkan jenis persuasi tertentu entah dalam bentuk kekuatan fisik, atau dalam bentuk yang dianggap lebih beradab seperti berbicara dan menulis demi mencapai tujuan dan maksud kita. Di dunia Barat, seni persuasi lisan atau retorika ditemukan di negara kota demokrasi Syrakousa dan Athena pada abad ke 5 SM, warga di masyarakat demokratis perlu mengungkapkan diri di majelis, merepresentasikan diri di persidangan dan ikut serta dalam kegiatan kewarganegaraan lain. Di rancang beberapa upaya untuk mendeskripsikan sarana yang efektif dalam persuasi lisan. Berkembangnya system teoritis yang memampukan warga negara untuk merancang dan menjalankan pidato dejgan sukses untuk memenangkan argument

 

Beberapa abad kemudian, orator terbesar Roma, salah satu pembicara terbaik segala zaman, Marcus Tullius Ciceor, berhasil memperoleh jabatan tertinggi di Republik Romawi sebagai konsul. Ia memperolehnya dengan mengendalkan seni perusasi lain untuk mendapat kemasyhuran di kalangan masyarakat Roma. Sejak kecil terlatih dalam seluk – beluk retorika. Cicero unggul bukan hanya sebagai pembicara public efektif, yang berhasil memenangkan sebagian besar argument dimana ia terlibat, melainkan juga sebagai teoretikus seni persuasi lain. Selama hidupnya, ia menulis beberapa risalah bertema retorika. Kendatia ia bersikap kritis terhadap buku panduan retorika zaman itu, ia mendalaminya dan mengandalkan metodenya. Sesungguhnya Pendidikan retorika untuk urusan kewarganegaraan, yang di wariskan oleh orang Yunani dan diadopsi oleh orang Romawi, tetap menjadi unsur utama dalam pembinaan semua orang terpelajar sejak Abad Pertengahan, zaman Renaisans, dan bahkan sampai kini di zaman modern

 

Teks Cicero, terutama dari risalahnya tentang retorika. Teks – teks itu berhasil menangkap hakikat system retorika kuno tentang persuasi, sebuah system yang membantu Cicero dan banyak orator lain menjadi pembicara yang efektif yang mampu meyakinkan orang dan memenangkan argument

 

Tujuan pembicara untuk mempengaruhi orang lain. Karena itu memahami cara persuasi yang paling efektif akan membawa tujuan menjadi nyata

 

 

Riwayat singkat Cicero

 

Marcus Tullius Cicero lahir pada 3 Januari 106 SM di Arpinum, sebuah kota yang berjarak 70 mil kea rah tenggara kota Roma, dalam sebuah keluarga yang kendati tak termasuk bangsawan Romawi, cukup terkemuka di kalangan masyarakatnya dan memiliki relasi penting di ibu kota. Ketika Marcius dan saudaeanyam Quintus, masih anak, keluarga itu pindah ke Roma, demi kemajuan Pendidikan dan masa depan mereka, di Roma anak itu diperkenalkan pada 2 orator terkemuka zaman itu, Lucius Licinius Crassus dan Marcus Antonious, yang dikemudian hari menjadi 2 tokoh pembicara utama dalam risalah paling agung Cicero tentang retorika, sebuah dialog mengenai orator ideal. De Oratore dalam lingkungan seperti itu, sejak masih anak dan seterusnya, Cicero bisa mengamati bagaimana para pembicara dan negarawan terkemuka tampil sehari di pengadilan dan di tempat umum. Setelah wafatnya Crassus pada 91 SM, Cicero pada usia 15 atau 16 mulai mengenakan jubah kedewasaab dan secara resmi diperkenalkan pada Quintus Mucius Scaevola, Sang Peramal, salah satu ahli hokum Roma terbesar yang juga diberi tempat sebagai salah satu tokoh pembicara dalam De Oratore, di bawah perwalian Scaevola, Cicero mempelajari rasa hormatnya yang tinggi dan pengetahuan tentang hukum sipil. Cicero muda adalah murid yang dewasa sebelum waktunya, selain belajar seni pidato dengan Crassus, Antonius, dan Scaevola, berkembanglah dalam dirinya minat dan cinta yang tak habisnya pada filsafat. Ketika masih remaja, ia menerbitkan karyanya yang pertama mengenai retorika. De invention (On Invention) yang di tahun mendatang akan disebutnya sebagai karya seadanya dan sederhana, yang bersumber dari catatan ketika masih kecil, atau pada masa muda (De Oratore LS), terlepas bahwa karya itu terus membawa pengaruh dahsyat pada pembelajaran retorika dan seni pidato selama Abad Pertengahan sampai zaman Renaisans. Setelah perjalanan singkat dalam rangka tugas militer selama Perang dengan Sekutu Italia (War With The Italian Allies), Cicero kembali ke Roma yang selama decade 80 an SM, sebagian besar terbelah oleh konflik sipil, pertumpahan darah, dan berbagai larangan kegiatan, yang terjadi karena konflik antara tangan besi Marius, Cinna, dan Sulta. Ketika keadaan akhirnya membaik dan pengadilan mulai berfungsi lagi seperti biasa, Cicero menangani kasus sipilnya yang pertama, lalu pada 80 SM menangani kasus kriminalnya yang pertama, yakni sebagai pembela Roscius dari America atas tuduhan membunuh ayahnya sendiri. Tak lama setelah kemenangannya yang mengesankan, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dengan menghabiskan sekitar 2 tahun yang akan menjadi tur besar, grand tour ( di dunia Barat, istilah grand tour menunjuk pada tur kebudayaan berkeliling Eropa yang popular pada abad ke 18, biasanya dilakukan oleh seorang muda dari kelas masyarakat atas sebagai bagian dari pendidikannya, boleh jadi kebiasaan di sekolah sekarang untuk study tour berasal dari tradisi ini) di Yunani, dimana ia bertemu, berinteraksi, dan belajar dengan beberapa ahli retorika, orator, dan filsuf yang prestisius. Ia kembali ke Roma pada 77 SM, sebagai seorang pembicara yang lebih bersemangat dan penuh sopan santun

 

Kini Cicero berusia hamper 30 tahun, usia persyaratan minimum untuk bersaing mendapatkan jabatan quaestor, semacam bendahara, urusan public atau juru bayar. Seperti disebut di depan, keluarga Cicero tidak termasuk golongan bangsawan Romawi sebelum Cicero tak seorang pun dari keluarganya yang menjadi senator Romawi melalui jalur pemilihan umum jabatan public, dengan demikian sebagai seorang yang kala itu disebut manusia baru, novus homo (dalam konteks Romawi kuno istilah novus omo (jamak: novi homines) menunjuk pada orang pertama dalam sebuah keluarga yang menduduki jabatan senator atau terpilih sebagai konsul. Catatan penerjemah). Cicero mendapati dirinya berada dalam posisi politik yang sangat tidak  menguntungkan, sebab pemilihan umum menuju jabatan tinggi kenegaraan di Roma dimonopoli oleh dan pada umumnya terbatas pada golongan bangsawan, meski ia berhasil memenangkan pemilihan umum, pertama dengan memenangkan suara dan selama setahun memiliki hak memilih dan dipilih, kemudian menjabat sebagai quaestor di Sisilia, koneksi yang dibangunnya di sana membawa keuntungan 5 tahun kemudian, ketika orang Sisilia, mengingat kinerja Cicero yang baik dan jujur, memilihnya untuk menjalankan proses hukum kepada Gauis Verres, gubernur Sisilia yang korup, yang menjabat pada 73 – 70 SM, atas tuduhan pemerasan. Kesuksesannya yang menakjunkan dalam kasus, melawan kuasa tatanan senator dan Hortensius, advokat paling terkenal kala itu yang membela Verres, melambungkan Cicero ke pusat perhatian orang sebagai orator dan advokat terkemuka, jabatan politik lain menyusul Cicero sebagai pejabat pengawas bangunan dan Gedung (aedile), pejabat di bawah konsul (praetor) dan akhirnya konsul, jabatan hukum tertinggi di Republik Roma

 

Dalam bulan terakhir masa jabatannya sebagai konsul pada 63 SM, Cicero membongkar rencana penggulingan pemerintah, yang dipimpin oleh Lucius Sergius Cautiline, seorang revolusioneer, senator gagal berhasil dari keturunan bangsawan, berkat ketekunannya, bantuan para informasi, dan pidatonya yang penuh inspirasi (mereka belajar Bahasa Latin pasti akrab dengan Catilinarian Orations yang termahsyur), Cicero berhasil menggagalkan kudeta, sementara itu masih ada, Cicero juga berhasil memperoleh persetujuan Senat, di mana beberapa anggotanya keberatan, untuk mengeksekusi orang yang berkomplot dengan gerakan itu tanpa proses pengadilan, dibuat suat perayaan syukur dan Cicero dielukan sebagai Pater Patriae, Bapak Bangsa

 

Pada saat penuh kemenangan itu ketika ia tampak berhasil menyatukan rakyat Roma melawan ancaman kudeta, Cicero memimpikan keselarasan di antara berbagai kelas social Roma (Concordia ordinum). Akan tetapi hanya beberapa tahun kemudian, berbagai gerakan berkomplot menghempaskan mimpi itu dan membalikkan mahkota kemenangan Cicero menjadi aib mengecilkan hati. Pada 60 SM, berbagai manuver dan intrik politik membentuk aliansi yang terdiri dari 3 orang kuat: Julius Caesar, Jenderal Besar Pompey dan Marcus Crassus, seorang kaya sekalogus relasi jauh dari mentor Cicero pada waktu kecil. Kendati awalnya diajak bergabung, Cicero pada akhirnya tak mau mendukung koalisi yang disebut Triumvirat Pertama itu. Pada gilirannya, mereka memberi jalan kepada musuh Cicero, terutama Publius Clodius, musuh bebuyutan Cicero, yang berhasil mengirimkannya ke pengasingan pada 58 SM, atas tuduhan mengeksekusi warga negara Roma tanpa proses pengadilan. Cicero mengungsi ke Yunani, dimana ia menjalani tahun paling malang seperti kehilangan separuh hidupnya, selama itu ia menderita depresi akut dan bahkan ingin bunuh diri. Senat memanggilnya kembaki untuk menjabat pada 57 SM, tetapi Triumvirat masih memegang kuasa di Roma, dan memperingatkan Cicero melalui perantaraan saudarnya, Quintus. Supaya tidak mengambil kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan mereka, bahkan atas perintah Triumvirat itu Cicero dipaksa melawan kehendaknya sendiri untuk membela beberapa orang yang dulu merupakan musuhnya. Dalam suasana penuh penindasan, Cicero berpaling pada kegiatan menulis dan menghabiskan beberapa tahun terakhir dari decade itu untuk menyusun beberapa risalah sastrawinya yang terpenting dan pantas dicatat, termasuk De oratore (On The Ideal Orator). De Republica (On The Republic), dan De legibus (On The Laws)

 

Pada 51 SM, Cicero ditugaskan oleh Senat untuk menjabat sebagai gubernur Provinsi Kilikia di Asia Kecil (Sekarang Turki sebelah barat daya), dimana ia melaksanakan tugasnya dengan terhormat, memulihkan ketertiban dan bahkan menjalankan sebuah operasi militer yang singkat namun sukses besar untuk menghadapi beberapa perang suku. Situasi politik di Roma memburuk selama beberapa tahun itu. Seorang dari Triumvirat, Crassus, terbunuh dalam sebuah operasi militer di Parthia pada tahun 53, dan hubungan di antara Triumvirat yang tersisa, Caesar dan Pompey, segera mencapai titik kritis. Hanya beberapa minggu setelah Cicero kembali ke Roma dari tugasnya di Kilikia, pecahlah perang sipil besar – besaran (Januari, 49 SM) setelah melewati banyak keraguan, pertimbangan pribadi, dan gagal mendamaikan Caesar dan Pompey, Cicero akhirnya bergabung dengan gerakan republican di bawah komando Pompey di Yunani. Setelah kekalahan mereka di Pharsalus pada tahun 46, Cicero kembali ke Italia, dan setelah sekali lagi melewati banyak siksaan keraguan, ia diampuni oleh Caesar dan diizinkan tinggal di negeri itu, Kaum pendukung republican yang lain, termasuk Cato Muda, ters bertempur. Selama masa kediktatoran Caesar, lagi Cicero mendapati kesempatannua untuk memainkan peran berarti di wilayah public sangat dibatasi. Lebih, kematian tragis puteri yang dikasihinya, Tullia pada 45 SM semakin menghempaskannya ke dalam keputusasaan dan sikap menarik diri. Seperti dilakukannya satu decade sebelumnya, ketika ia seperti dipaksa pensiun, Cicero berpaling pada kegiatan menulis untuk mencari penghiburan dan selama periode ini ia menyusun banyak karya mengenai retorika dan filsafat, termasuk Brutus, Orator, De Fininus, bonorum el malorum (On Moral Ends), Tuscalan Disputations dan De natura deorum (On The Nature Of The Gods)

 

Cicero memang tak terlibat secara langsung dalam pembunuhan Julius Caesar pada 15 Maret (The Ides Of March) 44 SM. Tetapi ia melihatnya sebagai peluang bagi Republik Roma untuk bangkit dari keterpurukan, namun apa yang dilakukan Mark Antony kemudian seorang teman dekat Caesar sekaligus koleganya di kekonsulatan tahun itu segera membuat Cicero khawatir bahwa Roma hanya akan mengganti satu tiran dengan tiran lain. Cicero menemouh langkah perjuangangannya terakhir dan berangkali paling berani: ia berhasil menyatukan rakyat dan senat Roma melalui rangkaian pidato yang disebutnya Philippics sebuah judul yang dibuat mirip dengan judul pidato orator Yunani Demosthenes, yang disampaikan 300 tahun sebelumnya di hadapan Raja Philip II dari Makedonia, tetapi akhirnya harapan Cicero akan pulihnya. Republic hancur ketika Ocatavian, seorang cucu keponakan dan pewaris Julius Caesar yang muda dan ambisius (yang kelak akan menjadi Kaisar Augustus) bergabung dengan Anthony dan Marcus Aemilius Lepidus dalam Triumvirat kedua. Terbentuknya Triumvirat Kedua itu segera mengakhiri gerakan oposisi untuk memegang kendali atas negara. Nama Cicero muncul paling atas dalam daftar pencarian orang, dan setelah dikejar dan tertangakp di dekat Formiae, kepala dan tangannya dipenggal dari tubuhnya oleh kaki tangan Antony dan dibawa kembali ke Roma, dipajang secara mencolok di rostra, panggung pembicara dimana Cicero kerap berdiri untuk berpidato di hadapan rakyat Roma. Warisan Cicero yang awet muncul sebagian besar dari tulisannya. Hamper 60 pidatonya kini masih ada, juga sekitar 20 karya mengenai retorika dan filsafat, dan hamper 1000 surat pribadi. Tulisan ini sejak pada zamannya telah dinilai berharga sampai zaman sekarang, dan menampilkan potret seorang Cicero dalam segala dimensinya, orator, ahli retorika, politisi, filsuf, dan patriot

 

 

 

Cara memenangkan argument

 

Asal usul pidato yang fasih dan persuasive (kodrat, seni, latihan)

 

Apa persisnya hakikat pidato yang fasih dan persuasive menjadi perdebatan sengit pada zaman kuno. Apakah retorika sungguh seni atau sekadar keterampilan, suatu bakat? Apakah hal itu membutuhkan kemampuan kodrati atau dapat dikuasai sekadar dengan melatih Teknik tertentu dan menghafal rentetan panduan dan petunjuk? Pada umumnya para teoretikus zaman kuno bicara tentang 3 serangkai persyaratan: kemamouan kodrati atau bakat bawaan, penguasaan seni berbicara sebagaimana termaktub dalam risalah retorika (disebut artes dalam Bahasa Latin), dan ketekunan menerapkan bakat serta pembinaan melalui latihan. Cicero dalam karyanya yang terbit paling awal, De Inventione atau On Invention yang ditulis ketika ia berusia sekitar 17 tahun, menawarkan sebuah penjelasan tentang asal – usul kefasihan berbicara. Bila kita hendak menimbang asal – usul apa yang disebut kefasihan. Entah itu sebagai seni atau pembelajaran atau semacam keterampilan atau kemampuan atas dasar kodrat kita akan menemukan bahwa kefasihan itu muncul dari hal paling luhur dan akan terus berkemnbang dengan kehendak baik. Ada sebuah masa ketika manusia berkelana kemanapun, seperti binatang buas dan bertahan hidup dengan makanan yang tak dimasak, system agama atau kewajiaban social yang rasional belum dipraktikkan, tak seorang pun mendapati perkawinan yang sah, taka da pula yang tahu yang manakah anaknya sendiri, mereka juga tak mengerti apa manfaat yang mungkin diperoleh dari adanya hukum yang wajar. Jadi, karena kesalahan lain dan ketidaktahuan mereka sendiri, nafsu buta dan gegabah mengendalikan mereka, dan demi memenuhinya, nafsu itu menyelewengkan kekuatan jasmani, kemampuan paling berbahaya dari kaum budak

 

Pada saat itu seorang manusia yang tentu agung dan bijak mulai mengenali potensi bawaan dan peluang tak terbatas untuk berkembang yang berdiam dalam jiwa manusia kalau saja seseorang dapat mengeluarkannya dan memajukannya melalui petunjuk. Secara sistematis ia mengumpulkan orang di satu tempat, mereka yang terpencar dimanapun dan hidup tersembunyi di tempat perlindungan kawasan hutan di kumpulkannya, diperkenalkannya pada cita yang bermanfaat dan terhormat. Pertama merupakan hal baru, menolak keras, tetapi kemudian seiring mereka mulai mendengarkan dengan lebih sungguh, mengubah mereka melalui akal dan pidato, dari makhluk buad, liar, menjadi orang yang jinak dan ramah. Sekurangnya, tak mungkin kebijaksanaan belaka, tanpa kemampuan berbicara, akan segera mampu memalingkan orang dari cara hidup yang padanya mereka telah terbiasa dan membawa mereka menuju cara hidup yang lain. Terlebih kalau kota berdiri, bagaimana orang akan memiliki rasa percaya dan menegakkan keadilan, dan terbiasa menaati orang lain dengan sukarela, dan yakin bahwa mereka harus bersedia bukan hanya melakukan tugas besar demi kebaikan bersama, melainkan juga bahkan mengorbankan hidup, kecuali bahwa orang lain mampu mempengaruhi dengan kefasihan dalam perkara itu, melalui akal. Tak seorang pun yang kuat secara fisik akan dengan sukarela, tanpa dipaksa dengan kekerasan, tunduk pada hukum, membiarkan dirinya ditempatkan sederajat dengan mereka yang dapat dikalahkan. Orang seperti itu tak akan tersedia dengan sukarela meninggalkan adat kebiasaan yang nyaman, khususnya adat kebiasaan seiring waktu telah menjadi seperti hukum, alam, kecuali berhasil digerakkan oleh pidato yang bertenaga dan persuasif. Jadi kiranya, dari situ kefasihan berbicara mula berasal, akan berkembang seiring waktu, dan demikian seterusnya dalam perkara paling penting seperti perdamaian dan perang, dan terjalin erat dengan kepentingan tertinggi umat manusia (De Inventione 1-2-3)

 

Sekitar 30 tahun kemudian, Ciceor menulis De Orantore (On The Ideal Orator) sebuah risalah cemerlang dimana menggambarkan pembicara ideal menurut versinya. Karya itu disusun sebagai dialog antara beberapa orator terkemuka dari generasi sebelum Cicero, dan karakter utama dalam dialog itu adalah Lucius Crassus dan Marcus Antonius, mentor Cicero pada masa kecil dan orator terbesar Roma pada zaman itu. Dalam teks asal – usul, kefasihan yang sama, mengagungkan kemampuan berbicara/berpidato sebagai salah satu bakat manusia yang paling kuat dan bermanfaat dan mendorong anak didiknya untuk menguasai seni kefasihan berbicara:

 

Sesungguhnya tak ada yang pantas dipuji daripada kemampuan mempengaruhi pikiran manusia melalui tuturan/pidato, memenangkan kecenderungan, menggerakan kehendak mereka ke arah tertentu dan menjauhkan dari arah yang lain. Kemampuan ini, lebih dari yang lain, yang telah selalu berkembang. Selalu dijunjung tinggi pada setiap bangsa yang bebas dan khususnya pada masyarakat yang tenang dan damai, apa yang lebih mengagumkan daripada seorang manusia yang muncul dari kerumunan sendirian atau bersama beberapa yang lain lalu salah mendayagunakan kemampuan yang sejatinya juga merupakan anugerah alamiah bagi semua, atau adakah yang lebih menyenangkan bagi akal budi dan telinga daripada pidato yang terhormat dan penuh dengan pemikiran bijak dan kata mengesankan. Atau duduk lebih kuasa dan hebat daripada pidato seseorang yang mampu mengubah gerak hati orang banyak, keraguan pada juri atau otoritas. Senat. Adakah yang lebih megah, lebih murah hati, lebih berjiwa beasar, daripada memberi bantuan kepada mereka yang sedang sengsara, membangkitkan mereka yang menderita, membawa rasa aman kepada orang lain, membebaskannya dari marabahaya, menyelamatkan mereka dari pengasingan, pada saat yang sama adakah lebih penting daripada selalu memiliki senjata yang siap digunakan, dengan dapat melindungi diri sendiri dan melawan orang jahat atau membalas ketika diserang,  tetapi sungguh mari jangan terpaku pada forum, pada kursi pengadilan, panggung (rostra) dan Gedung Senat: di waktu yang santai, apa  yang lebih menyenangkan atau lebih sesuai dengan kodrat manusia daripada terlihat dalam percakapan yang elegan dan memperlihatkan diri dikenal oleh banyak orang, sebab satu hal yang secara khusus menempatkan di atas binatang adalah bahwa kita bercakap satu sama lain, dan bahwa dapat mengungkapkan pikiran melalui tuturan. Jadi siapa yang tak hendak mengagumi kemampuan ini, dan tak hendak bersusah payah untuk melampui orang lain dalam kemampuan ini, kemampuan yang menjadikan manusia memiliki derajat di atas binatang ini, tetapi sekarang beralih ke pokok yang terpenting daya apa yang dapat mengumpulkan umat manusia yang terpencar ke satu tempat, atau daya apa yang dapat menjadikan mereka dari cara hidup liar di rimba belantara menuju cara hidup bersama yang sungguh manusiawi atau kalau masyarakat sudah terbentuk, daya apa yang dapat membangun hukum, prosedur yudisial,  dan hak kewargaan, dan untuk tak menyebut pokok lain satu per satu (sesungguhnya pokok itu tak terhitung, izinkan merangkum semuanya dalam beberapa kata, kutegaskan bahwa kemimpinan  dan kebijaksanaan orator yang sempurna adalah batu penjuru, bukan hanya bagi martabatnya sendiri, melainkan juga bagi keamanan banyak orang dari Negara secara umum, jadi anak muda, lanjutkan daya upaya saat ini dan buktikan seluruh tenaga kepada cita yang diyakini, sehingga dapat membawa kehormatan bagi diri sendiri, pelayanan bagi sahabat dan manfaat bagi Negara (De Oratore L 30 – 34) Cicero sementara jelas sangat sadar dan tau banyak tentang panduan yang termuat dalam risalah retorika tipikal zamannya, bersikap sangat kritis terhadap pembelajaran yang sekadar berdasarkan buku pegangan. Dalam De Oratore (On The Ideal Orator) ia bahkan terus mengkritik pedoman basi dari buku pegangan, buku barangkali memang menjadikan hal mendasar, tetapi orator idela haruslah, di samping memahami panduan retorika, memiliki pengetahuan luas tentang segala hal ihwal humaniora, termasuk sejarah, sastra, hukum dan filsafat. Pengetahuan seperti itu diiringi kemampuan kodrati, pembelajaraan, dan latihan yang tekun, amatlah penting untuk memenangkan suatu argumen. Ada jenis ilmu yang menyelidiki apa yang efektif dalam tuturan, tetapi kalau hal ini dapat membuat orang menjadi fasih berbicara, setiap orang akan menjadi fasih  berbicara. Sebab siapakah yang tak akan mampu menguasainya dengan mudah, atau sekurangnya dengan satu atau lain cara, tetapi dalam pandangan, panduan seperti itu manjur dan bermanfaat, bukan karena keterampilan itu dapat menuntun menemukan apa yang akan dikatakan, melainkan karena setelah mempelajari pokok acuan yang pantas, panduan itu dapat meyakinkan tentang kekuatan atau memampukan melihat kelemahan apa saja yang dicapai dengan kemampuan kodrati sendiri, pembelajaran, atau pembinaan (De Orantore 2.2232)

 

Retorika dan kebenaran. Kekuatan yang digunakan oleh seorang pembicara ulang, yang tau bagaimana membujuk dengan pidato cerdik dan memikat emosi manusia, seperti telah diuraikan, sebuah senjata penuh daya. Sesungguhnya senjata pedang bermata dua, yang dapat digunakan entah untuk tujuan yang baik maupun buruk. Untuk memperoleh gambaran yang hidup tentang pokok ini, kita melihat dua orator yang luar biasa efektif pada abad ke 20, yang terlibat dalam konflik yang sama: Winston Churchill dan Hitler. Dalam konteks tak sulit memahami mengapa retorika pada zaman ini membawa konolasi negatif. Di Yunani Kuni, setelah diciptakan sistem retorika yang sebagian besar di dasarkan pada prinsip argumentasi berbasis probabilitas, muncullah para guru retorika. Mereka menolak hal ideal yang di dasarkan pada pertimbangan akal murni dan kebenaran mutlak dan membela hal yang mentak dan nisbi, dengan mengagungkan kekuatan kata. Kadang mereka juga berupaya membuat hal buruk menjadi baik, para filsuf seperti Sokrates dan Plato, mencari prinsip terakhir dan mutlak. Mereka memperjuangkan  kebenaran yang digali melalui penyelidikan dialektis. Dengan demikian muncul yang kerap disebut perselisihan antara retorika dan filsafat. Perselisihan itu akan terus berlanjut sampai zaman Cicero, dalam berbagai wujud dan intensitas. Paragraf awal karya Cicero, De Inventione (On Invention) mengungkap pemikirannya tentang perkara:

 

Telah sering dan banyak ha; telah direnungkan mengenai pertanyaan apakah kelancaran bertutur dan menghabiskan segenap daya upaya untuk fasih berbicara menghasilkan kebaikan atau keburukan bagi manusia dan masyarakat. Sebab ketika ditimbang, kerusakan yang terjadi pada Republik, dan ketika tinjau kembali malapetaka yang terjadi pada masyarakat kuno yang terkemuka tak sedikit kemalangan itu terjadi melalui tindakan orang yang sangat terlatih dalam berbicara. Di sisi lain, ketika mulai mencari dokumen tentang peristiwa yang karena sudah teramat kuno, telah hilang dari ingatan generasi, menemukan bahwa banyak kota telah beridir, kobaran perang telah padam, aliansi paling kuat dan persahabatan paling mulia telah terbentuk, bukan hanya melalui daya akal manusia, melainkan juga lebih mudah melalui kefasihan berbicara dan setelah lama merenungkannya, daya akal yang sama menuntun pertama dan terutama pada pendapat: kebijaksanaan tanpa kefasihan berbicara menyumbang terlalu sedikit bagi kebaikan masyarakat, tetapi kefasihan berbicara tanpa kebijaksanaan, dalam banyak peristiwa sangat berbahya dan tak pernah bermanfaat. Jadi,. Kemudian orang mencurahkan segenap tenaganya untuk latihahn berpidato dengan mengabaikan capaian tertinggi dan paling terhormat dari akal dan laku moral, ia sama artinya dibesarkan sebagai warga negara yang tak berguna bagi diri sendiri dan berbahaya bagi negara, tetapi orang yang mempersenjatai diri dengan kefasihan berbicara sedemikian rupa sehingga tak merugikan kepentingan negara, melainkan membantu, orang ini, menurut pendapatnya, akan menjadi warga negara paling bermanfaat dan berbakti, baik bagi kepentingan sendiri meski kepentingan publik (Cicero, De Inventione 1.1)

 

Beberapa dekade kemudian dalam karya De Oratore, Cicero akan bicara lebih rinci mengenai perselisihan antara filsafat dan retorika, dan mengupayakan rekonsiliasi atau sintesis, memadukan filsafat, bukan dengan retorika melainkan dengan kefasihan berbicara. Orator ideal versi Cicero adalah seorang filsuf yang pandai berorasi atau seorang orator yang filosofis. Meski demikian, siapapun yang akrab dengan karir kepidatoan  Cicero tau bahwa dalam beberapa kesempatan, ia membela klien yang ia ketahui bersalah. Bahkan kelak seorang guru retorika, Quintilian, melaporkan bahwa Cicero pernah berbangga bahwa dalam pembelaan atau klien bernama Cluentius, ia mengelabui pikiran hakim. Ketika memberi nasihat kepada putranya menjelang akhir hayat. Cicero mengatakan sesuatu tentang pembelaan kepada para klien yang bersalah, tampaknya, gagasan zaman ini bahwa setiap terdakwa hendak atas proses persidangan yang adil sedikit banyak memiliki dasar pada cara berpikir Cicero:

 

Panduan tentang kewajiban moral harus dipertahankan dengan sungguh di pengadilan, jangan pernah mengajukan hukuman mati atas orang tak bersalah, sungguh jika orang melakukannya, ia sendiri seorang kriminal. Sebab apakah yang lebih tidak manusiawi daripada mengubah kefasihan berbicara, sebuah anugerah yang diberikan oleh alam bagi keamanan dan keselamatan sesama kita manusia, menjadi penghancuran dan penjatuhan terhadap orang baik. Meski sementara praktik ini harus dihidari kita tak perlu merasa bersalah kalau membela orang bersalah, asalkan tak terllau jahat, orang menginginkannya, adat mendukungnya: rasa kemanusiaan menerimanya, dalam kasus di pengadilan adalah tugas hakim untuk selalu mencari kebenaran, kadang, kewajiban advokat untuk membela apa yang prinsip kebenaran, lebih rendah dari kebenaran (De officiis 2.51)

 

Bagian retorika atau langkah persiapan si orator

 

Orang zaman kuno yang mengajar dan menulis tentang seni persuasi biasanya mengindentifikasi 3 genre orasi, atau tipe kasus: yudisial, yang cocok untuk mencari keadilan di persidangan, deliberatif yang tujuannya beragumen tentang apa yang paling bermanfaat atau menguntungkan dalam sebuah rapat umum atau di hadapan sebuah majelis, dan epideiktik atau demonstratif, pidato pujian atau mempersalahkan gambaran palin gbaik mungkin orasi pemakaman atau eulogi. Buku pegangan cenderung memusatkan perhatian pada genre yudisial, sebab genre itulah yang berangkali paling krusial dan paling cocok untuk disusun sistematis. Para teoretikus zaman kuno menyusun paparan mereka dalam 5 bagian, atau langkah persiapan si orator: penemuan (menggali, yakni memikirkan bahan), penyusunan (menanta ururtan bahan), gaya (mengemas bahan yang telah disusun ke dalam kata pantas), ingatan (menghafal pidato), dan penyampaian (di dalamnya termasuk arahan tentang suara, ekspresi wajah, dan gerak tubuh) bagian atau langkah sejajar dengan proses yang dilalui seorang pembicara ketika menyusun dan menyampaikan sebuah pidato. Panduan mengarang dalam Inggris, bahkan di zaman modern masih mempertahankan langkah ini, sekurangnya 3 langkah pertama, orang yang kini menyusun sebuah pidato untuk suatu argume rinci akan mendapati bahwa langkah ini masih merupakan sarana yang efektif untuk menata dan menyaikan pokok pikirannya

 

Penemuan mengindentifikasi dan mengelompokkan pokok persoalan menurut pendirian argume, menggali sumber pembuktian

 

Langkah penemuan dalam bahasa Latin inventio memusatkan perhatian pada mencari dan memikirkan isi pidato, proses ini terutama dan memikirkan isi pidato, proses ini  terutama menyangkut indentifikasi dan pengelompokkan pokok persoalan menurut pendirian argumen yang spesifik, juga menggali sumber pembuktian yang menjajikan untuk membujuk audiens

 

Status (penderitian argumen)

 

Dalam sebuah kontrover hukum, dakwaan dari pihak penuntut dan klaim balik dari pihak pembela membentuk pokok persoalan, yakni masalah yang diperkarakan, yang pada gilirannya dikelompokkan ke dalam salah satu dari 4 pendirian argumen (dalam bahasa Latin, status atau constitution) dengan kata lain, pendirian yang diandaikan oleh pihak pembela, Cicero secara ringkas menggambarkan sistem ini dalam De inventione 1:10

 

Segala sesuatu yang di dalamnya memuat kontorversi, yang dibahasa dalam pidato dan debat, melibatkan pertanyaan tentang fakta, debat, melibatkan pertanyaan tentang fakta, atau tentang definisi, atau tentang hakikat atau sifat suatu tindakan, atau tentang proses hukum, karena itu, pertanyaan yang darinya semua perkara muncul disebut status, atau pokok perkara. Pokok perkara ini konflik pertama mengenai jawaban terdakwa yang muncul dari sanggahan terhadap tuduhan, dalam bentuk: kamu melakukan, aku tidak melakukan. Bila perdebatan mengenai fakta, pokok perkara bersifat dugaan, sebab jawaban terdakwa di dukung oleh dugaan atau proses penyimpulan misalnya kamu melakukannya: aku tidak. Tetapi, bila pokok perkara menyangkut definisi pokok perkara itu bersifat definisional, sebab makna istilah yang bersangkutan harus dijelaskan dalam kata (misal, kamu melakukannya: ya tetapi bukan pencurian). Bila yang diperiksa adalah hakikat atau sifat suatu tindakan, pokok perkara bersifat kualitatif, mengingat kontroversi menyangkut nilai suatu tindakan dan jenis atau sifatnya misal kamu melakukannya, ya tetapi aku tidak bermaksud, atau aku tak punya pilihan. Tetapi bila jawaban terdakwa tergantung pada keadaan, dimana kasusnya tampaknya dibawa oleh orang yang keliru, atau bahwa ia yang membawa adalah orang benar, tetapi ke hadapan orang keliru, atau  di hadapan pengadilan yang keliru, atau pada waktu yang keliru, di bawah UU yang keliru, atau atas tuduhan yang keliru, atau hukuman yang keliru, pokok perkara bersifat pengalihan, sebab tindakan yang bersangkutan tampaknya memerlukan pengalihan ke pengadilan lain atau perubahan dalam hal bentuk pembelaan, salah satu dari pokok perkata niscaya dapat di terapkan dalam setiap jenis kasus, sebab kalau tidak tak mungkin ada kontroversi

 

Sumber pembuktian. 300 tahun sebelum zaman Cicero, filsuf Yunani Aristoteles dalam buku pegangan karangannya, On Rhetoric, mengindentifikasi dua macam sarana persuasi yang dapat digunaakn untuk memenangkan perkara atau argumen. Ia menyebutnya pembuktian tanpa keterampilan (non arsistic proof) dan pembuktian dengan keterampilan (artistic proof). Pembuktian tanpa keterampilan adalah pembuktian yang dilakukan oleh si pembicara tanpa menggunakan keterampilannya, misal perjanjian tertulis dan pernyataan para saksi, sedangkan sarana persuasi dengan keterampilan, dimana pembicara melakukannya dengan memanfaatkan keterampilannya, terbagi menjadi 3: logos (argumentasi rasional), ethos (penyajian karakter), dan pathos (menggugah emosi audiens). Cicero mengadopsi skema Aristotelian ini, sebagaimana tercermin dalam ucapan Autonus salah satu tokoh utama dalam De Oratorem ketika ia menggambarkan pendekatannya dalam menggarap tahap awal langkah penemuan:

 

Dengan demikia, setelah menerima suatu kasus dan mengenali jenisnya, hal pertama yang dilakukan ketika mulai menangani perkara adalah menetapkan titik  acuan untuk seluruh bagian pidato yang secara khusus memusatkan perhatian pada penilaian atas pokok perkara sendiri yakni status. Setelahnya menimbang dengan sangat hati – hati dua unsur lanjutan: yang pertama dukungan kepada pihak kita atau mereka yang kita belam yang kedua terarah pada menggerakan pikiran audiens ke arah yang diinginkan. Jadi metode yang digunakan dalam seni berpidato seluruhnya berdasar pada 3 sarana persuasi: membuktikkan bahwa pendapat kita benar yakni logos, memenangkan audiens yakni ethos, dan membujuk pikiran mereka untuk merasakan dari kasus yang bersangkutan yakni pathos, sekarang untuk tujuan pembuktian, si orator punya 2 macam bahan yang dapat digunakan, pertama hal yang bukan berasal dari pikiran si orator tetapi melekat pada persoalan kasus yang bersangkutan, dan si orator menyusunnya sedemikiran rupa sehingga tertata dengan baik. Hal itu misalnya dokumen, kesaksian, kesepakatan, bukti yang diperoleh dari penyiksaan, hukum, dekrit Senat, preseden hukum, keputusan hakim, opini hukum, dan apa saja yang tak ditemukan oleh si orator sendiri, tetapi tersajikan di hadapannya oleh karena kasus itu sendiri dan pihak terlibat, kedua, hal yang seluruhnya tergantung pada penalaran dan argumentasi si orator. Jadi, ketika menangani bahan jenis pertama,  orang harus memikirkan bagaimana memperlakukan argumen: sedangkan yang kedua adalah soal menemukan argumen (De Orantore 2.114 – 17)

 

Apa yang biasa disebut sarana persuasi dengan keterampilan, yakni sarana yang dipikirkan atau diciptakan oleh si pembicara, kerap menggunakan patron argumen (topics), atau pola umum (commonplaces). (Loci Communes dalam bahasa Latin) pola umum atau strategi logika stereotip atau premis yang terakhir ini kerap digunakan dalam konteks etika atau politik yang diatasnya seorang pembicara dapat membangun argumen logisnya atau daya tarik karakter dan emosi yang dikehendakinya

 

Gagasan yang kini sedang mulai dirangkainya, demikian Antonius menuntun pada kesimpulan (mengingat bahwa segala hal yang dipersoalkan, tergantung bukan pada masing pribadi yang sangat banyak jumlahnya atau berbagai peristiwa yang tak habisnya, melainkan pada kasus umum dan pada sifat kategori yang terkait, dan terlebih bahwa kategori ini bukan berjumlah terbatas, melainkan juga bahkan sangat sedikit, mereka yang berminat mengasah diri dalam seni berpidato harus menguasai bahan yang terkait dengan setiap kategori, yang ditandai diperlengkapi, dan dibedakan menurut semua pola umum, yakni menurut materi dan gagasannya. Pola umum dengan sendirinya akan menghasilkan kata yang menurutnya, dalam konteks apapun, cukup terhormat kalau kata itu muncul sedemikian rupa dari materi itu sediri, dan kalau mau tau kebenaran, sekurangnya sebagaimana dia melihatnya sebab tak  dapat menegaskan apapun kecuali pandangan dan pendapatnya sendiri tentang perkara ini, harus membawa perlengkapan berisi kasus umum dan abstrak ini ke dalam forum, sebab tak boleh mencari pola umum yang darinya argumen dapat diungkap, begitu sebuah kasus dipercayakan kepada kita, tentu setiap orang hanya memberi pertimbangan secukupnya akan memahami argumen seperti itu secara rinci melalui penerapan dan pengalaman, pada saat yang sama, pikiran harsu terarah kembali pada sumber dan pola umum, seperti telah disebut, yang darinya mengalir segala sesuatu yang dapat digali dan ditemukan untuk segala pidato. Sesungguhnya, segalanya mengerucut ke sini (entah apakah soalnya menyangkut keterampilan atau penyelidikan atau pengalaman): memahami wilayah dimana harus berburu, dan melacak apa yang dicari. Begitu berhasil mengepung seluruh wilayah dengan jejaring pikiran, sekurangnya jika pengalaman praktik telah mengasah keterampilan tak satu pun akan luput darinya dan segala sesuatu tentang perkara akan kembali dan jatuh ke dalam kuasa (De Orantore 2. 145 – 47)

 

Logos (argumentasi rasional). Argumentasi rasional memiliki fondasi pada dua proses dasar, induksi dan deduksi. Para pembicara zaman ini masih mengandalkan senjata logika ini untuk menenangkan argumen: induksi dengan menggunakan contoh dan deduksi dengan penalaran silogistik. Contoh atau analogis, boleh bersifat fiktif atau berdasarkan sejarah, dan darinya dapat beragumen dengan menarik sebuah kesimpulan yang mungkin tentang pokok yang dipersoalkanm kemudian menawarkan suatu penerapan umum atau universal yang ditarik dari contoh spesifik yang bersangkutan. Argumen semacam itu pada umumnya memiliki 3 unsur: pertama, menyajikan satu kasus atau lebih yang mirip, kedua, menyajikan satu kasus atau lebih yang mirip, kedua menyatakan poin ingin  diyakinkan, yang mengacu pada kasus yang mirip tadi, dan ketiga, menarik kesimpulan yang menegaskan poin keyakinan atau menunjukkan dampak apa yang mengikuti sebuah silogisme memilki bentuk dasar berupa premis mayor, premis minor, dan kesimpulan, misal semua manusa dapat mati, Cicero adalah manusia jadi Cicero dapat mati, dalam pidato dan argumen lisan, pembicara kerap mengandalkan premis yang sekadar kemungkinan dan tak pasti, dan kadang bahkan menghilangkan premis minor, dan dengan demikian silogismenya menjadi: Cicero dapat mati, karena semua manusia dapat mati. Silogisme seperti ini disebut sebagai silogisme retoris, juga dikenal dengan istilah enthymeme, dalam bentuknya yang paling panjang, yang terdiri dari 5 unsur dan disebut sebagai epicheireme, premis mayor dan minor dalam sebuah silogisme didukung dengan argumen lebih lanjut, kemudian kesimpulan di tarik. Sebuah argumen jenaka yang menggambarkan induksi (yakni menggunakan contoh atau analogi) di paparkan oleh Cicero dalam De Inventione (1.51 – 52) dalam tulisan Aeschines Socraticus, Sokrates menunjukkan sebuah argumen yang dikisahkan diajukan oleh Aspasia kepada Xenophon dan istrinya, jika suami dan istri ini menginginkan pasangan terbaik. Afirmasi diberikan pada pernyataaan tak diperdebatkan bahkan poin yang tampak masih meragukan, ketika ditanyakan melalui analogi di terima sebagai benar, berkat metode yang digunakan dalam menanyakannya

 

Dalam teks berikut (De Inventione 1.58 -59): Cicero menggambarkan penalaran deduktif dalam uraiannya tentang epicheireme, silogisme panjang, yang terdiri atas 5 bagian, tetapi perhatikan bahwa dalam membuktikkan premis mayor di sini, induksi yakni penggunaan contoh juga dimanfaatkan: mereka yang berpendapat bahwa suatu silogisme harus diargumentasikan dalam 5 bagian mengatakan bagian pertama menyatakan tesis argumen dengan cara ini: hal yang dilakukan dengan perencanaan, lebih baik daripada yang dilaksanakan tanpa rencana. Mereka menempatkannya sebagai bagian pertama dan mereka percaya bahwa itu harus diperkuat dengan berbagai alasan dan dengan ekspresi meluap. Ketika proposisi telah dibuktikan dengan cara demikian dan dua bagian silogisme telah selesai, harus menyatakan yang hendak ditunjukkan di bagian ketiga yakni premis minor, bersumber dari gagasan dalam premis mayor, seperti dari segala sesuatu tak ada yang lebih teratur daripada alam semesta. Dalam bagian ke 4, mereka mengemukakan bukti lain untuk mendukung premis ini: sebab kemunculan dan keteraturan konstelasi bintang mempertahankan tatanan yang pasti, dan perubahan musim setiap tahun berlangsung buka hanya dengan cara yang selalu sama, melainkan juga selaras demi kemaslahatan seluruh alam, dan pergantian siang dan malam, dalam saat perubahannya sama sekali tak pernah membahayakan apapun, sekali tak pernah membahayakan apapun. Semua poin ini adalah bukti bahwa hakikat alam semesta diatur oleh semacam rancangan luar biasa, dalam bagian ke 5, mereka menarik kesimpulan yang sekadar mengeksplisitkan deduksi yang tak terelakkan dari semua bagian sebelumnya, seperti ini: jadi alam semesta dikelola dengan suatu rancangan, atau setelah dengan ringkas menggabungkan premis mayor dan minor dalam 1 pernyataan, mereka menambahkan konsekuensi darinya, seperti ini jadi kalau hal yang dikelola dengan perencanaan terkelola dengan lebih baik daripada hal yang dikelola tanpa perencanaan, dan dari segala sesuatu tak satu pun yang dikelola dengan lebih baik daripada alam semesta, maka alam semesta  dikelola dengan suatu rancangan, menurut mereka, argumen ke 5 bagian itu terstruktur dengan cara demikian

 

Ethos (argumen berdasarkan karakter): cara atau sumber pembuktian kedua adalah ethos, atau karakter, yakni persuasi melalui presentasi yang efektif berdasarkan karakter si pembicara, atau karakter orang yang dibelanya, tujuannya adalah memenangkan persetujuan dan memperoleh kekaguman dari audiens, yang pada akhirnya membuat lebih simpatik pada argumen, penggambaran karakter negatif atas lawan juga merupakan cara efektif untuk membantu pendengar berpihak pada sudut pandang. Dalam teks dari De Orantore (On The Ideal Orator 2.182 – 84). Cicero memaparkan efektivitas persuasi yan gmungkin di capai melalui penggambaran karakter: demikian karakter, adat kebiasaan, perbuatan, dan kehidupan, baik dari mereka yang melakukan pembelaan maupun mereka yang dibelanya, memberi kontribusi sangat penting untuk memenangkan sebuah kasus, hal ini harus diakui dan unsur terkait dalam pihak lawan harus ditolak. Sejauh mungkin, pikiran audiens harus dimenangkan: mereka harus merasa positif terhadap si orator dan kliennya. Pikiran orang dapat dimenangkan dengan prestise seseorang, prestasi, dan reputasi yang diperolehnya dengan cara hidupnya. Tetapi dalam kondisi apapun, efeknya akan bertambah melalui nada suara yang ramah dari pihak si orator, ekspresi wajah yang mengisyaratkan pengendalian diri dan sopan santun dalam penggunaan katanya, dan jika terpaksa dapat menekankan beberapa poin dengan agak berapi, seraya bertingkah pura – pura melawan kecenderungan, tanda sifat luwes dari pihak si orator dan klien juga cukup berguna, sama halmya seperti tanda sifat murah hati, lembut hati, kesetiaan pada kewajiban, sifat tau terima kasih, dan tak penuh nafsu atau keserakahan sesungguhnya segala sifat yang tipikal pada orang baik dan tak suka menonjolkan diri yang tidak kaku, yang tidak keras kepala, tidak suka membuat perkara, tidak kasar, sungguh dapat memenangkan simpati dan mengalihkan audiens dari mereka yang tidak memiliki sifat itu. Demikian, pertimbangan yang sama harus didayagunakan untuk menempelkan sifat yang berkebalikan pada lawan kita. Tetapi cara berbicara seperti ini efektif dalam kasus dimana tak banyak kesempatan untuk menggugah emosi tajam dan sengit demi membakar hati juri. Tidak harus berapi – api. Kerap kali justru berbicara dengan tenang, kalem, dan lembut, hal ini efektif terutama untuk membuat pihak tertentu menjadi tampak menarik bagi audiens. Dengan pihak tertentu bukan hanya yang tertuduh, melainkan semua saja yang kepentingannya sedang dipertaruhkan sebab kata itu dipakai pada zaman dulu. Menggambarkan karakter mereka dalam pidato sangat berpengaruh. Jika ditangani denga serasi dan cita rasa tinggi, ia akan sangat berdaya entah ketika disampaikan dalam prolog atau ketika menceritakan fakta atau ketika menyimpulkan pidato sehingga kerap kali lebih berpengaruh daripada kasuss itu sendiri. Banyak hal telah berhasil ditangani dengan berbicara cermat dan cita rasa terentu, sedemikian sehingga pidato dikatakan membentuk citra karakter si orator, mendayagunakan pemikiran dan kata tertentu, juga disamping itu memanfaatkan cara penyampaian yang lembut dan memperlihatkan keluwesan, membuat pembicara tampak sebagai orang baik – baik, sebagai orang yang bersifat mulia, sebagai orang terpuji

 

Dalam kebanyak kasus, persuasi melalui ethos disajikan secara halus dan dalam keseluruhan pidato (Cicero mengibaratkannya seperti darah yang mengaliri tubuh), lalu pada akhir pidato atau argumen, ditariklah gambaran tertentu bagi pendengar, baik tentang si pembicara maupun lawannya, dan kerap pula tentang orang lain yang berkaitan dengan argumen atau kasus yang di persoalkan. Misalnya dalam pembelaannya terhadap Roscius dari America pada 80 SM yang menghadapi tudukan dari kejahatan keji yakni membunuh ayahnya sendiri, Cicero berulang kali dan secara konsisten menggambarkan kliennya sebagai seorang petani biasa dan bersahaja, yang karakternya tak mungkin memicu pikiran ke arah kejahatan mengerikan seperti membunuh orang tua, di sisi lain musuh Roscius, dirongrong oleh sifatnya yang meluap dan terdorong oleh kerakusan, serta kelancangannya sanggup melakukan hal biadab, seperti ditunjukannya dalam teks pendek di tengah pidato ini:

 

Dalam hal ini, mungkin melewatkan apa yang barangkali merupakan argumen yang sangat kuat untuk mempertahankan bahwa Roscius tidak bersalah fakta bahwa kejahatan semacam ini pada umumnya tidak muncul di lingkungan perdesaan, pada cara hidup yang bersahaja, suatu hidup yang apa adanya dan polos. Sebagaimana tak akan menemukan sembarang tanaman atau sembarang lahan, demikian tak sembarang cara hidup. Cara hidup di kota membiakkan sifat boros, dan dari sifat boros niscaya berkembanglah keserakahan, dan dari keserakahan menyuaraklah sifat lancang yang darinya lahir segala kejahatan dan perbuatan buruk, di sisi lain, cara hidup pedesaan seperti ini, adalah guru dari sifat hemat, ketekunan, dan keadilan (Pro Roscio Amerino 75). Penggunaan cara pembuktian berdasarkan karakter yang lebih terang – terangan dapat ditemukan dalam sepenggal pidato yang  berasal dari masa ketika Cicero menjabat sebagai konsul pada 63 SM. Menjelang akhir tahun jabatannya, Cicero membongkar suatu rencana untuk menggulingkan pemerintah yang di dalangi oleh Catiline, seorang keturunan bangsawan, tetapi kemudian menjadi senator yang sangat ambisius, dan culas yang sekaligus merupakan salah satu pesaing Cicero menuju jabatan konsul pada tahun sebelumnya, setelah melaporkan Catiline dalam sebuah rapat Senat, Cicero berbicara kepada rakyat Roma di sebuah forum publik, menyajikan kepada mereka fakta di sekitar dan konspirasi, dalam pidato ini, ia menggunaakn argumen berdasarkan karakter secara terang – terangan dan tak tanggung, sebab berupaya membuat perbandingan mencolok antara dirinya sendiri serta warga negara Roma yang setia dan Catiline serta para pengikutnya yang busuk moralnya. Seperti tampak jelas dalam teks (In Catilinam 2.22-25) tak ada kehalusan bermain, melainkan sesuatu yang lebih mirip dengan pembunuhan karakter. Juga pantas dicatat bahwa serangan adhominem dan pembuktian berdasarkan karakter, yang di ruang persidangan sekarang lebih kerap di larang, pada zaman Romawi bukan hanya diizinkan, melainkan juga bahkan ditunggu

Golongan Cateline, orang yang dipilihnya sendiri, atau berkembang dari orang terdekat. Golongan kalangan orang yang melakukan hal tidak benar. Kalau mereka tidak binasa, ketahuilah, Republik akan tetap menjadi lahan perkembangbiakan bagi orang seperti ini, meski telah binasa. Lagipula apa yang diinginkan oleh para bedebah seperti itu. Segerakanlah untuk menyerang orang Catiline dan memperjuangkan sikap tau diri

 

Pathos (argumen berdasarkan tarikan emosi). Sumber pembuktian ketiga adalah pathos, atau persuasi yang dimenangkan dengan menarik emosi audiens. Tujuan pembicara mengayun atau menggerakan (movere dalam bahasa Latin) perasaan para pendengar sedemikian rupa sehingga mereka secara emosional akan memihak padanya, menarik emosi adalah sebuah taktik yang sama tuanya dengan seni pidato itu sendiri, orang Yunani dan Romawi mendayagunakan baik daya tarikn verbal maupun non verbal.  Sokrates, dalam pembelaan yang disebut Apologu, menegaskan bahwa ia tak hendak memanfaatkan tarikan emosi, Cicero sadar akan besarnya kekuatan argumen berdasarkan tarikan emosi, bahkan kerap menyebutnya sarana persuasi yang paling efektif baginya ethos melibatkan pengetahuan dan eksploitasi atas emosi halus, sedangkan pathos berkenaan dengan emosi yang lebih kasar. Dalam De Oratore (2.183.87) Anthonius sebagai mitrawicara melanjutkan deskripsi mengenai pathos:

Yang terkait dengan hal ini yakni ethos kendati pada tingkatan berbeda adalah cara berbicara yang lain, yang mengaduk hati para juri dengan cara yang agak berbeda, yang mendorong mereka untuk membenci atau mengasihu, untuk iri dengki terhadap seseorang atau memperjuangkan keselamatannya, untuk takut atau berharap, untuk takut atau berharap, untuk mau membantu atau enggan, untuk merasakan sukacita atau nestapa, untuk mengasihani atau merasa ingin menghukum, atau dibawa pada perasaan apapun yang dekat dan mirip dengan emosi lain semacamnya, tentu situasi paling ideal  bagi orator adalah ketika para juri sendiri menghadapi kasus dalam kondisi emosi tertentu, yang cocok dengan kepentingan si orator sendiri, sebab seperti kata pepatah, lebih mudah memacu kuda bergairah daripada menggugah kuda yang lesu, tetapi bila tidak demikian halnya atau kalau situasinya tidak jelas, akan menggunakan metode seperti seorang dokter yang tekun, hal ini digeakan oleh penakluk jiwa. Selanjutnya Antonius menugaskan bahwam supaya efektif dalam mengaduk emosi, si pembicara sendiri harus sungguh merasakan emosi yang hendak dibangkitkan. Lantas menggambarkan bagaimana sendiri menghayati pathos, dalam salah satu contoh lebih terkenal mengenai peragaan kelihaian:

Cicerio pernah menyimpulkan pidato untuk Manius Aquillius, mempertahankan statusnya sebagai seorang warga negara. Sebab dia pernah menjadi konsul dan jenderal bagaimana pernah dihormati oleh Senat dan mendakit Bukit Capitolium dalam perayaan ovatio. Crassus, puja dia untuk membuka pakaiannya dan membuat bekas luka tampak yakni bekas luka didapatnya ketika bertempur atas nama negara. Gaius Marius hadir di persidangan bersama para pendukungnya menambah kuat kesedihan dalam pidatonya dengan air mata (De orantore 2.194 – 96)

Cicero terkenal dengan cara menggunakan pathos secara efektif dalam pidato. Ia kerap memanfaatkan gaya berkelas, penuh emosi, untuk mengayun perasaan juri demi kepentingan klien. Dalam teks berikut diambil dari bagian kesimpulan atau penutup pembelaan terhadap sahabt. Plancius, Cicero mengerahkan seluruh daya emosi untuk memperoleh pembebasan atas klien, yang menjalani persidangan atas tuduhan menjalankan kegiatan pemilihan umum ilegal.  Beberaap tahun sebelumnya, Placius bertugas di Tesalonika, ia menawarkan perlindungan dan bantuan kepada Cicero, yang kala itu di asingkan dari Roma sebagai korban intrik politik musuh bebuyutan, Clodius. Sepanjang pidato dan terutama di bagian akhir, Cicero menyinggung pertolongan yang diberikan oleh Plancius kepadanya pada saat yang tersulit dalam hidup, dan mengaitkan situasi sulit yang kini dialami Plancius dengan situasinya sendiri ketika dalam pengasingan, yang dijanjikannya hal yang tergantung pada kebaikan hati orang ini, mereka berduka cita untuknya, meratap, bersedia berjuang untuk hidupnya, bahkan membahayakan hidup mereka sendiri. Sebab orang yang memberikan keselamatan bagiku juga akan mampu memberikan keselamatan bagimu. Senjtaku hanya doa, air mata, dan belas kasih. Dan bersamaku, orang tua paling unggul tetapi malang memohon kepadamu dengan sangat, dan kami, dua ayah, membuat pembelaan atas nama 1 orang anak. Demi kamu dan keberuntungan, demi anak, mohon supaya jangan dengan sukarela memberikan sumber sukacita kepada musuh, khususnya mereka yang kurugikan demi keselamatan, sehingga mereka menggembar – gembor bahwa kamu, yang kini melupakan keselamatan, sehingga mereka bergembar – gembor bahwa yang kini melupakan keselamatan berdiri sebagai musuh orang yang olehnya keselamatan itu terjaga, jangan remukkan jiwaku dengan dukacita, juga dengan ketakutan bahwa niat baik terhadapku telah berubah, izinkan aku, berdasarkan luasnya kerahimanmu, untuk memenuhi janji yang kerap kubuat kepada klienku, berdasarkan kemurahan hati. Gaius Flavius akau minta dan mohon kepadamu sangat kamu selama aku menjabat konsul menjadi sekutu semua rencana, yang terhagi kesusahan dalam marabahaya dan penuh pertolongan dalam segala sesuatu yang kucapai dan yang selalu menghendaki bukan hanya keselamatanku, melainkan juga kehormatan dan keberhasilanku, melainkan juga kehormatan dan keberhasilan untuk membantu menyelamatkan, melalui perantaan juri orang yang melaluinya seperti kau tau, aku di selamatkan untuk melayani kamu dan mereka, air mata dan air mata kalian, para juri untuk tak menyebut air mata sendiri, membuat tak bisa lagi berkata, air mata yang ditengah besarnya ketakutan, tiba – tiba memberi harapan bahwa kamu dengan menyelamatkan klien, akan memperlihatkan kedudukan yang sama dengan menyelamatkan aku, sebab melihat air mata sekarang mengingatkanku pada air mata yang telah sering banyak kau tumpahkan

Penyusunan. Penyusunan adalah bagian kedua dari retorika, atau langkah persiapan kedua bagi pembicara, setelah diperlengkapi dengan materi untuk argumen atau pidato, setelah menentukan pokok perkara, dengan menjelajahi argumen pendukung yang di tarik dari sumber pembuktian, dan mengindentifikasi pola umum yang melaluinya argumen ini akan diajukan sekaranglah waktunya untuk menyusun atau menata pidato dengan rapi ke dalam bagian. Secara umu, pidato yudisial dalam bentuknya yang paling dasar memiliki empat bagian : pengantar atau prolog, narasi atau pernyataan tentang pendirian dalam kasus yang bersangkutan, argumen yang memuat penolakan atas argumen lawan, dan kesimpulan atau epilog. Pidato deliberatif kadang memiliki struktur berbeda. Terlebih, kadang seorang pembicara merasa perlu menambah proposisi, penyataan atau bagian argumen, atau suatu selingan, ekskursus tentang beberapa segi yang terkait dengan kasus, kerap kali mengenai karakter atau tindakan dari salah satu prinsip yang terkait. Dalam De Oratore 2.307-12, mitra wicara Cicero, Antonius, menanggapi komentar sebelumnya dari sahabatnya, Catulus, dan memberi nasihat tentang penyusunan bahan:

Jadi sekarang izinkan aku kembali pada pokok bahasan yang tadi kau agungkan, Catulus yakni urutan dan penyusunan bahan dan pola umum, prinsipnya ada dua, yang pertama melekat pada hakikat kasus, yang lain adalah soal penilaian dan kepekaan yang tajam, dari si pembicara. Bahwa harus mengatakan sesuatu sebelum membahas kasus, lalu memasuki kasus, dan setelahnya membuktikannya dengan membangun argumen sendiri dan menolak argumen lawan, lalu menyimpulkan pidato dan dengan demikian membawanya pada titik paripurnanya, ini termaktub dalam hakikat seni pidato. Tetapi menentukan bagaimana hendak menata apa yang harus dikatakan untuk memberi bukti dan mengarahkan kecenderungan para juri itulah wilayah kerja khas yang membutuhkan kepekaan tajam si orator. Sebab selalu banyak argumen bersiliweran di sekitar, yang tampaknya bermanfaat buat pidato kita, tetapi beberapa darinya kurang berbobot sehingga sebaiknya diabaikan saja. Beberapa yang lain, kendati cukup membantu, kerap kali memuat beberapa kesalahan, semantara nilai manfaat yang mungkin di dapat darinya tak selalu besar, sehingga nilai manfaat itu tercampur dengan beberapa poin yang membahayakan, tetapi berkenaan dengan argumen kuat dan bermanfaat, kalau banyak darinya masih tersisa, seperti kerap terjadi, beberapa diantaranya yang paling tidak berbobot, atau yang sama dengan agak berbobot, disingkirkan dan dihapus dari pidato. Aku ketika mengumpulkan argumen untuk kasus, tidak menyertakan atau memeriksa argumen semacam itu. Selain itu seperti telah sering kukatakan, menuntun orang menuju sudut pandang dengan 3 cara: baik dengan mengajar mereka (logos), atau dengan memenangkan simpati mereka (ethos), atau dengan mengaduk emosi mereka (pathos), salah satu dari metode ini harus ditampilkan dengan terbuka, dan harus tampil begitu rupa sehingga seakan tak punya tujuan lain selain mengajar, sementara dua yang lain harus, seperti darah dalam tubuh, mengaliri seluruh pidato, sebab amatlah penting bukan hanya prolog, melainkan juga bagian pidato yang lain, tentangnya sekarang akan mengatakan sesuatu, harus memiliki daya untuk meresap ke pikiran audiens. Berkenaan dengan 2 unsur pidato yang kendati tidak menyediakan pengajaran melalui argumen, tetap sangat berpengaruh dengan membujuk dan menggerakan, benarlah bahwa baik pengantar maupun akhir pidato adalah tempat yang secara khusus cocok untuknya meski demikian, kerap kali berguna untuk beralih dari proposi yang pertahankan demi mengaduk emosi, dengan demikian setelah pendirian dinyatakan dalam narasi, kerap kali ada ruang untuk menyelipkan selingan demi mengaduk emosi atau hal ini dapat pula dilakukan setelah argumen dibuktikkan atau setelah argumen dibuktikan atau setelah argumen lawan dipatahkan, atau pada keduanya atau pada seluruh bagian pidato, kalau ada arti penting dan substransi yang cukup untuk itu. Sesungguhnya kasus yang paling baik untuk diamplifikasi dan diberi hiasan, yang paling berbobit dan paling lengkap, persis adalah kasus yang paling banyak memuat poin untuk selingan yang memungkinkan memanfaatkan pola umum yang mendorong atau membelokkan kecenderungan emosi audiens

Pengantar atau prolog (Exordium, Latin). Exordium atau prolog sebuah pidato adalah bagian yang dirancang untuk menuntun audiens menuju situasi batin kondusif untuk menerima argumen berikutnya. Demi tujuan ini, si pembicara harus berupaya memperoleh perhatian para pendengar, menjadikan mereka reseptif dan siap menerima argumennya dan memenagkan simpati mereka. Buku pegangan kuni pada umumnya memuat deskripsi rinci mengenai taktik efektif untuk mencapai tujuan ini. Orang paling awal Cicero yang sekarang masih ada (Pro Quinction, On Behalf Of Quinctius) menampilkan contoh mengenai sebuah exordium, yang secara khusus bertujuan memperoleh simpati dan niat baik dari para pendengarnya, seraya pada saat yang sama menjauhkan dari lawannya, kasusnya cukup rumit, melibatkan perdebatan tentang hak kepemilikan harta, dalam pengantarnya, Cicero dengan efektif menggambarkan sketsa karakter yakni ethos mereka yang terlihat, Naevius, musuh yang sangat berpengaruh dan jahat, Hortensius, tuannya, seorang orator yang fasih dan mapan, Quinctius, orang miskin terdakwa yang ditindas, dan Cicero sendiri, tuan dari Quinctius yang kala itu dalam posisi sangat tidak menguntungkan dan kemampuan serta pengalamannya amat jauh bila dibandingkan dengan lawannya. Cara Cicero menggambarkan dan menarik eprhatian Gaius Aquilius, pemeriksa utama dalam untuk memperoleh simpati dari audiensnya demi mempersiapkan bagian pidato selanjutnya. Dua hal yang memegang kuasa luar biada dalam negara, daya pengaruh dan kefasihan berbicara, bertindak selau Gaius Aquilius yang membuat waswas, sementara yang kedua meliputi rasa ngeri, sampai taraf tertentu, terganggu dengan pikiran bahwa kefasihan berbicara Quintus Hortensius dapat merintangi efektivitas pembelaan dalam kasus, tetapi jauh lebih takut bahwa daya pengaruh Sextus Naevius dapat merugikan Publius Quinctius. Posisi demikian menguntungkan, yang dimiliki oleh lawan tak perlu terlalu di ratapi seandainya saja memiliki sekurangnya sedikit sajan, memiliki sekurangnya sedikit saja posisi yang juga menguntungkan, tetapi sebagaimana adanya, kurang pengalaman dan kurang berbakat, dihadapkan pada seorang advokat yang sangat terampil bicara, sementara Quinctius, dengan sumber daya yang amat sedikit, yang tak sangat terbatas, bersaing dengan seorang musuh yang berpengaruh,  kami menanggung kerugian lain, Marcus Junius yang beberapa kali bertindak selaku pembelaa dalam kasus ini di hadapanmu yang memiliki banyak pengalaman dalam kasus lain dan kerap terlibat dalam kasus, kini tak dapat hadir disini karena harus ditunjuk sebagai duta provinsi. Demikian mereka minta bantuan, seorang yang bahkan seandainya memiliki kualifikasi yang lengkap, tetap saja tak memiliki cukup waktu untuk mendalami kasus yang bersangkutan sebuah kasus yang sangat penting dan rumit, dengan banyak pokok perdebatan, kini menjadi kegagalan dalam kasus. Sebab yang tak kumiliki adalah bakat, mengandalkan ketekunan, dan besarnya nilai ketekunan ini tak akan sungguh dipandang, kecuali tersedia, cukup waktu, dan ruang. Semakin banyak kerugian di pihak, Aquilius semakin seksama pula dan rekan pemeriksa harus mendengarkan kata kami, sehingga kebenaran, yang saat ini dilemahkan oleh begitu banyak keadaan yang tidak menguntungkan pada akhirnya dapat dihiduplan kembali oleh orang terhormat yang tak memihak, tetapi jika sebagai hakim, di hadapan kekuasaan dan daya pengaruh, tampak tak sanggup menyediakan perlindungan apapun kepada keterasingan dan keadaan serba kekurangan ini, kalau dihadapan majelis, kasusnya lebih ditentukan oleh ketersediaan sumber daya daripada kebenaran, maka tentu tak ada lagi yang sakral, tak ada lagi sarana di mana otoritas dan keutamaan hakim akan dapat meghibur kerendahan hati warga negara biasa. Tak diragukan, entah kebenaran akan tegak dihadapan dan rekan pemeriksaan, atau diusir dari tempat ini oleh kuasa dan daya pengaruh, kebenaran itu tak akan mendapat tempat disini

Bahaya menimbulkan kekuatan besar dalam diri klien, mengingat bahwa seluruh nasib tergantung pada keputusan, pikiran tentang kuada sering memasuki batin, sama seringnya dengan sikap yang tak memihak, sebab begitulah biasanya mereka hidup berada dalam kuasa orang lain lebih kerap berpikir tentang apa yang bisa dilakukan oleh orang yang punya kuasa  dan otoritas atanya, daripada apa yang harus dilakukannya sendiri, kedua Publius Quinctius menghadapi lawan bernama Sextus Naevius, tetapi nyatanya lawannya adalah orang yang sangat terampil berbicara sangat pemberani, dan paling makmur di negara kita, yang membela Naevius dengan menyatukan segala kekuatan dan sumber daya yang amat besar kalau membela berarti menunduk patuh pada keinginan pihak lain supaya lebih mudah menindas siapa saja yang dia mau dengan suatu persidangan yang tidak adil, sebab apakah yang lebih tidak adil atau lebih tercela daripada kenyataan bahwa yang sedang membela hak sipil, reputasi, dan keselamatan orang lain, harus berbicara lebih dulu, Quintus Hortensius yang dalam persidangan ini bertindak selaku penuntut yang diberkati dengan bakat luar biasa dan diperlengkapi dengan kefasihan berbicar, akan berpidato untuk melawanku? Demikian terjadilah yang wajib menahan serangan musuh dan menyembuhkan luka yang diakibatkan oleh mereka, terpaksa melakukannya bahkan sebelum musuh melancarkan serangan, sementara mereka diberi waktu untuk menyiapkan serangan dan ketik daya untuk menghindari serangan gencar dari mereka direbut dari kami, dan ketika seandainya mereka melontarkan tuduhan palsu seperti panah beracun, sebagaimana mereka telah siap melakukan, tak akan ada kesempatan bagi kami untuk mengenakan penangkal yang sesuai, karena Publius Quinctius yang telah dibuat tak berdaya dan dirundung kesulitan begitu banyak dan besar, berlindung dalam kredibilitas, Aquilis dalam kejujuran dalam bela rasa dan karena sampai saat ini kekuatan musuh telah menjadikan tak mungkin menemukan keadilan yang sama atau kemampuan sama untuk menemukan majelis hakim yang tak memihak, dan karena oleh ketidakadilan yang begitu besar, segala sesuatu telah menjadi berbahaya dan tak memihak padanya, ia minta dan mohon kepada Aquilius dan para anggota majelis ini untuk membiarkan sikap tak memihak yang telah terdesak dan terhempas oleh banyak tindak ketidakadilan supaya tegak kembali dan beroleh kekuatannya kembali, sekurangnya di tempat ini (Pro P Quinction 1-8, 10)

Narasi atau pernyataan fakta (Narratio, Latin). Bagian besar kedua dari pidato adalah narasi atau penyataan fakta (narration, Latin( tentu fakta dapat menjadi sebuah istilah cair dan gagasan tentang memelintir cerita sudah setua seni berpidato itu sendiri, setiap pembicara berupaya menyatakan menurut versinya sendiri, dengan cara paling menguntungkan untuk mendukung argumen, buku pegangan retorika membertahu bahwa nerasi idela harus memiliki 3 sifat: singkat, jelas, dan punya daya pengaruh atau masuk akal. Salah satu contoh tentang narasi efektif dalam karya pidato Cicero adalah pembelaannya atas Titus Annius Clodius (Clodius yang sama dengan yang menganjurkan pengasingan Cicero), ketika kedua belah pihak bertemu di Jalan Appia (Appian Way) pada Januari tahun 52 SM. Sementara pertemuan mungkin saja terjadi secara kebetulan. Cicero bersikeras menunjukkan bahwa kliennya, Milo yang kala itu sama sekali tak menaruh curiga, tiba di sergap dengan sengaja oleh Clodus, lalu dalam perkelahian, Clodius terbunuh oleh pelayan setia Milo

Publius Clodius telah berniat mengacaukan dengan segala macam tindak kriminal selama masa jabatannya sebagai praetor, ia menyaksikan bahwa pemilihan umum tahun sebelumnya telah ditunda sehingga ia akan mampu mempertahankan jabatannya selama beberapa bulan, dan tak seperti orang lain, ia benar – benar memiliki perhatian terhadap tingginya kehormatan  dalam jabatan politik, ia halnya tertarik pada Lucius Paulus, seorang warga negara yang jasanya tiada duanya tidak pernah tipu daya seperti koleganyam dan untuk memiliki setahun penuh untuk menghancurkan negara berkeping – keping karena segera mengakihkan masa pencalonannya dari tahun seharusnya ke tahun berikutnya, bukan seperti kerap terjadi, karena keraguan religius, melainkan seperti dinyatakannya sendiri, supaya ia memiliki setahun penuh tanpa gangguan untuk menjabat sebagai praetor artinya untuk menggulingkan negara. Masa jabatan praetor lumpuh tanpa daya seadainya Milo terpilih menjadi konsul dan diamatinya Milo, berkat kesepahaman di kalangan rakyat Roma, berpeluang besar menjadi konsul. Clodius segera memberi dukungan kepada para pesaing Milo, dengan syarat bahwa hanya ia sendiri yang mengendalikan seluruh kampanye bahkan bertentangan dengan kehendak mereka, dan bahwa ia akan untuk memakai katanya sendiri, mengurus seluruh pemilihan umum dengan tangannya sendiri, ia mengumpulkan suku, memakluman diri menjadi perantara mereka, mendaftarkan suku baru Colline dengan menarik pungutan dari para warga negara yang paling royal. Tetapi hari demi hari, semakin ia berulah, semakin kuat Milo. Ketika Clodius yang kala itu sangat siap untuk melakukan segala macam kejahatan, mengetahui bahwa orang paling berani, musuh bebuyutan, terjun bertaruh untuk menjadi konsul ketika ia sadar bahwa fakta ini telah dinyatakan bukan hanya dalam desas – desus melainkan juga dalam suara yang diberikan oleh rakyat Roma, ia mulai menanganinya dengan terbuka dan menyatakan terangan bahwa Milo harus dibunuh. Dari Pegunungan Apenina ia turunkan para budak yang kasar nan barbar, mereka yang telah membumihanguskan hutan dan mengacaukan bangsa Etruria. Sebab menyatakan terangan bahwa kalau jabatan konsul tak mungkin di renggut dari Milo, sekurangnya nyawanya dapat, kerap kali hal ini Ia tunjukkan dalam Senat, ia menyatakannya dalam rapat publik. Terlebih ketika si pemberani Marcus Favonius bertanya kepadanya apa yang ia inginkan dalam emosinya, yang meluap itu selama Milo hidup, ia menjawab bahwa Milo akan mati dalam 3 atau paling lama 4 hari, setelah pernyataan segera di laporkan oleh Favonius kepada Marcus Cato. Sementara itu karena Clodius tau dan tak sulit menggali informasi dari orang Lanuvium bahwa Milo sebagai diktator kehormatan Lanuvium, harus pergi ke sana 18 Januari, karena diwajibkan oleh ritual dan hukum, untuk mengumumkan pemilihan umum seorang imam (flamen), Clodius segera berangkat dari Roma sehari sebelumnya, supaya demikianlah kisahnya, ia dapat melakukan penyergapan atas Milo di hadapan tanah miliknyak apalagi ia berangkat seraya harus meninggalkan sebuah rapat publik panas yang di selenggarakan hari itu, dan rapat kehilangan semangatnya yang meluap, sebuah rapat yang tak mungkin hendak ditinggalkannya, kalau keinginannya tak begitu kuat untuk merancang waktu dan tempat kejahatannya dengan sedemikian tepat

Disisi lain Milo setelah menghabiskan seluruh hari di Senat sampai rapat di bubarkan pulang, berganti sepatu dan pakaian menunggu istrinya bersiap, berangkat tepat pada saat Cilodius seharusnya sudah kembali ke Roma, kalau ia benar bermaksud demikian pada hari itu, ia ditemui oleh Clodius yang tanpa beban, menunggang kuda tanpa kereta, tanpa barang bawaan, tanpa rombongan pengiring orang Yunani seperti biasanya, tanpa istrinya, di sisi lain seseorang yang konspirator itu yang diduga telah merencanakan perjalanan untuk membunuh, menunggang kuda dengan kereta, berpakaian jubah layaknya orang bepergian, diiringi rombongan perempuan begitu banyak, sebagian besar pelayan dan pesuruh. Bertemulah ia dengan Clodius di depan tanah miliknya pada jam 5 sore, atau sekitar itu. Segeralah beberapa pria bersenjata yang disiagakan di tempat tinggi menyerang klien, yang lain menghalangi kereta, lalu membunuh kusirnya, tetapi ketika Milo melepas jubahnya melompat dari kereta, dan sedang membela diri dengan gagah berani, beberapa orang Clodius dengan pedang terhunus, berlari ke arah kereta untuk nenyerang Milo dari belakang, beberapa yang lain, karena mengira Milo telah terbunuh, mulai membunuh budak pengikut. Beberapa budak, waspada dan setia kepada tuannya, terbunuh. Beberapa yang lain ketika melihat perkelahia yang terjadi di sekitar kereta dan tak kuasa menolong tuannya, dan ketika mereka mendengar dari Clodius sendiri bahwa Milo telah terbunuh dan memercayainya, budak Milo (Pro Milone 23 – 29)

Konfirmasi atau pembuktian (Confirmatio, Latin). Bukti atas penderitaan seseorang, dimana si orator mengandalkan terutama argumentasi rasional untuk persuasi pada umumnya mengikuti narasinya. Dalam beberapa kesempatan si pembicara dapat memilih untuk mengemukakan bagian konfirmasi dengan suatu partisi (partitio,Latin) di mana ia secara ringkas menguraikan pada pokok mana saja yang ia sepakat dengan lawannya, dan pokok mana saja yang masih diperdebatkan atau lebih seringm ia menyebutkan dengan runut apa yang hendak di diskusikan dalam bagian pembuktian, mengenai confirmatio, Cicero mengatakan dalam karya De Inventione: konfirmasi atau pembuktian adalah bagian pidato dimana pendirian kita mendapatkan kepercayaan, keabsahan, dan dukungan melalui penyusunan argumen semua proposisi dikonfirmasi dalam argumen dengan ciri orang atau ciri tindakan, menggolongkan yang berikut ke dalam ciri orang: nama, kodrat, cara hidup, nasib, kebiasaan, perasaan, minat, cita, pencapaian keberuntungan, tuturan yang dibuat,sedangkan ciri tindakan untuk sebagian bersesuaian dengan tindakan itu sendiri dan untuk sebagian terkait dengan bagaimana pelaksanaan tindakan, sebagian bersifat tambahan terhadap tindakan, dan sebagian lagi merupakan akibat yang mengikuti pelaksanaan tindakan. Tetapi setiap argumen ditarik dari pola umum yang telah di sebutkan akan punya 2 kemungkinan, sebab untuk mendefnisikan ringkas, sebuah argumen merupakan suatu yang dirancang untuk menunjukkan sebuah pokok yang boleh jadi atau untuk membuktikkan tanpa dapat disanggah. Hal terbukti tanpa dapat disanggah adalah apa yang tidak mungkin terjadi atau tidak dapat dibuktikan sebaliknya, hal yang boleh jadi adalah sesuatu yang pada umumnya biasa terjadi, atau yang pada umumnya ada sebagai kepercayaan wajar masyarakat atau yang di dalamnya memuat beberapa kemiripan dengan sifat ini entah kemiripan itu sungguh atau palsu (De Inventione 1.34, 37, 44, 46)

Lalu Cicero melanjutkan dengan menguraikan setiap kategori dan sub bagian, teks berikut diambil dari bagian confirmatio pidato pembelaan Cicero terhadap Milo, ingat bahwa untuk membela klien, Milo yang didakwa membunuh Clodius, Cicero berupaya membuktikkan bahwa Clodius sesungguhnya merancang penyergapan terhadap Milo, yang waktu itu sekadar membela diri di hadapan serangan. Teks ini menggambarkan beberapa argumen yang di dasarkan pada prinsip pembuktian dan argumentasi yang sebelumnya, disebut oleh Cicero, khususnya gagasan tentang keboleh jadian. Dalam kaitan dengan hal itu, Cicero dalam pidatonya mengutip maksin hukum terkenal dari Cassius Longinus, Cui bono

Milo menguntunkan bagi Clodius tetap hidup, sedangkan bagi Clodius kematian Milo adalah tercapainya segala sesuatu yang telah sangat diinginkannya bahwa kebencian sama sekali, bahwa Clodius terbiada menggunakan kekerasan, sedangkan Milo hanya terbiasa membela diri darinya bahwa Clodius mengancama dan terang – terangan sudah meramalkan kematian Milo, sedangkan hal seperti itu tak terdengar dari Milo, Clodius mengetahui hari keberangkatan Milo, tetapi hari kembalinya Clodius tak diketahui, perjalanan Milo memgumumkan secara terbuka bahwa ia akan kembali pada hari itu, tak ada detail dari rencana Milo yang berubah sedangkan Clodius meereka alasan untuk mengubah rencana  Milo. Kalau dia memang melancarkan penyergapan, harus menunggu senja di dekat kota, sedangkan Clodius kalau sama sekali tak takut kepada Milo, masih akan punya alasan untuk takut mendengar ke kota pada malam hari.  Sekarang mari periksa faktor kunci dalam keseluruhan perkara yakni pihak mana yang punya posisi lebih menguntungkan untuk melakukan penyergapan di tempat dimana mereka telah bertemu.Clodius berkat fondasinya yang kokoh, ribuan kuat dapat terampung, milo akan menganggap bahwa ia akan peroleh keuntungan atas musuhnya yang berada di posisi komando yang tinggi, sehingga dengan demikian ia memilih tempat itu untuk bertarung di antara tempat lain, pompeius lokasinya di berada di tempat di Alsium. Ia kalah karena kadang karena menyamun terbunuh oleh musafir, dan kendati Cloudius yang siap tempur, Clodius sesungguhnya seorang perempuan yang menyerbut lokasi (Pro Milone, 52  - 55 yang perku berjalan seiring dengan pembuktian atas pendirian atau argumen adalah sunggahan terhadap argumen lawan

Dukungan terhadap argumen harus dibangun dengan menghancurkan argumen lawan dan pada saat yang sama membuktikkan argumen sendiri, porsi pidato yang bertujuan membangun argumentasiumu, sebab dalam membuktikkan argumen. Sebab dalam setiap kasus, porsi pidato yang bertujuan membangun argumentasi didasarkan pada 1 prinsip saja porsi ini waji b memuat baik pembuktian maupun sanggahan,tetapi karena tak mungkin menyanggah pendapat lawan tanpa membuktikkan pendapat sendiri, dan tak mungkin membuktikkan pendapat tanpa menyanggah bahwa 2 hal ini terkait dengan menurut kodratnya, menurut kegunaannya dan meurut perlakukan (De Orangore 2.331.1)

Dalam on invention, Cicero setiap argumen dapat disanggah kalau atau lebih dari cara berikut: tak terbukti benar, atau kalau pengandaiannya terbukti benar, tetapi tak terbukti bahwa suatu kesimpulan yang dapat di tarik atau bentuk argumen yang sedang diajukan terungkap sebagai keliru atau argumen yang kuat dilawan dengan argumen yang sama kuat atau lebih kuat (De Inventione 1.79)

 

Pada 62 SM Cicero membela seorang kawan, mantan guru, orang Yunnai, Archias atas tunutan mengaku secara palsu sebagai warga  negara Roma sebuah tuntan yang kalau terbukti akan mengakibatkan Archias diusir dari Roma, dalam petikan teks Cicero menyanggah klaim yang telah dibuat atau sekiranya akan dibuat oleh pihak penunut

Kalau keabsahan status kewarganegaraan Archias dan kepatuhannya pada hukum terkait menjadi pokok perkara, tak perlu mengatakan apapun, pembelaan berhenti. Sebab daaptkan menyanggah kedua hal ini, Gratius? Akankah menolak bahwa Archias terdaftar sebagai warga negara pada waktu di Heraclea? Marcus Lucullus seorang dengan jabatan tertinggi, paling cermat, juga terhormat. Hadir kala itu, ia bersaksi bukan tentang pendapatnya, melainkan tentang diketahuinya, bukan tentang yang di dengar, melainkan tentang yang dilihatnya bukan bahwa sekadar hadir, melainkan bahwa bertindak sebagai pelaku yang dilihatnya bukan bahwa ia sekadar hadir, melainkan bahwa ia bertindak sebagai pelaku, seorang utusan dari Heraclea hadir, seorang yang amat terhormat, yang telah datang ke Roma demi persidangan ini, berbekal surat perintah dan kesaksian publik untuk menyatakan bahwa Archias terdaftar. Pada titik ini, lawanku akan minta supaya arsip publik Heraclea, dikeluarkan arsip yang semua tau, telah hancur dalam peristiwa pembakaran gedung arsip  selama Perang dengan Sekutu (War With The Allies) adalah absurd untuk tidak mengatakan apapun tentang bukti yang dipunya, tetapi mencari bukti yang tak mungkin diperoleh, untuk bungkam terhadap kesaksian orang yang masih hidup, tetapi menuntut supaya catatan tertulis dikeluarkan, dan meski telah siap dengan ketelitian seorang yang terhormat dan sumpah serta kesaksian seluruh kota yang teguh dalam kejujuran, adalah absurd pula untuk menolak bukti yang sama sekali tak dapat rusak tetapi meminta catatan publik, sendiri akui kerap diselewengkan atau hendak menyangkal bahwa klien telah menjadi warga tetap di Roma maksudnya orang yang selama bertahun sebelum diberi kewarganegaraan sudah menjadikan Roma sebagai tempatnya menyimpan segala milik dan asetnya, atau apakah lalai tak mendaftarkan diri dan terlebih dari pengumuman yang dibuat kemudian, namanya adalah satunya dari daftar itu dan satunya dewan pejabat yang masih diakui sebagai catatan sipil yang sebenarnya sebab, kendati gulungan daftar warga negara Appius diduga tak terawat, dan kendati kredibilitas catatan itu dirusak oleh Gabinius yang tak dapat dipercaya. Metellus orang paling lurus dan cermat, amat rajin mencatat hingga ia akhirnya menemui Licus Lentulus sang praetor dan seorang juri, dan mengatakan bahwa ia sangat gelisah dengan terhapsunya satu entri saja, inilah catatannya dan akan mendapati bahwa nama Archias tak terhapus. Tak banyak orang tua bahwa selama sensus terakhir, ia bertugas bersama pasukan tentara sebagai anggota staf jenderal terkemuka Lucius Lucillus; dan pada waktu sensus sebelumnya, ia juga bersama Lucullus yang dulu bertugas sebagai bendahara publik di Asia, dan sebelumnya ketika Julius dan Crassus menjabat, tak ada sensus diselenggarakan. Tetapi karena gulungan daftar sensus tidak mengkonfirmasi kewarganegaraan dan sesungguhnya sekadar menunjukkan bahwa ia yang namanya terdaftar berlaku baik sebagai warga negara, perhatikan bahwa pada waktu klien, yang dicurigai, bahkan berdasarkan penilaian sendiri, tak punya hak sebagai seorang warga negara Roma, telah sering patuh pada hukum Romawi, menghidupi warisan yang ditinggalkan baginya oleh warga negara Roma, dan telah direkomendasikan oleh Lucius Lucullus sang gubernur untuk menjabat bendahara publik sebagai imbalan jasanya, carilah dalih kalau dapat menemukannya, sebab Archias tak akan pernah dinyatakan bersalah, baik oleh penilaiannya sendiri maupun penilaian sahabatnya (Pro Archia 8 – 11)

 

Kesimpulan atau epilog (Conclusio atau Peroratio) : bagian akhir sebuah pidati atau argumen yang standar adalah kesimpulan atau epilog, dalam bagian ini dapaat merangkum dan merekapitulasi argumen sebelumnya dan atau menggerakan belas kasihan atau simpatinya terhadap anda atau klien, alhasil epilog menjadi bagian pidato favorit untuk memanfaatkan pathos sebagai cara persuasi yang utama. Petikan teks berasal dari epilog pidato Cicero dalam rangka pembelaan terhadap anak didiknya, Caelius yang disampaikan pada 56 SM, Caelius menghadapi 5 dakwaan, termasuk di dalamnya kekerasan dan percobaan peracunan, Cicero mendasarkan sebagian besar pembelaannya pada argumen bahwa dakwaan sesungguhnya adalah dakwaan palsu yang didalangi oleh seorang perempuan, Clodia, saudari dari musuh bebuyutan Cicero, yakni Clodius. Menurut laporan Cicero, Clodia lebih tua daripada Caelius, juga mantan kekasihnya yang licik dan penuh dendam, Cicero beragumen bahwa Caelius telah selesai dengan fase nakal masa muda, dan kini siap mengikuti jejak mentornya, menjalankan peran kepimpinan negara. Pantas pula dicatat disini upaya Cicero, baik untuk memancing kemarahan terhadap musuh Caelius (dan musuh Cicero) maupun menggerakkkan belas kasihan dan simpati dengan memperkenalkan ayah Caelius yang sudah tua ke pengadilan

Hukum mengenai kekerasan terkait secara langsung pada kekuasaan, kebesaran, dan kondisi negara, juga keamanan bagi semua orang. Itulah hukum yang diusulkan oleh Quintius Catulus ketika ada pemberontakan bersenjata oleh warga pada masa tersulit negara kita, itulah hukum yang setelah api yang berkorbar selama menjabat konsul, memadamkan bara gelora konspirasi, kini hukum sama menuntut hukuman terhadap masa muda. Caelius bukan oleh negara melainkan oleh ulah culas dan tingkah seorang perempuan.  Orang yang telah mengundang seorang mantan konsul ke pengadilan, seraya mendakwanya ingkar terhadap negara, orang itu sendiri tak mungkin menjadi warga negara yang durhaka di negara, juga orang tak meluluskan pembebasan seseorang dari dakwaan suap, dia sendiri tak mungkin menawarkan suap tanpa dihukum. Negara kita memiliki dua dakwaan hukum dari Marcus Caelius, dakwaan yang dapat dianggap sebagai sandera di hadapan tindakan berbahaya yang ia lakukan, atau bisa juga janji niat baiknya, beberapa hari lalu Sextus Cloelius dibebaskan, seorang yang selama 2 tahun terakhir, telah disaksikan sendiri baik sebagai abdi maupun pemimpin pengkhianatan negara, seorang tanpa harta atau nama baik, tanpa harapan atau rumah atau kekayaan, seorang yang lidah, tangan, dan seluruh hidupnya kotor penuh khianat yang dengan tangannya sendiri membakar tempat penting, gedung sensus, catatan mengenai rakyat Roma, seorang yang mengakibatkan kerusakan pada monumen Catulus yang telah menghancurkan rumah dan membakar rumah saudara, seorang yang dalam kedudukannya, sebagai pejabat di hadapan seluruh kota, menghasut para budak untuk melakukan pembunuhan dan pembakaran jangan biarkan di negara yang sama ini orang itu dibebaskan melalui daya pengaruh seorang perempuan dam Caeulius dikorbankan kepada nafsu seorang perempuan, sehingga perempuan yang satu dan sama itu, dalam persengkongkolan dengan saudara dan suami tak kelihatan sedang menyelamatkan yang terbusuk di antara orang jahat dan meremukkan yang paling terhormat diantara para pemuda. Dan ketika mempertimbangkan masa muda Caelius, pada saat yang sama terhamparlah di hadapan mata hari tua orang malang ini, yang tergantung pada anak satunya, yang hidup dengan harapan kepada anaknya, yang takut akan kejatuhan anaknya. Seraya mengenang orang tua sendiri dan mengingat perhatian kepada anak sendiri, topanglah manusia ini yang memohon belas kasih, yang bersujud bukan di hadapan kaki melainkan di hadapan hati dan perasaan, sehingga dalam penderitaan orang lain, dapat bersetia pada rasa kewajiban dan rasa pengampunan, jangan padamkan api hidup orang tua ini yang secara alamiah sudah mendekati akhirnya dan akan lebih cepat padam oleh tipuan daripada oleh takdir jangan pula mencabut bagaikan angin puyuh atau badai yang datang , hidup orang muda ini yang kini sedang semangatnya, bersemi dengan keutamaan, selamatkanlah anak dari orangtua ini, juga orangtua dari anak ini, jangan sampai tampak menghina seorang tua, yang kini hampir putus asa, jangan sampai pula tampak bukan hanya sebagai penghalang, melainkan sesungguhnya pengacau dan penghancur sebuah masa muda yang penuh harapan mulia. Kalau menyelamatkan Caelius bagiku, bagi rakyatnya sendiri, dan bagi negara kita, akan memiliki seorang yang berkomitmen, berbakti, dan setia dan kepada anak, kamulah para juri, lebih dari siapapun yang akan memanen buah dari daya upaya yang subur dan tak berkesudahan (Pro Caelio 70, 77 - 80)

Gaya

Bagian retorika yang ketiga atau langkah persiapan ketiga si orator, adalah gaya dalam bahasa Latin, Elocution) setelah merancang apa yang hendak dikatakan langkah penemuan dan telah memutuskan urutan untuk mengatakannya langkah penyusunan, harus memutuskan bagaimana hendak mengatakannya, dengan menuangkan materi ke dalam bahasa, kata dan kalimat konkret. Jelas, materi yang sama dapat diungkapkan dengan kata dan cara berbeda, karena itu tujuan langkah persiapan ketiga adalah memilih kata yang efektif dan merangkai kata itu menjadi kalimat seraya memanfaatkan struktur pribadi (periodic structure), ritme prosa (prose rhythn( sebuah pertimbangan penting dalam seni pidato kuno dan kiasan. Dalam karya De Oratore Cicero menekankan ikatan tak terpisahkan antara materi dan ekspresi yakni antara isi dan kata. Omongan bertele yang mengalir tanpa didasari pemahaman tentang materinya adalah kosong dan konyol, sementara isi yang cemerlang dapat dilakukan oleh pemilihan kata yang payah dan perangkaiannya yang tidak efektif

Karena semua wacana terbentuk dari isi dan kata, kata tak akan memiliki dasar apapun kalau mencabut isinya, dan isi akan tetap tinggal dalam kegelapan kalau menghapus kata. Kefasihan berbicara membentuk satu kesatuan, dalam bidang apa saja dan dalam wilayah wacana apa saja entah itu bicara tentang hakikat langit atau bumi, atau tentang kodrat keilahian atau manusia, entah di persidangan, di Senat, atau di atas panggung, entah tujuannya membujuk orang atau mengajarnya atau menakutinya, atau menggugah perasaan atau mengendalikan atau menyalahkan emosi mereka atau meredakannya, entah audiensnnya sedikit atau banyak, entah ia orang asing atau sahabat atau diri sendiri, pidato ibarat sungai yang bercabang ke aliran kecil, tetapi berasal dari sumber yang saam, dan kemanapun arahnya ia di sertai oleh perlengkapan dan perhiasan yang sama, tapi sekarang bekerj abukan hanya di bawah penilaian orang kebanyakan, melainkan juga orang yang agak terpelajar, lebih mudah bagi mereka untuk menangani hak yang tak dapat mereka tangkap menyeluruh, yakni ketika mereka memisahkannya dalam bagian dan hampir menghancurkan berkeping, dan mereka memisahkan kata dari pemikiran, seperti memisahkan tubuh dari jiwa yang dalam kedua hal hanya mungkin mengakibatkan kehancuran, karena dalam wacana, aku akan mengerjakan tak lebih dari apa yang dipercayakan,  menunjukkan singkat bahwa menemukan kata bercita rasa tinggi tidak mungkin tanpa terlebih dahulu menghasilkan dan membentuk pikiran,  dan bahwa tak satu pun pemikiran daapt bersinar cemerlang tanpa daya pencerah dari kata (De Orantore 3.19, 22 – 24

Tentu tak ada satu gaya yang bisa disebut paling istimewa, tak ada satu pun cara memilih kata dan merangkainya menjadi kalimat yang lebih unggul daripada cara yang lain, Ciero paham hal ini dan menekankan bahwa kekuatan dan kelemahan setiap pembicara harus dipertimbangkan, lalu dari situ dilatih dan dikembangkan kecenderungan gaya yang sesuai, sebuah nasihat yang masih bermanfaat bagi para guru zaman ini

 

Masing dari kita memiliki sifat yang terpisah dan spesifik. Di antara keberagaman ini, yang lebih baik pada umumnya dibedakan dari yang lebih buruk lebih menurut kemampuannya daripada menurut tipe masing, dan segala sesuatu yang sempurna menurut tipenya sendiri pantas dipuji. Sebab tidaklah, kalau melihat semua orator aktif atau pernah aktif dimanapun, harus mengatakan ucapan seperti sebanyak orator, sebanyak itu pada gaya berbicara. Hal ini tidak bisa ditempa dengan panduan sama dengan satu metode pengajaran. Tanggung jawab menyediakan pengajaran dan pendidikan untuk menyelidiki dengan cermat ke mana kemampuan kodrati setiap murid mengarahkannya. Sesungguhnya, kalau mengamati sekolah yang dikelola oleh para guur ahli yang unggul dalam tipe mereka sendiri yang berbeda, melihat bahwa setiap guru menghasilkan murid yang berbeda satu sama lain dan tetap pantas dipuji, karena setiap guru menyesuaikan pengajarannya dengan kemampuan kodrati setiap murid satu per satu. Isocrates menggunakan pacu pada Ephorus, tetapi tali kekang pada Theopompus, yang terakhir itu yang  cenderung tak ragu menggunakan kata keras, dilembutkannya sedangkan yang terdahulu, yang boleh dikata cenderung peragu dan sederhana, dipacunya. Tetapi ia tak menjadikan mereka sama, ia menambahkan kepada yang satu dan mengurangi dari yang lain, hanya sejauh perlu untuk memperkuat pada masing apa yang telah terberikan oleh kemampuan kodratinya (De Oratore 3.34 – 36). Pembicaraan mengenai gaya pada zaman Cicero biasanya berkisar pada 4 macam mutu atau keutamaan gaya sebagaimana digariskan oleh murid Aristoteles, Theophrastus, atau menurut tiga tipe atau karakter atau lebih, keutamaan gaya antara lain penggunaan bahasa Yunani atau Latin dalam konteks Cicero, bahasa Inggris, dalam konteks kita yang tepat (correctness), kejelasan (clarity), kegemilangan (hiasan), (distinction), yang mencakup kiasan seperti metafora, konotasi, makna negatif, dan kepantasan (appropriateness) pengelompokkan tipe atau karakter gaya yang paling terkenal adalah pengelompokkan tiga bagian menjadi biasa, sedang, dan agung

Keutamaan gaya

Ketepatan dan kejelasan, dalam De Oratore (3.37-41, 48 – 49) mitra wicara Cicero, Crassus, berbicara singkat tentang dua macam mutu pertama mengenai gaya dan memperjelas bahwa semua pembicara yang terpelajar sudah memiliki keutamaan ini, kendati pembelajaran dan pembacaan lebih jauh atas para orator dan penyair akan memperkuat dan memajukannya. Sekarang tak hendak memberi pengajaran tentang dua unsur bahasa yang bersih dan tenang. Sebab tak mungkin berupaya mengajar seseorang untuk berbicara, kalau orang itu tak tau bagaimana caranya bicara, dan tidak dapat mengharapkan ia akan bicara dengan gemilang, kalau tak bisa bicara dalam bahasa Latin yang tepat, atau sama halnya kalau tak dapat mengatakan sesuatu yang dapat dipahami, sehingga akan mampu mengatakan sesuatu yang dapat dikagumi. Selain itu, setiap aspek dari diksi yang bercita rasa tinggi, kendati itu dapat dipoles dengan pengetahuan tata bahasa, dapat pula berkembang dengan membaca para orator dan penyair. Sebab hampir semua orang pada zaman kuno kendati mereka belum mampu membubuhkan kegemilangan pada apa yang mereka katakan, mengungkapkan diri mereka dengan sangat baik, dan orang yang telah akrab, dengan bahasa mereka tidak dapat tidak berbicara dalam bahasa Latin yang tepat, kendati mereka hendaknya tetap mempelajarinya. Ini bukan berarti bahwa harus menggunakan kata yang tidak lagi digunakan secara umum, kecuali dengan hemat, sekadar demi memberi cita rasa pada apa yang dikatakan, seperti akan kutunjukkan nanti. Tetapi dalam menggunakan kata yang umum dipakai, akan mampu menggunakan yang paling bercita rasa diantaranya, kalau menyelami karya para penulis kuno dengan seksama dan penuh bakti. Tetapi supaya dapat berbicara Latin dengan tepat, bukan hanya harus berhati mengucapkan kata sehingga tak seorang pun dapat mengkritiknya dengan cukup alasan, dan menggunakannya dalam kasus, kala, kelas, dan numeralia (istilah teknis linguistik dalam Latin, kasus: jabatan/fungsi, sebuah kata benda dalam sebuah kalimat apakah sebagai nominatif, genitif, akusatif, ablantif, datif, vokatif) kala: tata waktu mengenai kata kerja (tenses dalam Inggris). Kelas ragam deklinasi (perubahan kata benda menurut kasusnya) dalam sebuah bahasa Latin mengenal sekurangnya 5 kelas atau ragam deklinasi, Numeralia: tata bahasa yang terkait dengan jumlah /banyaknya sebuah kata benda yang dimaksud, apakah tunggal (singular) atau jamak (plural) hal ini perlu jelas sebab pada gilirannya akan mempengaruhi kasus dari kelas yang sesuai) yang tepat sehingga tak ada kebingungan, permintaan klarifikasi, atau urutan yang keliru, juga harus mengendalikan lidah, nafas, dan bagaimana suara akan terdengar, jangan terlalu berlebihan dan kabur karen diucapkan terlalu lembek, kata terdengar tipis karena diucapkan dengan nafas yang kurang, dan juga tak suka kalau kata dihembuskan dan diucapkan, kurang lebih dengan nafas terlalu penuh dan berat

Panduan berbicara Latin tepat, diajarkan dipelajaran dasar, dikembangkan oleh pengetahuan tata bahasa yang lebih saksama dan sistematis atau praktik percakapan sehari dirumah, dan diperkuat dengan buku dan pembacaan atas para orator dan penyair kuno. Dan sungguh janganlah menghabiskan lebih banyak waktu lagi pada poin kedua, mendiskusikan dengan cara apa yang dikatakan akan dapat dimengerti tentu dengan bicara dalam Latin yang tepat, menggunakan kata yang  umum dipakai yang persis menggambarkan apa yang hendak ditunjuk dan maksudkan, seraya menghindari kata dan bahasa yang ambigu, kalimat periodik (kalimat yang induk kalimat atau klausa utamanya terletak di akhir kalimat, biasanya dipakai untuk memberi kejutan atau efek dramatis) yang terlalu panjang, metafora mubazir dengan tidak memutus alur gagasan, mengacaukan kronologi, mencampuradukkan identitas orang, atau mengacaukan urutan

Kegemilangan (hiasan). Mutu gaya yang logis kegemilangan atau hiasan, secara tradisional memperoleh perhatian paling besar dari para teoretikus retorika kuno, yang  termasuk dalam kategori ini adalah hal seperti kiasan atau pembelokkan yakni penggantian satu istilah dengan istilah lain seperti metafora perubahan dalam rangkaian atau nuansa kata yakni teknik berbahasa seperti aliterasi atau anafora, teknik gagasan seperti pertanyaan retoris, yang dirancang untuk menekankan gagasan atau melibatkan audiens secara lebih langsung dan naik turunnya suara serta ritme, penyusunan yang efektif atas kata bukan  menurut pola metrum ketat, melainkan menurut ritme yang menjadikan narasi enak di dengar, seperti disebut sebelumnya, Cicero sangat menekankan bahwa gaya harus berakar kuat pada isi, alih sesuatu yang diterapkan secara artifisial seperti kosmetik, dan segala sesuatu yang sungguh gemilang, kepakaran dalam bidang hukum dan variasi berselera tinggi adalah rahasia gaya gemilang yang sejati

Kegemilangan dengan demikian ditaburkan pada pidato pertama oleh karakter umum, sedikit banyak, oleh corak serta vitalitasnya yang khas. Bahwa ia harus berbobot, mempesona, terpelajar bahwa harus penuh sopan santun, mengagumkan, dan ulung, dan bahwa ia harus memuat sejumlah perasaan dan emosi yang diperlukan semua kualitas ini bukan perkara anggota tubuh bagian per bagian, melainkan tampak pada tubuh sebagai keseluruhan. Ia harus sedikit banyak, bertaburan dengan bunga bahasa dan gagasan, kualitas ini jangan disebar merata pada seluruh pidato melainkan harus diedarkan disana – sini, seperti penataan dekorasi dan lampu ketika suatu tempat umum dihias, dengan demikian harus memilih karakter umum pidato, karakter yang akan paling menarik perhatian audiens, dan bukan hanya membuat mereka senang, melainkan juga tak membosankan, sulit menjelaskan mengapa hal yang paling mengaduk indra dengan rasa nikmat dan menggugahnya paling kuat ketika pertama kali menjumpainya sekaligus merupakan yang tercepat mebuat merasa enggan dan bosan dengan menjadikan terasing, betapa lukisah modern lebih cerah daripada lukisan lama, dengan keindahan dan ragam warnannya, akan tetapi kendati memikat pada pandangan pertama, lukisan tak membuat senang dalam waktu lama, sementara sebaliknya perhatian tersandera justru oleh lugu dan kusamnya warna lukisan kuno, juga dalam nyanyian betapa suara coloratura dan falsetto lebih lembut dan lebih halus daripada suara polos yang dulu menjadi pakem nyanyian, akan tetapi bukan hanya orang berselra polos yang tak menyukai, orang kebanyakan menyerukan celaannya kalau mereka terlalu sering mendengar, dapat pula melihat hal ini dalam indra lain, parfum dengan aroma wangi intens dan kuat tidak membuat senang dalam waktu yang sama lamanya dengan parfum wangi sedang dan apa yang tampak memiliki keharuman salep wangi lebih banyak dipuji daripada apapun yang menunjukkan bau safron. Bahkan berkenaan dengan indra peraba, ada batas untuk kelembutan dan kehalusan, lidah indra yang paling tanggap terhadap rasa nikmat dan paling mudah tergugah rasa manis lebih daripada indra lain betapa cepatnya mencampakkan dan  menolak apapun yang manis terus – menerus. Tak seorang pun tahan terhadap makanan atau minuman manis waktu lama, tetapi baik makanan dan minuman yang mengenai indra dengan rasa nikmat yang ringan saja cukup mudah menghindarkannya dari rasa bosan, jadi karena dalam hal lain, rasa nikmat yang paling kuat mengakibatkan rasa enggan, pengalaman dengan penyair dan orator memungkinkan menyimpulkan bahwa puisi atau prosa elegan, penuh hiasan, bercita rasa tinggi, dan cantik, tetapi terus – menerus begitu tanpa permulaan atau variasi baru, tak bisa membuat senang dalam waktu cukup lama seberapapun semarak warna – warni, sesungguhnya alsasan mengapa orang lebih cepat mencela lika  - liku kata dan kosmetik seorang orator atau penyair adalah: rasa bosan pada indra yang muncul dari rasa nikmat yang terlampau kuat, perkara kodrat, bukan pikiran, sedangkan dalam hal wacana tertulis dan lisan, kesalahan dalam pewarnaan yang berlebihan dikenali bukan hanya melalui penilaian dari telinga, melainkan lebih melalui penilaian dari intelek. Pujian tertinggi sebaiknya memiliki beberapa bagian dan beberapa ceruk sehingga apa yang ditonjolkan dapat kelihatan lebih mencolok (De Orantore 3.96 – 101)

Kepantasan, mutu atau keutamaaan gaya yang keempat adalah kepantasan (appropriateness) atau kewajaran, yakni mencocokan pidato atau argumen dengan gaya yang paling pantas untuk konteks, lawan, atau audiens tertentu

Tak satu gaya pun bisa cocok untu setiap kasus atau setiap audiens atau setiap orang yang terlibat atau setiap kesempatan. Kasus dimana status kewarganegaraan orang diperkarakan menuntut suatu nada khusus, sedangkan kasus privat dan sepele membutuhkan gaya lain, pidato deliberatif, pidato pujian, gugatan hukum, percakapan, penghiburan, teguran, diskusi, dan penulisan sejarah, semua menuntut gaya yang berbeda, yang menentukan siapa audiens kita apakah itu Senat, rakyat, atau seorang juri, apakah kelompok besar, kecil, atau seorang individu, dan orang macam apakah mereka. Para pembicara sendiri harus di pertimbangkan usianya, prestise, dan seberapa besar otoritas yang dimiliki, penting pada konteks atau kesempatan, apakah dalam masa damai atau perang, apakah ada kemandesakan atau ada cukup ruang untuk pendekatan yang santai, ketika memilih tipe pidato panjang atau pendek atau sedang harus menggarapnya sedemikian rupa sehingga sesuai dengan masalah yang sedang ditangani, dan dalam setiap konteks, dapat menggunakan unsur yang kurang lebih sama untuk membubuhkan kegemilangan dalam pidato, kadang bertenaga, pada saat yang lain dengan nada rendah, pada setiap bidang, kapasitas untuk melakukan apa yang pantas adalah perkara seni dan kemampuan kodrati, tetapi untuk memahami apa yang pantas pada setiap kesempatan adalah perkara akal sehat (De Orantore 3.210-12) dalam karya Orator (70 – 74) Cicero menggali pokok ini secara lebih filosofis dan reflektif:

Fondasi dari kefasihan berbicara seperti semua hal lain, adalah kebijaksanaan dalam pidato seperti halnya dalam hiduo, tak ada yang lebih sulit daripada memahami apa yang pantas, orang Yunani menyebutnya prepon, kepantasan. Banyak pedoman cemerlang telah diwariskan kepada kita tentang hal ini, dan topik pantas perhatikan. Ketidaktahuan tentang apa yang pantas menyebabkan kesalahan, bukan hanya dalam hidup melainkan juga sangat sering dalam puisi dan berbicara di depan umum. Terlebih si pembicara harus memperhatikan kepantasan, bukan hanya dalam pemikirannya melainkan juga bahkan dalam kata, sebab setiap taraf hidup, tidak setiap usia, tidak pula setiap waktu atau tempat atau audiens dapat diperlakukan dengan  gaya kata atau pemikiran yang sama, pada setiap bagian pidato, sebagaimana pada setiap bagian hidup, harus menimbang apa yang pantas, dan hal ini tergantung pada pokok perkara yang dibicarakan dan pada karakter pembicara dan pendengar, demikianlah para filsuf terbiasa menggarap moral (kendati tak demikian ketika mereka membicarakan keutamaan mutlak sebab hal itu satu dan tak berubah) para guru sastra memikirkannya dalam kaitan dengan puisi, dan para pembicara yang fasih memikirkannya dalam penangaan setiap jenis dan setiap nagian kasus mereka, betapa tak pantas menggunakan patron argmen umum dan bahasa kencang ketika di hadapan satu hakim, membela saebuah kasus tentang drainase, air hujan, atau menggunakan nada rendah dan menunduk ketika bicara tentang kemegahan rakyat Roma, hal seperti ini salah konteks, sementara yang lain membuat kesalahan dalam hal karakter entah mengenai dirinya, sendiri, entah mengenai juri, entah mengenai lawan mereka, dan bukan hanya dalam substansi melainkan kerap kali dalam penggunaan kata, kendati sebuah kata tak punya daya kalau dipisahkan dari halnya, tetap hal itu kerap kali disepakati atau ditolak bergantung pada bagaimana diungkapkan dengan satu atau lain kata. Dan dalam semua kasus, pertanyaan haruslah sejauh mana ? sebab kendati setiap tema memiliki batas kepantasan masing – masing, terlalu pada umumnya lebih bersifat menyerang daripada terlalu sedikit. Dan Apelles pernah berkata bahwa para pelukis yang tak punya kepekeaan tentang apa yang cukup, juga membuat kesalahan yang sama  tetapi kalau penyair menghindari ketidakpantasan sebagai kesalahan terbesar, dan bahkan dianggap membuat kesalahan ketika ia menempatkan pidato seorang yang lurus pada mulut seorang pejahat atau pidato seorang bijak pada mulit seorang bodoh, atau kalau seorang pelukis, dalam adegan tentang pengurbanan Iphigenia, manakala ia menggambarkan Calchas dengan raut sedih, Ulysses lebih sedih, dan Menelaus meratap, menganggap bahwa kepala Agamemnon harus ditutupi karena kesedihannya yang hebat tak dapat tergambar dengan kuasnya kalau bahkan akhirnya aktor pun mencari apa yang pantas lantas menurut kita apa yang harus dilakukan oleh orator. Karena hal ini begitu penting orator harus menimbang apa yang hendak dilakukan dalam kasusnya dan dalam berbagai bagiannya tentu jelaslah bahwa bukan hanya ragam bagian pidato, melainkan bahkan seluruh kasus harus ditangani, pada saat yang satu dengan satu gaya, dan pada saat yang dengan gaya lain

Tipe atau karakter gaya. Sebuah cara alternatif untuk membicarakan gaya adalah mengelompokkannya menurut berbagai tipe atau karakter yang biasanya terbagi menjadi 3: biasa, sedang, dan agung. Cicero menggunakan pengelompokkan ini dalam Orator, tetapi mengolahnya lebih lanjut dengan menambah sebuah variasi yang unik dan orisinal, ia mengaitkan pandangan Aristoteles tentang sumber pembuktian logos, ethos, dan pathos dengan kata kerja Latin probare (membuktikkan), delectare (membuat senang atau membuat terpesona) dan flectere (mengayun) dan melekatkan masing dengan salah satu dari tipe gaya

Sang pembicara fasih yang kita cari adalah seorang yang berbicara di forum dan persidangan dengan cara sedemikian rupa sehingga ia membuktikkan, membuat senang, dan mengayunkan. Membuktikkan adalah keniscayaan dengan membuat senang, bertambahlah pesona, dan mengayun membawa kemenangan sebab diantara segala hal, yang satu ini adalah senjata paling ampuh untuk memenangkan kasus. Untuk 3 fungsi pembicara, ada 3 gaya:  gaya biasa untuk membuktikkan, gaya sedang untuk membuat senang dan gaya bersemangat untuk mengayun, dan yang terakhir terletak daya penuh dari seorang pembicara. Dia yang berhasil dan kurang lebih, memadukan 3 gaya yang berbeda ini akan perlu memiliki penilaian yang tajam dan kemampuan yang sangat tinggi, sebab ia akan menilai apa yang diperlukan dalam situasi apapun, dan akan mampu berbicara dengan cara apapun sebagaimana kasusnya menuntut (Orator 69 – 70)

Sementara jelas Cicero lebih menyukai gaya agung sebagai gaya yang memiliki kekuatan paling besar dan paling memuat bobot persuasi ia menekankan bahwa pembucara terbaik harus menjadi ulung dalam ketiga gaya, memahami bagaimana dan kapan menggunakan masing gaya dan bagaimana beralih dari satu gaya ke gaya lain secara sesuai, menggunakan gaya agung secara terus, misal hanya akan membawa bencana

Pembicara dengan gaya agung berlimpah, membeludak, megah, dan istimewa, dan tentu ia memiliki kekuatan paling besar. Sebab inilah pembicara yang keistimewaan dan kefasihan dalam berpidato telah menyebabkan bangsa yang mengagumi mengizinkan kefasihan berbicara untuk berpengaruh besar dalam negara dan inilah jenis kefasihan berbicara yang menyapu dengan menderu, sehingga semua orang memuji, semua orang mengagumi, semua orang jadi minder melihatnya. Kefasihan berbicara menghujani hati orang dan menggerakkannya kemanapun ia mungkin bergerak. Kefasihan berbicara ini pada satu saat meremukkan indra, pada saat yang lain menyusup ke dalamnya, ia menaburkan gagasan baru dan mencerabut gagasan yang telah tertanam kuat, tetapi ada perbedaan besar antara gaya ini dan gaya lain, dia yang telah menggarap dengan tekun gaya biasa dan tajam, sehingga mampu berbicara dengan terampil dan tepat, dan tak membayangkan sesuatu lebih tinggi, adalah dengan segala hormat terhadap kesempurnaan satu gaya ini, seorang orator besar kendati bukan yang terbesar, ia tak akan mendapati dirinya berada di permukaan licin, dan sekali ia memasang pendirian, ia tak akan pernah jatuh. Pembicara dengan gaya sedang moderat dan tenang, tak akan takut terhadap risiko penuh keraguan dan ketidakpastian dalam berpidato, mengingat ia telah cukup mengerahkan dayanya, meski seperti kerap terjadi, ia tak berhasil sepenuhnya, ia tetap tak akan berada dalam bahaya besar, sebab ia tak mungkin jatuh terlalu jauh, tetapi pembicara yang dianggap paling utama, megah, garang, dan berapi kalau ia hanya memiliki bakat bawaan untuk gaya ini atau telah melatih dirinya dalam satu gaya ini atau hanya mempelajari gaya ini dan tidak mengimbangi gayanya yang meluap dengan dua gaya yang lain, sangat pantas dipandang rendah. Sebab pembicara dengan gaya biasa, mengingat ia berbicara dengan tepat dan cekatan, dianggap bijaksana, dia yang menggunakan gaya sedang, mempersona tetapi pembicara yang sangat meluap, kalau tak ada gaya lain pada dirinya, cenderung kelihatan tak cukup waras, sebab seorang yang tak membicarakan sesuatupun dengan tenang, tak sesuatupun dengan lembut, tak sesuatupun dengan tertata, dengan tepat, dengan jelas, atau dengan jenaka, khususnya ketika kasus tertentu menuntut gaya itu seluruhnya atau sebagian besar kalau ia mulai membakar situasi tanpa pertama mempersiapkan telinga audiensnya, ia kelihatan tak lebih dari sekadar orang maniak yang mengoceh diantara orang waras, seorang pemabuk yang berjoget di antara orang sehat (Orator 97 – 99)

Di antara karya Cicero, Rhetroica ad Herennium atau Rethoric to Herennius adalah salah satu yang terpelihara dengan baik dan selama satu milenium, dipercaya berasal langsung dari tangannya, akan tetapi para sarjana sejak zaman Renaisans dan seterusnya sadar bahwa karya itu tidak ditulis oleh Cicero, kendati isinya dan waktu penulisannya sangat dekat dengan isi dan waktu penelitian De Inventione, karya Cicero pada masa muda. Meski demikian, penulis anonim Rhetorica ad Herennium mengelompokkan gaya menurut kategori agung, sedang, dan biasa dan memberi contoh untuk setiap kategori:

Sebuah pidato disusun dengan gaya agung kalau untuk setiap gagasan, digunakanlah kata paling istimewa yang dapat ditemukan, entah harfiah atau kiasan, dan kalau pemikiran mengesankan, sebagaimana digunakan untuk mengamplifikasi dan mengugah rasa kasihan, dipilih, dan juga kalau memakai makna figuratif dan kata kiasan (figures of thought and speech) yang memiliki bobot. Contoh:

Siapakah diantara kamu para juri siapa yang dapat memikirkan hukukan yang sesuai untuk dia yang berpikir untuk mengkhianati negara demi musuh? Perbuatan jahat apa yang setara dengan kejahatan ini, hukuman apa yang pantas untuk perbuatan jahat semacam ini, kepada mereka yang melakukan kekerasan terhadap orang muda berstatus bebas (dalam peradaban klasik Yunani dan Romawi pada umumnya menunjuk pada mereka laki yang terlahir bukan dari keluarga budak, setelah dianggap dewasa biasanya usia 15 atau 16, dengan kata lain, mereka punya status sebagai warga negara, dalam peradaban klasik Yunani dan Romawi, dan anak pada umumnya tak punya status kewarganegaraan) yang memperkosa ibu dari sebuah keluarga, leluhur kita telah mengeluarkan hukuman berat, untuk kejahatan ganas dan keji, mereka tak mewariskan hukuman spesifik. Dalam perbuatan jahat yang lain, kerusakan yang muncul dari kejahatan orang lain menjalar kepada seorang individu atau hanya kepada sedikit orang  saja, tetapi mereka yang terlibat dalam kejahatan ini dalam satu rencana jahat, merancang bencana paling mengerikan bagi semua warga negara. Setelah kuil para dewa dirampol para patriot dibantai yang lain diseret ke perbudakan, para ibu dari keluaarga dan orang muda berstatus bebas ditundukkan terhadap nafsu musuh, kota kita, setelah dibumihanguskan dalam lautan api yang hebat, akan jatuh sampai disitu mereka tidak akan puas kecuali mereka telah melihat bagaimana tanah air kita yang tersuci berubah menjadi abu yang mengenaskan para juri, tak sanggup menggambarkan dalam kata betapa ngerinya hal itu, tetapi tak terlalu merisaukannya sebab tak membutuhkan aku, sungguh jiwamu sendiri, yang penuh semangat patriotisme bagi Republik, tak diragukan lagi memerintahkan unutuk menyingkirkan keselamatan semua orang, dia yang membelot dari negara yang hendak dikuburkannya di bawah kuasa jahat dari musuh yang paling menjijikan. Sebuah pidato tergolong dalam tipe sedang kalau telah melonggarkan gaya sampai taraf tertentu, tetapi masih belum turun ke gaya narasi yang paling biasa:

Lihatlah para juri, kepada siapa kita melancarkan perang, kepada sekutu yang telah biasa bertempur di pihak kita dan bersama kita untuk menjaga imperium kita dengan keutamaan dan kerja kerasnya, orang tentu paham akan kemampuan, perlengkapannya dan sumber daya, tetapi juga karena kedekatannya pada kita dan persekutuannya dengan kita dalam segala perkara, mereka ironisnya tak bisa memahami dan menaksir kekuatan rakyat Roma dalam segala hal. Ketika mereka membuat keputusan untuk melancarkan perang melawan kita, dasar apakah, sebab mereka sadar bahwa sebagian besar sekutu tetap setia pada kewajibannya dan sebab mereka tau bahwa mereka tak punya banyak pasukan, tak punya komandan yang pantas, dan tak punya dana publik, pendek kata, mereka tak punya satu pun unsur hakiki untuk berperang, bahkan kalau mereka hanya mempertengkarkan batas wilayah rumah dengan tetangga mereka sendiri, dan kalau mereka yakin bahwa seluruh persaingan hanya tergantung pada satu pertempuran saja, mereka seharusnya tetap turun ke medan perang dengan lebih siap dan perlengkapan lebih baik dalam segala hal. Semakin tidak masuk akal lagi, bahwa dengan pasukan kecil itu mereka akan mencoba mengalihkan kedaulatan atas seluruh dunia ke tangan mereka. Sebuah kedaulatan yang kepadanya segala bangsa, segala raja dan segala suku telah tunduk, sebagian melalui paksaan, sebagian lagi atas kehendak mereka sendiri, ketika mereka ditaklukkan entah oleh tentara atau kemurahan hati rakyat Roma. Bagaimana dengan orang Fregellae begitu seorang pasti akan bertanya. Seperti itu atas inisiatif mereka sendiri, sungguh memang begitulah mereka, tetapi sekutu ini membuat upaya seperti itu dengan kurang persiapan mereka melihat bagaimana nasib orang Fregellae. Bagi mereka yang tak berpengalaman, yang tak mampu menemukan preseden untuk setiap keadaan dalam peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, mereka karena kelalaian akan dengan mudah jatuh ke dalam kesalahan tetapi mereka tau apa yang telah terjadi pada orang lain dapat dari kejadian yang telah menimpa orang lain itu, dengan mudah bersiap diri untuk perkara mereka sendiri. Jadi sungguhkah mereka telah angkat senjata, tanpa motif apapun, tanpa mengandalkan harapan apapun? Siapa dapat mempercayainya bahwa ada sekelompok orang telah dirasuki oleh kegilaan begitur rupa, sampai mereka nekat, tanpa kekuatan apapun, untuk menyerbu kedaulatan rakyat Roma, maka pastilah ada motif tertentu

Contoh gaya biasa yang telah diturunkan dalam percakapan sehari:

Kebetulan, kawan kita yang sekarang disini masuk ketempat pemandian kala itu dan setelah ia mandi, tubuhnya mukai dikeringkan. Lantas, ketika ia hendak menuju bak pemandian, orang ini muncul entah dari mana. Orang ini mulai mengulang perkataan yang sama, tetapi lebih lantang dan mengatakan hal lain. Tetapi manusia menjijikan berseru dengan nada gampang membuat orang tersipu suara yang nakal dan keras, bukan di sekeliling bayangan matahari (In The Neighborhood Of The Sundial,  menunjuk pada tempat terbuka yang di Romawi Kuno disebut froum disebut demikian karena jam bayangan matahari sundial dalam Inggris Solarium dalam Latin, biasanya dipasang di tempat itu sebagai penanda waktu untuk publik. Dengan demikian, dalam konteks ini yang dimaksud tempat disekeliling jam bayangan matahari, forum, tempat dimana orang Romawi biasa berpidato, menggelar rapat publik, atau kegiatan sehari) melainkan di belakang panggung teater dan tempat lain semacamnya. Si orang muda kesal, dan tak mengherankan, mengingat bahwa sampai saat ini telinga masa muda terbiasa dengan omelan tutornya, bukan percekcokan smeacam ini, sebab dimanakah orang muda akan melihat babu seperti itu, yang tak lagi tau malu dan tak punya lagi sisa nama baik, sehingga dapat melakukan apa saja tanpa merugikan reputasinya?

Tipe gaya dapat dipahami dari contoh sendiri, Susunan kata yang satu termasuk dalam gaya biasa, yang lain tergolong dalam karya agungm dan yang tak lain lagi tergolong dalam gaya sedang, Rhetorica ad Herennium 4.11-15)

Dalam karyanya Orator, Cicero menawarkan tiga dari pidatonya sendiri sebagai contoh gaya biasa, sedang, dan agung

Pembelaan terhadap Caecina (Pro Caecina) berusaha seluruhnya setia pada setiap perintah praetor kala itu, kami menjelaskan hal rumit melalui proses definisi, memuji hukum sipil dan memilah istilah ambigu. Dalam Manilian Law (Pro Lege Manilia) tujuannya adalah glorifikasi terhadap Pompey, membentangkan glorifikasi itu secara semarak dengan sebuah pidato bergaya sedang, pembelaan terhadap Rabirius (Pro Rabirio) menyangkut segala aspek prinsip penegakan martabat negara: jadi dalam pidato ini, kami bicara bekobar dengan segala macam cara amplifikasi retorika (Orator 102)

Dalam petikan teks dari pidato pembelaannya terhadap Caecina berikut, Cicero menggunakan gaya biasa sebab ia berpidato menunjukkan betapa tak memadainya kata untuk menggambarkan konsep hukum rumit atau stabil, roh hukum harus lebih utama daripada huruf yang tertulis:

Undang – undang macam apa, dekrit senator macam apa, maklumat pejabat macam apa, perjanjian atau kesepakatan macam apa, atau untuk kembali ke urusan pribat, surat wasiat macam apa, putusan hakim macam apa, akad, pakta atau perjanjian resmi macam apa yang tidak bisa dibatalkan dan diubrak – abrik kalau mau menciutkan maknanya menjadi sekadar kata, seraya mengabaikan niat, maksud, dan wewenang dari mereka yang menulisnya. Tak bisakah masing dari kamu memberi contoh dalam satu kaitan atau yang lain, yang memberi kesaksian tentang penegasan bahwa kebenaran tidak tergantung pada kata, melainkan bahwa kata hendaknya mengacu pada niat dan maksud orang. Sesaat sebelum aktif di forum, Lucius Crassus, orang yang sejauh ini paling fasih berbicara, membela pendapat ini dimana, dengan istimewa dan tak terbantahkan dan meski Quintus Mucius Scaevola orang sangat bijak itu berbicara di pihak yang bersebarangan, Crassus membuktikkan kepada setiap orang bahwa Manius Curius, yang diangkat sebagai ahli waris pada saat kematian seorang putra yang lahir setelah ayahnya meninggal, sungguh berhak menjadi ahli waris kendati putra itu tidak mati, sebab sesungguhnya putra itu tak pernah dilahirkan, jadi apakah susunan kata surat wasiat itu saja cukup memberi jalan keluar dalam situasi semacam itu? Tidak sedikit pun. Lalu apa faktor penentunya? Maksud, sebab kalau maksud dapat dipahami ketka kita tinggal diam, kita tak akan menggunakan kata sama sekali, tetapi karena hal itu tidak mungkin, diciptakanlah kata bukan untuk menyembunyikan melainkan untuk menyingkap maksud. Menurut UU, kepemilikan tanah selama 2 tahun akan menghasilkan hak kepemilikan tetap, tetapi menggunakan prinsip yang sama ketka berurusan dengan gedung, yang tidak secara khusus disebut dalam UU menurut UU, kalau suatu jalan tak bisa di lewati orang dapat mengendarai binatang pengangkutnya lewat jalan mana saja yang dia mau, kalau hanya mendasarkan diri pada kata, ini bisa berarti bahwa kalau suatu jalan di Bruttium tak dapat dilewati, seseorang boleh, kalau dia mau mengendarai binatang pengangkutnya melewati tanah milik Marcus Scaurus di Tusculum suatu langkah hukum dapat dikenakan terhadap seorang penjual, kalau hadir di persidangan, dimulai dengan kata ini: karena aku melihatmu di persidangan, si legendaris Appius Claudius yang buta itu tak dapat menggunakan langkah hukum, kalau di persidangan orang menganut makna harfiah kata tanpa mempertimbangkan makna sejati yang dimaksud dalam sebuah surat wasiat, Cornelius kecil diangkat sebagai ahli waris dan kini Cornelius telah berusia 20 tahun, ia akan kehilangan warisannya menurut tafsir (Pro Caecina 51 – 54) pada 66 SM tahun ketika Cicero menjabat sebagai praetor, Gaius Manilius, seorang pejabat tribunal, mengajukan suatu hukum yang memberi jenderal Pompey kuasa tertinggi atas Provinsi Asia (yakni Asia Kecil) dan dalam perang melawan Mithridates, Raja Pontus, Cicero berpidato mendukung hukum, dan di kemudian hari ia mengutipnya sebagai contoh utama untuk pidato bergaya sedang tugasnya seperti dikatakannya, adalah memuji karakter dan kemampuan sang jenderal, yang contohnya:

Sekarang marilah pandanglah sikap uguhari yang merupakan sifat Pompey dalam situasi lain. Darimana dia memperoleh ketangkasannya yang begitu hebat dan kecepatan geraknya yang luar biasa, bukan kekuatan luar biasa dari para pendayungnya, bukan keterampilan navigasi yang jarang didengar, bukan pula angin aneh yang membawanya begitu cepat ke pulau paling terpencil: melainkan faktanya adalah bahwa hal biasanya memperlambat orang lain tak menjadikannya lambat: keserakahan tak membelokkannya menjadi kesenanganm tidak pula kemasyhuran suatu kota membelokkannya menjadi penyelidikan atasnya, tidak pula kerja itu sendiri membelokkannya menjadi kesempatan beristirahat: akhirnya berkenaan dengan patung, lukisan, dan hiasan lain dari kota Yunani yang menurut sebagian besar jenderal wajib di rampas Pomepy menilai bahwa bahkan untuk sekadar memandangnya ia tak boleh, sekarang  karena alasan ini, semua orang di tempat itu memandang Gnaeus Pompeius sebagai seseorang yang bukan diutus dari kota ini, melainkan sebagai seseorang yang turun dari langit, sekarang pada akhirnya mereka mulai percaya bahwa pernah ada orang Roma yang memiliki sifat pengendalian diri seperti itu sesuatu yang bagi bangsa asing sudah kelihatan tak masuk akal, dan dianggap sekadar kenangan palsu kini kemegahan imperium mulai bersinar kepada orang itu, kini mereka mengerti bahwa bukan tanpa alasan kalau dulu leluhur mereka, ketika memiliki pejabat dengan sikap ugahari yang sama, lebih memilih melayani Roma daripada menguasai bangsa lain, sungguh tersiar kabar bahwa orang biasa mudah menemuinya, pengajuan keluha atas kesalahan orang lain pun amat terbuka, sedemikian sehingga dia yang derajatnya melebihi pangeran dipandang setara dengan mereka yang paling rendah untuk menemui Jenderal, tentang betapa perkasa dia sebagai penasihat, betapa perkasa ia dalam bobot dan kefasihan pidato sesuatu yang pada dirinya sendiri merupakan tanda martabat yang pantas bagi seseorang jenderal, wahai warga negara, berkesempatan menyaksikan di tempat, dan mengenai sifatnya yang dapat dipercaya seberapa besar sifat akan dihormati oleh sekutu, sementara setiap musuh dari segala suku menilainya sama sekali tanpa cela, sekarang telah dipersenjatai denga rasa kemanusiaan seperti itu sehingga sulitlah mengatakan musuh takut akan keberanian lebih daripada mereka yang telah ditaklukkan menghormati sifat belas kasihnya, sungguh adakah yang akan meragukan bahwa kepemimpinan dalam perang sebesar ini harus dipercayakan kepada orang ini, orang yang kiranya atas suatu rancangan ilahi, telah dilahirkan untuk membawa segala perang dalam ingatan menuju titik parpurnanya (Pro Lege Manilia 40 – 42)

Pada 63 SM tahun ketika Cicero menjabat sebagai konsul, seorang senator tua, Gaius Rabirius, dituntut atas dakwaan pengkhianatan terhadap negara yang terkait dengan tindakan diduga terjadi sekitar 36 tahun sebelumnya, dakwaan itu sesungguhnya bertujuan melemahkan otoritas Senat dan para konsul, dan Cicero yang kala itu menjabat sebagai konsul dan seorang pendukung setia otoritas Senat, berbicara untuk membela Rabirius. Bagian pengantar (exordium) pidato, ditandai nadanya yang serius dan khidmat, gambaran retoris yang mencolok, emplifikasi dan struktur periodik yang megah, menyajikan sebuah contoh yang bagus untuk gaya agung

Wahai sesamaku, warga negara kendati tak biasa bagiku, pada permulaan pidato untuk memberikan uraian mengenai alasan membela seorang klien tertentu sebab selalu sudah menganggap situasi penuh risiko dari warga mana yang menjalani persidangan sebagai alasan cukup untuk membentuk ikatan dengannya, tetapi kali ini dalam pembelaan terhadap hidup, reputasi dan keselamatan Gaius Rabirius kuanggap perlu untuk mengemukakan suatu alasan untuk pelayanan kepadanya: sebab alasan untuk membela,  yang bagiku tampak paling adil, bagimu mestinya tampak adil pula untuk membebaskannya

Tentu panjangnya usia persahabatan kami, tingginya kehormatan klien, tuntutan kebaikan hati manusia, dan jalan hidup yang telah kupilih, mendesakku untuk membela Rabirius, tetapi kesejahteraan Republik, kewajibanku sebagai konsul, terlebih jabatan konsul itu sendiri, yang dipercayakan kepadaku olehmu bersama kesejahteraan Republik, telah memaksa untuk membelanya dengan cara yang paling berkorbar. Tentu yang telah menyeret Gaius Rabirius ke persidangan dengan tuntutan hukuman mati bukanlah kesalahan yang melekat pada dakwaan, bukan kecemburuan terhadap hidupnya, bukan pula permusuhan sengit yang telah berlangsung lama, atau sekadar permusuhan wajar yang beralasan, yang dirasakan oleh warga sipil, melainkan, demi melenyapkan dari Republik benteng utama pertahanan keagungannya, yang telah diwariskan oleh para leluhur kepada kita, sehingga sejak itu otoritas, Senat, kuasa para konsul, atau harmoni di antara warga negara tak berdaya lagi atas alasan inilah, disamping juga penggulingan lembaga ini, usia, senja, kelemahan, dan kesendirian, satu orang ini diserang, maka kalau seorang konsul baik, ketika melihat fondasi Republik digoyahkan dan diubrak – abrik, ia akan memberi pertolongan kepada negara bergegas mengamankan kesejahteraan dan keselamatan semua orang, memperjuangkan kesetiaan warga negara dan mendahulukan kesejahteraan umum daripada kepentingannya sendiri, demikian pula yang akan dilakukan oleh warga negara yang baik dan berani, seperti telah ditunjukkan dalam semua krisis Republik ini, menutup semua jalan penghasutan memperkuat benteng pertahanan Republik, bersiteguh bahwa kuada tertinggi ada pada para konsul, dan kuasa pertimbangan tertinggi ada pada Senat, dan dia yang setia pada prinsip ini pantas dipuji serta dihormati, bukannya dikutuk serta dihukum, karena itu, sementara tugas membela Rabirius utamanya adalah tugas, gelora untuk menyelamatkan harus kubagikan kepadamu. Sebab harus mengerti, wahai sesama warga negara, bahwa sepanjang sejarah manusia taks atu kasus pun yang pernah ditangani oleh seorang pejabat tribunal rakyat atau pernah ditentang oleh seorang konsul atau pernah diserahkan kepada rakyat Roma, yang lebih penting, yang lebih berbahaya, yang lebih layak kauwaspadai daripada kasus ini, sebab, wahai sesama warga negara, tak ada alasan lain untuk bergulirnya kasus ini kecuali untuk memastikan bahwa sejak hari ini dan seterusnya, tidak ada lagi majelis umum di Republik, tidak ada lagi harmoni di antara warga negara yang baik untuk melawan amuk dan lancangnya orang jahat, tidak ada lagi tempat perlindungan bagi Republik dalam situasi sulit, tidak ada lagi benteng pertahanan untuk melindungi kesejahteraannya. Mengingat demikian keadaannya, karena kewajiban menuntut demikian manakala terlibat dalam perjuangan monumental demi membela hidup, reputasi, dan keselamatan seorang manusia, pertama memohon kepada Jupiter, yang maha tinggi dan maha kuasa dan segala dewa – dewi yang kekal, supaya menganugerahkan perdamaian dan pertolongan, dan berdoa supaya mereka mengizinkan hari ini untuk berpihak kepada tujuan, entah untuk menjaga keselamatan klien maupun untuk memperkuat fondasi Republik, kemudian minta dan mohon kepadamu, sesamaku warga negara yang kekuatannya paling mendekati kehendak ilahi dari para dewa yang kekal, sebab pada saat yang satu dan sama, kehidupan Gaius Rabirius yang malang dan tanpa dosa ini, juga kesejahteraan Republik, dipercayakan ke dalam tangan dan suara, aku mohon kepadamu untuk menerapkan belas kasih seperti biasa kau lakukan demi keselamatan klienku, mohon kepadamu untuk menerapkan kebijaksanaan seperti biasa kau lakukan demi kesejahteraan Republik (Pro Rabirio 1 – 5)

Ingatan, bagian ke empat dari retorika, atau langkah persiapan orator. Para pembicara di zaman modern dapat mencari pertolongan pada teks tertulis, layar komputer dan pengial baca (teleprompter) untuk membantu mereka dalam menyampaikan pidato, wacana, atau argumen, dalam lingkungan seperti itu, kita cenderung melupakan bahwa para orator zaman kuno mengajukan pendapat atau menyampaikan suatu pidato. Kesulitan dalam merekayasa bahan tulisan kuno, anehnya tampil berpidato sambil memegang gulungan, mahalnya bahan tertulis dan kurangnya indeks, ditambah tiadanya perlengkapan elektronik audio visual modern, membuat ketergantungan pada ingatan menjadi sesuatu yang wajar pada zaman Cicero. Meski beberapa cerita zaman kuno tentang pencapaian luar biasa dari ingatan dapat dinilai berlebihan, cukup pasti bahwa orang kuno dituntut untuk menggunakan dan melatih ingatan mereka, jauh melebihi kita. Misalnya, seorang yang berpidato tentang kemampuan dan reputasi Cicero, dapat menyampaikan pidato yang berlangsung selama beberapa jam, seluruhnya berdasarkan ingatan

Para teoretikus zaman kuno mengindentifikasi dua jenis ingatan: alami dan buatan. Ingatan alami adalah ingatan yang tertanam dalam benak, dan muncul serentak dengan pemikiran. Ingatan buatan adalah ingatan yang berasal dari seni atau teknik, yakni ingatan yang diperkuat oleh latihan dan disiplin, dalam kaitan dengan itu, dikembangkanlah suatu sistem terperinci mengenai lokalitas dan citra untuk melatih ingatan buatan. Untuk mengingat serangkaian fakta atau rincian kejadian, orang akan memilih suatu lokasi yang familier (misalnya, rumah di jalan, atau jalan masuk ke rumah) lalu mengaitkan hal yang hendak diingat dengan rangkaian lokalitas itu secara berurutan, sistem itu dapat digunakan untuk mengingat baik kata maupun isi, dan tampaknya sangat efektif, hebatnya sistem itu masih menjadi inti semua sistem modern pada zaman ini

Terlepas bahwa kita kini dapat dengan mudah mengakses komputer dan menggunakan pengial baca (teleprompter) kemampuan menyampaikan suatu argumen atau pidato berdasarkan ingatan, mengingat fakta yang terkait tanpa mengandalkan sarana lain, adalah sebuah alat yang efektif dalam komunikasi lisan dan tentu dapat meningkatkan mutu presentasi pembicara mana pun. Dalam De Orantore (2.351-60) Cicero  menjelaskan asal – usul sistem ingatan jenis ini dan menguraikan manfaat memiliki ingatan yang baik bagi seorang pembicara

Aku berterima kasih kepada Simonides dari Keios yang kabarnya merupakan orang pertama yang kabarnya merupakan orang pertama yang memperkenalkan teknik mengingat, menurut kisah ini suatu kali Simonides sedang makan di Crannon, Thessalia, di rumah Scopas, seorang bangsawan kaya, ketika Ia selesai melantunkan puisi yang ditulisnya untuk menghormati Scopas, di mana ia menulis banyak hal tentang Castor dan Pollux sebagai bumbu puisi seperti biasa dilakukan para penyair, reaksi Scopas sangat pelit. Scopas berkata kepada Simonides bahwa ia hanya akan membayar setengah harga dari yang telah disepakti untuk puisi ini, kalau mau ia boleh meminta sisanya dari temannya, Castor dan Pollux, yang telah menerima setengah pujian dari puisi. Tak lama kemudian, begitu kisahnya, Simonides mendapat pesan untuk pergi keluar, dua orang muda berdiri di pintu, hendak segera menemuinya, ia bangkit dan pergi keluar, tetapi tak melihat seorangpun, sementara itu tepat ketika Simonides pergi, ruangan dimana Scopas menyelenggarakan pesta di rumah, dan Scopas, bersama sanak saudaranya tertimbun di bawah atap yang jatuh dan meninggal. Ketika keluarga mereka hendak menyelenggarakan pemakaman, tetapi barangkali tak dapat mengenali mereka karena telah hancur seluruhnya, dikabarkan bahwa Simonides, berdasarkan ingatannya akan tempat dimana setiap dari mereka bersandar santai di meja pada waktu pesta, mengenali mereka satu per satu untuk keperluan pemakaman,  dari pengalaman ini kemudian tersiarlah kabar bahwa dialah yang menemukan bahwa tatanan/ keteraturan adalah sesuatu yang paling berguna untuk menerangi ingatan kita. Dan ia menyimpulkan bahwa barangnya hendak mendayagunakan kemampuan ini harus memilih lokalitas, kemudian membentuk citra mental mengenai hal yang hendak mereka simpan dalam ingatan mereka, dan menempatkannya di lokalitas tersebut, dengan cara ini, tatanan lokalitas akan menjaga tatanan hal ihwal, sementara citra akan menggambarkan hal ihwal itu sendiri dan kita menggunakan lokalitas ibarat papan malam wax tablet (papan kayu yang permukaannya dilapisi dengan material lunak yang plastis, dapat dibentuk digunakan sebagai semacam papan tulis portabel pada zaman kuno sampai abad pertengahan) dan citra ibarat huruf yang tertulis di permukaannya

Hanya mereka yang  memiliki ingatan kuat yang akan tau apa yang hendak mereka katakan, sejauh mana mereka akan meneruskannya bagaimana mereka hendak mengatakannya, pokok mana saja yang sudah mereka jawab dan pokok mana saja yang sudah mereka jawab dan pokok mana saja yang masih terisa. Orang seperti itu mengingat banyak bahan yang dulu pernah mereka pakai dalam kasus lain, dan banyak bahan lain yang mereka dengar pernah digunakan oleh orang lain, kini diakui bahwa kodrat adalah sumber utama kemampuan ini, sebagaimana semua kemampuan lain yang telah kubicarakan sebelumnya. Tetapi berkenaan dengan keseluruhan seni berpidato adalah benar bahwa fungsinya bukan menghasilkan atau menciptakan dari nol aap yang tidak ada sebagai kemampuan kodrati kita sendiri, melainkan memupuk dan mengembangkan apa yang sudah bersama kita sebagai bawaan lahir dan kodrati. Tetapi nyaris tak ada orang yang ingatannya begitu tajam sehingga dapat menjaga susunan semua kata dan gagasan, tanpa menata bahannya dan menggambarkannya melalui simbol juga tak ada seorang pun, sungguh yang ingatannya begitu tumpul sehingga berlatih dengan sistem ini secara teratur tak akan menolongnya sama sekali, sungguh, seperti dengan bijak diamati oleh Simonides atau siapapun yang menemukannya hal yang tergambar paling baik oleh benak kita adalah hal yang telah dinyatakan dan membekas padanya melalui salah satu indra. Yang paling tajam dari semua indra adalah indra penglihatan, maka yang tercerap oleh pendengaran, atau selama proses pemikiran, dapat ditangkap paling mudah oleh pikiran kalau hal itu juga dinyatakan pada pikiran melalui perantaraan mata. Dengan cara, seperti kita tau, objek tak kasat mata yang tak terakses bagi daya penglihatan, direpresentasikan dengan suatu sosok, suatu gambar, suatu bentuk, sehingga hal yang hampir tidak dapat ditangkap dengan berpikir, dapat dipahami dengan melihatnya, tetapi wujud konkret ini seperti segala sesuatu yang ada di bawah daya penglihatan, harus diletakkan pada suatu tempat, tidaklah terbayangkan. Karena sebab tak ingin bicara terlalu banyak atau mencolok padahal hal ini sudah umum diketahui dan biasa, lokalitas yang digunakan harus banyak terlihat jelas, dan berjarak sedang, sementara citra kita hendaknya hidup, tajam dan kentara sehingga berpeluang besar menyatakan dirinya dengan cepat dan menghantam pikiran. Latihan, titik tolak untuk mengembangkan kebiasaan akan menyediakan keterampilan yang ditbutuhkan menghafal akta yang kurang perlu bagi kita, dicirikan oleh variasi citra yang lebih banyak, bagaimanapun ada banyak kata yang berfungsi untuk mengaitkan bagian bahasa kita, dan mustahil menemukan wujud yang mirip dengannya. Untuk hal seperti itu, kita harus membentuk citra untuk digunakan secara tetap.  Tetapi menghafal isi adalah urusan yang pantas bagi orator. Inilah tempat dimana kita dapat menggunakan representasi dengan orang atau objek yang terpilih, yang tertata rapi, sehingga kita dapat menangkap pemikiran melalui sarana  citra dan urutannya melalui sarana lokalitas. Tidak benarlah, seperti selalu dikatakan oleh orang malas, bahwa ingatan akan kelelahan oleh beratnya citra dan bahwa citra itu bahkan mengaburkan apa yang dapat ditangkap dengan sendirinya oleh ingatan alamiah. Orang yang daya ingatannya kuat, Charmadas di Athena, dan di Asia, Metrodus dari Skepsis (yang kabarnya masih hidup) dan keduanya mengatakan bahwa mereka merekam apa yang ingin mereka ingat dengan sarana citra pada lokalitas yang mereka pilih, ibarat mereka menuliskannya dengan huruf pada sebuah papan malam jadi kalau seseorang tak punya kemampuan alamiah akan ingatan praktik ini tak dapat dipakai untuk menyingkapkannya tetapi kalau kemampuan itu sekadar tertidur, praktik ini harus digunakan untuk menumbuhkannya

Penyampaian. Kita semua barangkali pernah mendengar adagium kuno, yang terpenting bukanlah apa yang kau katakan melainkan bagaimana kau mengatakannya, dan kita paham dari pengalaman mendengarkan para pembicara entah mereka itu politisi, imam atau profesor bahwa ada banyak kebenaran dalam pernyataan itu, kadang hal ini dapat menjadi keadaan yang sangat disayangkan,  misalnya ketika sebuah pesan sangat bagus dengan isi yang sangat penting menjadi kabur karena suatu cara penyajian yang amat buruk,  atau sebaliknya ketika isi yang payah  atau bahkan informasi palsu dan menyesatkan menjadi terdengar menarik dan sangat menyaksikan karena cara penyajian yang istimewa. Bagaimanapun arti penting penyampaian, langkah persiapan orator yang kelima dan terakhir, sangat dihargai pada zaman kuno, sama halnya seperti sekarang, untuk menggambarkan arti penting ini, Cicero kerap menceritakan sebuah anekdot terkenal tentang orator besar Yunani, Demosthenes:

Dan hal ini menegaskan kebenaran perkataan yang dianggap berasal dari Demosthenes yang ketika ditanya apa pertimbangan terpenting dalam berbicara, menjawab penyampaian: apa yang kedua penyampaian: dan lagi apa yang ketiga penyampaian. Tak ada hal lain yang merasuki pikiran dengan lebih dalam yang mencetak, membentuk, dan melancarkannya dan memampukan para pembicara kelihatan sebagai pribadi sebagaimana mereka sendiri ingin kelihatan (Brutus 142) jadi sebagaimana lokasi, lokasi, lokasi, adalah faktor utama dalam mempertimbangkan perumahan, demikian pula penyampaian dalam perkara argumen dan pidato. Pembicaraan teroretis tentang penyampaian kerap membaginya menjadi dua kategori, suara dan gerakan, sementara gerakan itu sendiri dibagi lagi menjadi gerak tubuh dan ekspresi wajah. Dalam De Oratore, Cicero membicarakan suara, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan mendekatkannya dengan gambaran emosi yang dikehendaki oleh si pembicara. Dalam teks berikut, Crassus, tokoh utama dalam dialog, membicarakan topik ini dengan tokoh lain dan menguraikan anekdot menarik tentang cara penyampaian dari para pembicara ulang:

Segala hal akan efektif sejauh penyampaian menjadikannya efektif. Penyampaian adalah salah satu faktor dominan dalam seni berpidato. Tanpanya bahkan orator terbaik pun tak akan dianggap sama sekali, sementara seorang pembicara rata yang dipersenjatai dengan keterampilan ini sering mampu mengalahkan orator terbaik. Penyampainlah yang diberi tempat pertama, kedua dan ketiga oleh Demosthenes, ketika dinyata apa yang terpenting dalam seni berpidato. Dan apa yang dikatakan Aeschines lebih bagus, setelah kalah secara memalukan di persidangan, ia meninggalkan Athena dan mengungsi di Rhodes, di kisahkan ia membaca atas permintaan orang Rhodes, pidato istimewa yang dibawakannya untuk melawan Ctesiphon, ketika Demosthenes bertindak selaku pembela. Setelah selesai membaca, ia juga diminta membaca, pada hari berikutnya, pidato yang dibawakan oleh Demosthenes pada pihak lawannya atas nama Ctesiphon. Pidato ini dibawakannya dengan suara amat bertenaga dan didengar, setiap orang memuji, ia berkata betapa akan semakin banyak lagi pujian kalau mendengarkan Demosthenes sendiri yang berpidato, dengan komentar ini ia telah cukup menunjukkan betapa besar arti penting penyampaian sehingga dalam pandangannya, pidato yang sama akan menjadi berbeda kalau orang lain membawakannya. Bagaimana dengan Gracchus? Catulus  mengingatnya lebih baik daripada aku, bahwa ia banyak dibicarakan ketika aku masih muda. Dimana dapat mencari perlindungan dalam kesengsaraan? Kemana dapat berpaling? Ke Gedung Capitol? Tetapi gedung itu dibanjiri oleh darah saudaraku! Ke rumah? Sehingga dapat memandang ibuku dalam kesengsaraan, dilanda nestapa dan putus asa? Pada umumnya orang sepakat bahwa ketika menyampaikan kata ini, mengurasi mata, suara, dan gerak tubuhnya sedimikian rupa sehingga bahkan musuhnya pun tak sanggup menahan air mata. Aku membicarakan hal ini agak rinci karena para orator, yang bertindak dalam kehidupan nyata, telah mengabaikannya seluruhnya, sedangkan para aktor, yang hanya sekadar peniru kenyataan justru menghayati. Dan tak diragukan dalam segala hal, kenyataan lebih bermanfaat daripada tiruan. Tetapi kalau kenyataan dari dirinya sendiri sudah cukup efektif dalam penyampaian, tak akan membutuhkan keterampilan sama sekali, tetapi emosi yang harus secara khusus diungkapkan atau ditiru melalui penyampaian, kerap sedemikian campur aduk sehingga ia kabur dan hampir pada, jadi harus menyingkirkan apa yang membuatnya kabur dan menganut sifatnya yang paling unggul dan paling kelihatan jelas, sebab, menurut kodratnya setiap emosi memiliki ekspresi wajah, nada, suara, dan gerak tubuhnya sendiri. Segenap tubuh manusia, segala eskpresi wajah dan semua ujaran suara, seperti senar pada sebuah lira, bersuara dengan cara yang persis sebagaimana dilanda oleh setiap emosi. Suara dapat meregang kencang seperti senar sebuah alat musik, sebagai tanggapan terhadap tiap sentuhan, ia dapat pula bersuara tinggi, rendah, cepat, lambat, keras, dan lembut., dan terlepas dari setiap ekstrem ini, ada juga yang dalam setiap kategori, titik tengah diantara ekstrem. Apalagi dari jenis suara ini dapat diturunkan juga jenis lain: halus dan kasar, suara yang tertahan dan berdaya jangkau luas yang mulus dan patah, yang parau yang tercekik, yang semakin mengeras dan semakin lirih juga disertai perubahan titinada. Penggunaan setiap jenis ini diatur dengan keterampilan. Ia dapat divariasikan menurut kehendak dalam penyampaian sebagaimana warna dalam lukisan. Rasa marah menunut penggunaan satu jenis suara, tinggi, dan tajam, penuh kejutan, patah berulang kali, rasa takut memiliki jenis suara lain, lemah, penuh keraguan, penuh kesedihan, pidato yang bertenaga memiliki jenis suara lain, intens, bergelora, menggertak, dan dengan antusiasme yang sungguh. Rasa bahagia membutuhkan nada lain, lepas bebas dan lembut, ceria, dan santai. Semua emosi harus disertai dengan gerak tubuh, bukan gerak tubuh yang digunakan dalam tata panggung yang menggambarkan kata satu per satu, melainkan gerak tubuh yang menandakan isi dan gagasan sebagai suatu keseluruhan, bukan dengan menirukannya, melainkan dengan menunjuknya. Untuk melatihnya orang  membutuhkan sikap tubuh yang bertenaga dan gagah, yang contohnya dapat dilihat bukan pada aktor panggung, melainkan pada mereka yang bertarung dengan senjata atau disekolah gulat. Tangan jangan terlalu ekspresif, lebih bersifat menyertai daripada menggambarkan kata dengan jari, lengan sebaiknya maju sedikit seakan pidato kita menggunakannya sebagai senjata. Dan hendaknya menghentakkan kaki pada awal atau akhir bagian pidato yang bertenaga. Tetapi segalanya tergantung pada wajah, pada gilirannya seluruh didominasi oleh mata. Jadi generasi tua cukup tepat untuk tak terlalu memuji Roscious ketika ia  menjalankan peran dengan memakai topeng, sebab penyampaian adalah seluruhnya perkara jiwa, dan wajah adalah citra jiwa, sementara mata memantulkannya, wajah adalah satunya bagian tubuh yang dapat menghasilkan begitu banyak jenis tanda, sama banyaknya dengan perasaan dalam jiwa, dan tentu tak seorang pun dapat menghasilkan dampak tersebut kalau matanya tertutup, Theophrastus pernah berkata bahwa seorang bernama Tauriscus suka menyebut seorang yang pandangannya terpaku pada objek tertentu ketika sedang menyampaikan pidato sebagai seorang aktor yang membelakangi penonton. Karena itu cukup penting mengatur ekspresi mata. Hendaknya kita tak terlalu sering mengubah air muka, supaya tak mengacaukannya atau kelihatan seperti seorang dungu, matalah yang hendaknya digunakan untuk mengungkapkan perasaan secara cocok dengan jenis pidato yang sedang dibawakan, dengan intens atau santai dengan penampilan serius atau ceria,  dengan demikian penyampaian tak lain adalah bahasa tubuh,  sesuatu yang menjadikannya sedemikian penting sehingga harus cocok dengan apa yang dimaksudkan dan alam telah memberi mata untuk mengungkapkan perasaan, sebagaimana memberi surai, ekor, dan telinga pada kuda dan singa, jadi unsur paling menentukan dalam penyampaian kita, disamping suara, adalah ekspresi wajah kita dan dikendalikan dengan mata kita

Semua unsur penyampaian memiliki suatu daya tertentu yang telah dianugerahkan oleh alam, itulah mengapa penyampaian berpengaruh kuat, bahkan pada orang yang tak berpengalaman, kerumunan orang biasa, dan juga orang asing, bagaimanapun kata hanya memiliki dampak bagi mereka yang terikat pada si pembicara oleh bahasa yang sama dan pemikiran cerdas kerap luput dari pemahaman orang yang tak cukup cerdas, tetapi penyampaian yang menampilkan perasaan jiwa, berdampak pada siapa saja, sebab jiwa setiap orang digerakkan oleh perasaan yang sama, dan melalui tanda yang samalah orang mengenalinya dalam diri orang lain dan menyatakannya dalam diri mereka sendiri, kalau membahas keefektifan dan keunggulan dalam hal penyampaian, tak diragukan bahwa suara memainkan peran terpenting, pertama suara yang baik adalah suatu idaman yang pantas dimiliki, tetapi yang kedua, jenis suara apapun yang dimiliki, harus dijaga, berkenaan dengan hal ini, pernyataan tentang bagaimana memelihara suara kita, tidak begitu terkait dengan jenis pengajaran yang sekarang sedang kuberikan kendati aku percaya bahwa harus memeliharanya baik – baik. Tetapi penyelidikan yang kubuat beberapa saat lalu tampaknya bukan sama sekali tidak terkait dengan tugasku dalam percakapan ini, yakni bahwa dalam sebagian besar perkara, apa yang paling berguna entah bagaimana adalah sekaligus yang paling pantas, demi menjaga suara tak ada yang lebih berguna ketimbang melakukan modulasi secara teratur, sedangkan tak ada yang lebih berbahaya ketimbang mengerahkan suara tanpa kendali dan tanpa jeda, lagi pula, apa yang lebih cocok bagi telinga kita dan demi penyampaian yang menyenangkan selain pergantian, variasi, dan perubahan suara, sesungguhnya Gracchus yang tadi disebut juga berbuat demikian, ketika ia berbicara dalam sebuah rapat umum, ia selalu menyiapkan seseorang yang berdiri diam di belakangnya dengan sebuah seruling kecil yang terbuat dari gading, seorang terampil yang akan membunyikan nada dengan cepat yang entah akan membangkitkannya ketika suaranya turun, atau mengingatkannya kembali ketika ia berbicara dengan tegang, ada suatu titik tengah dalam setiap suara (kendati hal ini berbeda pada setiap individu) menaikkan volume suara secara bertahap dari titik tengah ini, bermanfaat dan membuat orang senang, sebab berteriak sejak permulaan adalah sesuatu yang berangasan untuk dilakukan, dan pendekatan bertahap ini pada saat yang sama bermanfaat, sebab ia akan memperkuat suara. Terlebih ada batas tertentu untuk menaikkan suara yang tingkatannya masih saja lebih rendah daripada berteriak sekencangnya. Lebih tinggi dari itu,  seruling tak akan mengizinkan sementara ia juga akan mengingatkan ketika sudah mencapai batas ini. Demikian pula pada ujung sebaliknya, ketika merendahkan suara, ada juga suara paling rendah, dan ini capai tahap demi tahap, menurun dari titinada demi titinada. Dengan variasi ini, dan dengan demikian menjelajahi semua titinada, suara akan memelihara dirinya sendiri dan membuat penyampaian menjadi menyenangkan, dan sementara akan meninggalkan seseorang dengan seruling tadi di rumah, akan membawa ke depan umum kepekaan akan hal ini bersamamu, yang telah diperoleh melalui latihan (De orantore 3.213-27)

Pentingnya meniru panutan yang baik dalam berpidato. Pada zaman kunim seperti halnya sekarang, meniru panutan yang baik dipandang sebagai sarana pendidikan yang efektif. Bahkan pada zaman Cicero, adalah wajar bagi seorang muda untuk memasuki semacam kegiatan magang, yang kala itu disebut tirocinium fori, dimana akan  mengikuti seorang warga negara atau negarawan terkemuka untuk mengamati kegiatannya di forum dan di pengadilan, adalah penting pula untuk memilih panutan yang baik dalam seni berbicara di depan umum, dan meniru kekuatannya, seraya mengesampingkan kelemahannya, Antonius tokoh utama lain dalam De Oratore, menguraikan manfaat panutan yang baik dalam persuasi yang efektif, ketika ia memberi nasihat kepada anak didiknya, Catulus dan Sulpicius, tentang perkara ini:

Baik, Catulus izinkan aku memakai kawan kita disini Sulpicius sebagai titik tolak atau pertama kali mendengarkannya dalam sebuah kasus kecil, ketika ia masih cukup muda, suaranya, penampilannya, gerak tubuhnya, dan semua kualitasnya cocok untuk tugasnya yang sedang kita bicarakan, tetapi caranya berbicara cepat dan terburu nafsu suatu tanda bakatnya, katanya mendidih oleh gairah dan agak terlalu bersemangat, suatu tanda sifat mudanya. Menurutku ini bukan sesuatu yang pantas dihina, aku suka melihat kesuburan dalam diri seorang muda, sebab, ibarat anggur, lebih mudah memeriksa apa yang  telah tumbuh terlalu berlimpah daripada mengolahnya untuk menghasilkan tunas baru manakal pokok anggurnya lemah, demikian dalam diri seorang muda, bagian tertentu hendak kupangkas sebab dalam suatu pertumbuhan yang telah mencapai kemenangan terlalu cepat, vitalitas tak bisa awet. Aku segera mengenali vitalitas tak bisa awet, aku segera mengenali bakatnya dan tanpa buang waktu, aku mendorongnya untuk memilih forum sebagai sekolah dimana dapat belajar, dan untuk memilu guru yang ia suka tetapi kalau mendengarkan nasihatku, guru itu hendaknya adalah Lucius Crassus, dengan penuh minat pemuda itu mengikuti saranku dan menyakinkan bahwa itulah yang memang hendak ia lakukan, juga menambah, tentu terdorong oleh kesopanan, bahwa aku pun akan menjadi gurunya, belum ada setahun berlalu sejak mendorongnya ketika ia mengajukan tuntutan atas Gaius Norbanus dan aku membela, perbedaan yang kuperhatikan antara Sulpicius pada waktu itu dan Sulpicius yang kulihat tahun sebelumnya luar biasa. Memang benar bahwa kemampuan kodratinya sendiri membawanya dekat dengan gaya Crassus yang agung dan megah, akan tetapi kemampuan kodrati itu saja tak akan memampukannya mencapai hasil yang cukup, kalau ia tidak mengarahkan daya upaya pada tujuan yang sama dengan meniru Crassus secara penuh minat dan mengembangkan kebiasaan berbicara dengan segala pikiran dan perhatian yang terpusat padanya. Jadi inilah panduan pertama yang kuberikan kepada calon orator: aku akan memperlihatkan kepadanya siapa yang hendaknya ia tiru, berikutnya yang hendaknya digabungkan dengan ini, adalah latihan melaluinya ia harus meniru dan dengan demikian menyalin dengan cermat panutan yang dipilihnya, tetapi bukan dengan cara telah banyak dilakukan oleh para peniru seperti telah kuketahui, sebab orang sering mengarahkan kegitan menirunya pada sifat yang mudah disalin, atau bahkan pada sigat keliru yang kebetulan mencolok, yang paling mudah adalah meniru cara orang berpakaian atau berdiri atau bergerak, dan tentu kalau si panutan itu memiliki beberapa keliruan bukan sesuatu yang istimewa untuk menggunakannya dan untuk memamerkan sendiri kekeliruan yang sama, seperti Fufius ini yang mengoceh di tingkat negara bahkan sampai sekarang setelah kehilangan suaranya, seni pidationya gagal mencapai gelora Gaius Fimbria yang terakhir ini tentu memilikinya, padahal ia telah meniru mulutnya yang bengkok dan logatnya kasar, tetapi Fufius tak paham bagaimana memilih panutan yang paling cocok baginya dan ia ingin meniru panutan yang dipilihnya bahkan dalam kekeliruannya. Barangsiapa ingin mengerjakan sesuatu dengan baik haruslah mengerjakan sesuatu dengan baik haruslah, pertama sangat hati – hati dalam membuat pilihan dan ia juga harus membaktikan seluruh perhatiannya untuk menggapai kualitas panutannya yang telah terbukti juga yang sungguh istimewa. Maka siapa saja yang ingin mencapai kemiripan melalui peniruan seperti itu, ia harus mengejar tujuan ini dengan latihan yang sering dan luas cakupannya dan secara khusus dengan menulis. Bahasa Sulpicius akan jauh lebih padat, kalau melakukan hal ini dalam keadaannya yang sekarang, bahasanya itu memuat semacam kerimbunan seperti para petani bicara tentang rumput ketika sedang lebat yang harus dipangkas rapi dengan pena (De Oratore 2,88-92,96)

Pentingnya menulis untuk mempersiapkan pidato yang efektif. Arti penting belajar menulis secara diakui di lingkungan pendidikan zaman ini, semakin banyak pula yang mengakui arti penting komunikasi lisan yang efektif sebagai suatu keterampilan yang perlu diberikan kepada para siswa kita yang hendak memasuki dunia nyata. Kaitan antara berbicara dengan baik dan menulis dengan baik, kendati barangkali tak segera dikenali oleh beberapa orang, tentu amat jelas bagi Cicero, seperti disebut di depan (12 -13), karangan tertulis yang efektif memerlukan langkah persiapan berupa penemuan, penyusunan, dan gaya 3 langkah persiapan utama orator, dan dengan demikian berperan sebagai suatu latihan panutan dalam pembinaan menuju pidato yang efektif. Menurutku kata Crassus, sepakat dengan kebiasaan untuk bertitik tolak dari kasus yang mirip dan membicarakannya dengan cara sejujurnya. Akan tetapi kebanyakan orang, ketika melakukannya, sekadar melatih suaranya dan tak terlalu piawai dalam hal itu, membina kekuatannya, meningkatkan kecepatan lidahnya, dan bersuka ria dengan banjir katanya, mereka mendengar pepatah bahwa cara menjadi pembicara adalah dengan berbicara, dan ini menyesatkan mereka, sebab ada pepatah lain yang sama benarnya, cara trmudah untuk menjadi seorang pembicara yang celaka adalah dengan berbicar secara celaka. Karena alasan ini kendati berguna juga dalam sesi latihan untuk berbicara spontan secara rutin, adalah lebih berguna untuk menyediakan waktu refleksi, supaya dapat berbicara dengan persiapan lebih baik dengan lebih hati – hati. Akan tetapi yang lebih mendasar adalah sesuatu yang sesungguhnya, paling jarang kita lakukan sebab ia melibatkan daya upaya yang besar, yang kebanyakan dari kita berupaya menghindarinya yang kumaksud adalah menulis sebanyak mungkin adalah pena ya pena yang merupakan guru dan pencipta paling baik dan paling unggul dalam urusan berbicara. Aku mengatakan hal ini dengan pertimbangan yang sangat beralasan: kalau pidato spontan dan serampangan dapat dengan mudah dilampui dengan persiapan dan refleksi yang terakhir itu, pada gilirannya, tentu akan dapat ditaklukkan dengan menulis secara ajek dan tekun, sebab kalau menyelidiki perkaranya dan memikirkannya dengan seluruh daya pertimbangan kita, semua pola umum sekurangnya sejauh ia melekat pada tema yang sedang ditulis, entah itu yang diperoleh melalui latihan maupun melalui, dalam kadar tertentu, kemampuan kodrati dan kepandaian, muncul dalam diri kita, menyingkapkan dirinya kepada pikiran kita, semua gagasan dan semua kata yang paling cocok untuk setiap jenis tema, juga yang paling jelas dan cemerlang tidak bisa tidak melewati goresan pena kita yang silih berganti, apalagi dengan menulis, kita sekaligus menyempurnakan kemampuan menyusun dan memadukan kata, bukan dengan cara puitis, melainkan dengan cara yang sesuai dengan standar dan ritme pidato. Inilah unsur yang membuat seorang orator yang baik dapat memenangkan seruan setuju dan kekaguman, dan tak seorang pun akan menguasainya kecuali ia menulis panjang dan banyak bahkan kalau ia telah melatih diri dengan amat bersemangat dalam pidato spontan, juga barangsiapa berpidato setelah banyak berlatih menulis akan membawa kemampuan ini bersamanya bahkan ketika ia berimprovisasi yang dikatakannya akan tetap kelihatan mirip dengan teks  tertulis, dan lagi kalau suatu kali ia membawa teks ketika hendak berbicara, begitu ia berhenti mengikuti teks, seluruh sisa pidato akan tetap mirip dengan teks itu, sebuah kapal yang sedang melaju dengan kecepatan penuh, ketika tiba para pendayungnya berhenti mendayung, tetap mempertahankan momentum dan lajunya kendati dorongan dayung telah berhenti. Hal yang sama terjadi dalam kasus pidato ketika teks tertulis tak lagi di tangan, sisa pidato masih tetap melaju, terdorong oleh kesamaan dengan apa yang telah ditulis dan oleh rangsangannya. Apa yang dulu kulakukan sebagai orang yang masih sangat muda dalam sesi latihan harian adalah menerapkan latihan yang sama dengan yang ku ketahui juga diterapkan oleh Gauis Carbo, musuh lamaku, aku akan merancang beberapa bait sebagai model, seimpresif mungkin atau aku akan membaca sebuah pidato, sebanyak mungkin sejauh aku sanggup menghafalkannya, lalu aku akan mengungkapkan persis apa yang telah kubaca, dengan menggunakan kata lain sejauh aku bisa, tetapi tak lama setelahnya, aku sadar bahwa metode ini memiliki suatu kekurangan: kata yang paling cocok dalam setiap kasus, dan yang paling indah serta paling istimewa sudah digunakan oleh Ennius kalau aku sedang berlatih dengan baitnya atau oleh Gracchus kalau kebetulan sedang menggunakan pidatonya sebagai model, maka kalau aku memilih kata yang sama, aku tidak belajar apapun,  dan kalau aku memilih kata lain, sesungguhnya aku sedang mencelakakan diriku sendiri, sebab dengan demikian aku membiasakan diri menggunakan kata yang kurang cocok, kemudian tampaknya baik bila aku dan inilah latihan yang ku praktikkan ketika sudah agak lebih tua mengambil pidato dari para orator besar Yunani dan merumuskannya ulang. Manfaat memilih cara ini bukan hanya bahwa Latin apa yang telah ku baca dalam bahasa Yunani, aku dapat memakai kata yang paling bagus yang umum digunakan,  melainkan juga bahwa dengan menyadur kata Yunani, aku dapat menemukan kata lain yang baru bagi bahasa kita, asalkan kata itu cocok (De Oratore 1.149 – 55)

Persyaratan dan pendidikan pembicara ideal. Bila kita ingat lagi pokok dalam buku kecil ini dan menimbang langkah persiapan bagi pembicara dan panduan retorika yang ditawarkan dalam buku pegangan retorika yang tipikal pada zaman Cicero, kita sadar bahwa apa yang kita temukan hanyalah sebuah puncak gunung es, suatu uraian lengkap mengenai banyak buku semacam ini. Terlebih, menurut Cicero panduan persuasi yang termuat dalam buku pegangan biasa hanyalah sebagian kecil dari apa yang benar diperlukan, untuk mencetak seorang pembicara yang sungguh dia yang memiliki daya yang tulen dan kemampuan untuk membujuk para pendengarnya, tantangan berbicara secara efektif di depan umum adalah suatu tantangan besar dan melakukannya secara efektif dan sukses membutuhkan bukan hanya pengetahuan tentang panduan  seni retorika, bakat bawaan lahir dalam kadar tertentu, dan latihan yang tekun, melainkan juga suatu wawasan yang luas dan mendalam tentang tema yang kini masih kita kenal sebagai humaniora (liberal arts) pantaslah bila kita menyimpulkan tinjaun kita mengenai persuasi ala Cicero ini dengan suatu titik dimana Cicero sendiri mulai dalam bagian kata pengantar dari De Oratore, yang ditajukan kepada saudaranya, Quintus, Marcus berbicara cukup panjang tentang menguraikan apa yang menurutnya merupakan syarat orator ideal yang penjelasan rincinya akan ia lanjutkan dalam halaman selanjutnya dari maha karya, seperti telah di katakan hanya sedikit saja yang sanggup memenuhi tuntutan itu, tetapi pengetahuan mengenai seni berpidato itu sendiri penerapan intelek, dan pendidikan luas, akan membantu kita semua untuk menjadi pembicara yang lebih efektif yang tau bagaimana meyakinkan orang dan memenangkan suatu argumen

Menurutku bila aku merenungkan orang paling agung dan berbakat, pertanyaan berikut membutuhkan jawaban, mengapa banyak orang melatuh diri untuk  menjadi unggul dalam seni lain, tetapi tidak dalam seni berpidato, arahkan pikiran dan perhatian kemana saja kamu mau, dan kamu akan melihat banyak orang yang unggul dalam setiap jenis ikhtiar, bukan sekadar dalam seni rendah melainkan dalam seni yang dapat disebut paling penting. Misalnya kalau orang menilai pengetahuan orang terkenal berdasarkan kegunaan atau arti penting pencapaiannya tidakkah ia akan mendahulukan si jenderal ketimbang, si orator tetapi tak diragukan bahwa bahkan dari Negara saja, kita dapat membuat daftar yang hampir tak terhingga tentang para pemimpin perang yang sangat istimewa, tetapi kita hanya mampu menyebut sedikit saja yang unggul dalam seni berpidato. Tambahan pula banyak orang telah muncul dengan kemampuan menuntun dan mengendalikan arah Negara dengan kebijaksanaan dan nasihat, banyak dalam ingatan kita sendiri, lebih banyak lagi dalam ingatan orang tua kita dan bahkan semakin banyak lagi dalam ingatan para leluhur sedangkan sudah sekian lamanya sama sekali tidak didengar ada pembicara yang baik, dan seluruh generasi jarang menghasilkan pembicara, bahkan yang sekadar lumayan sekali pun. Tetapi beberapa orang mungkin berpendapat bahwa seni berpidato ini lebih tepat dibandingkan dengan ikhtiar lain, yaitu apa yang melibatkan cabang studi yang abstrak dan bacaan yang beragam dan luas, dan bukan dengan sifat jenderal atau kebijaksaan senator yang baik, kalau begitu biarlah mereka mengarahkan perhatiannya pada cabang studi, dan memeriksa siapa dan berapa banyak yang telah melatih dirinya menjadi unggul dalam setiap cabang, dengan cara ini, mereka akan cukup mudah menyimpulkan betapa kecilnya jumlah orator sejak dulu sampai sekarang. Misal seperti tentu kau ketahui, orang paling terpelajar menganggap filsafat, seperti orang Yunani menyebutnya sebagai pencipta dan ibu dari segala katakanlah seni/ilmu yang bernilai, bahkan dalam filsafat, sulitlah menemukan berapa orang yang pernah ada mereka yang terkenal dengan pengetahuannya yang berlimpah dan dengan beragam serta luasnya ranah studinya, yang bukan hanya bekerja sebagai spesialis dalam 1 ranah melainkan merangkul semua yang ada dalam penyelidikan mereka yang menyeluruh atau penalaran dialektis mereka, kita semua tau berapa kaburnya tema yang ditangani oleh mereka yang kerap disebut ahli matematika, dan betapa abstrak, rumit, dan eksaknya seni/ilmu yang mereka urus. Tetapi bahkan dalam ranah inu, begitu banyaknya orang jenius muncul sehingga hampir tak seorang pun yang membaktikan tenaga untuk menguasainya kelihatan gagal, berkenaan dengan teori musik, dan studi bahasa serta sastra yang kini populer (profesi yang kerap disebut ahli tata bahasa) adakah seorang yang sungguh membaktikkan diri padanya tanpa berhasil memperoleh pengetahuan yang cukup untuk mencakup wilayah lengkap yang hampir tak terbatas, mengenai seni/ ilmu itu. Menurutku cukup adil bagiku untuk mengatakan bahwa dari semua orang yang telah terlibat dalam ikhtiar dan studi mengenai seni/ilmu yang sungguh terhormat, kontingen terkecil adalah kontingen yang berisikan para penyair dan pembicara istimewa. Dan lagi, kalau kamu lihat kelompol ini, dimana keunggulan amat jarang, dan kalau kamu mau mengadakan suatu seleksi yang cermat, baik dari golongan kita maupun dari golongan orang Yunani, kamu akan mendapati bahwa ada jauh lebih sedikit orator yang baik daripada penyair yang baik. Kenyataan ini semakin mengherankan kalau sadar bahwa stuid mengenai seni lain biasanya menggunakan sumber abstrak dan tersembunyi, sedangkan semua prosedur seni berpidato ada dalam jangkauan orang dan berkenaan dengan pengalaman sehari dan dengan kodrat manusia dan tuturannya, ini berarti bahwa dalam seni lain, pencapaian tertinggi adalah persis yang paling asing dari apa yang dapat dimengerti dan ditangkap oleh orang awam, sedangkan dalam seni berpidato, kesalahan terburuk adalah menyimpang dari cara berbicara sehari dan cara pandang umum diterima. Bahkan orang tak dapat mengatakan bahwa lebuh banyak orang melatih diri pada seni lain, atau bahwa mereka yang melakukannya terdorong untuk menguasainya, karena seni menjanjikan rasa nikmat yang lebih atau harapan lebih beragam atau imbalan lebih besar. Dan dalam arti itu aku tak perlu menyebut Yunani yang  selalu bersuka cita menempati kedudukan terkemuka dalam hal kefasihan berbicara, atau kota Athena yang termasyhur itu, penemu segala pembelajaran dimana seni berpidato pada tarafnya yang tertinggi ditemukan dan disempurnakan juga bahkan di masyarakat kita ini, tak satu bidang studi pernah memperoleh popularitas yang sedemikian penuh semangat seperti studi kefasihan berbicara, begitu berhasil membangun kekuasaan atas segala bangsa dan perdamaian yang stabil memberikan kepada kita waktu luang hampir setiap orang muda ambisius berpikir bahwa ia harus membaktikkan dirinya pada seni berpidato, dengan seluruh daya yang ia punya, benar pada mulanya mereka hanya mencapai titik sejauh kemampuan kodrati dan refleksinya sendiri memungkinkan, sebab mereka belum tau teori apapun, dan menganggap bahwa tidak ada metode yang pasti untuk berlatih, atau tidak ada panduan seni apapun, tetapi begitu mereka mendengarkan para orator Yunani, mengenal tulisan Yunani tentang tema itu, dan minta pertolongan dari para guru, rakyat, kita terbakar oleh gairah untuk mempelajari hal ini mereka terdorong oleh cakupan, variasi, dan sering terjadinya berbagai jenis kasus, sehingga pengetahuan teoretis yang telah diperoleh masing – masing melalui studi sendiri, dilengkapi dengan latihan yang ajek, sesuatu yang lebih efektif daripada panduan semua guru, tambahan pula dahulu, seperti halnya sekarang, tersedia di hadapan mereka imbalan terbesar atas ikhtiar ini dalam rupa pengaruh, kekuasaan, dan prestise. Apalagi ada banyak tanda bahwa kemampuan kodrati rakyat kita jauh lebih unggul ketimbang semua yang lainm dari segala bangsa lain. Mengingat semua ini, siapa yang tak akan heran bahwa dalam selurun sejarah generasi, sejarah zaman dan sejarah masyarakat, hanya ada sedikit jumlah orator yang dapat ditemukan tetapi sesungguhnya kemampaun ini adalah sesuatu yang lebih besar, dan lebih merupakan kombinasi antara seni dan ikhtiar, daripada yang umumnya disangka,  sebab, mengingat banyaknya jumlah murid magangm berlimpahnya pasokan guru yang tersedia, bakat istimewa yang terlibat, variasi kasus yang tak habisnya dan megahnya imbalan yang mungkin diperoleh dari kefasihan berbicara satunya penjelasan masuk akal  untuk langkahnya orator ini tentu luasnya cakupan dan sulitnya seni berpidato. Untuk memulai, orang harus memperoleh pengetahuan tentang banyak hal, sebab tanpanya, arus kata akan macet dan konyol bahasa itu sendiri harus ditempa, bukan hanya dalam hal pilihan kata, melainkan juga penyusunannya yang juga diperlukan adalah keakraban mendalam dengan semua emosi yang dengannya alam telah memberkati umat manusia, sebab dalam menenangkan atau menggugah perasaan audiens daya seni berpidato yang sepenuhnya dan semua sarana yang tersedia haruslah didayagunakan tambahan pula, penting untuk memiliki suatu semangat dan selera humor tertentu, adab yang pantas layaknya orang terhormat, dan suatu kemampuan untuk cepat dan singkat padat dalam membantah maupun menyerang, berpadu dengan kehalusan, keanggunan, dan sopan santun, terlebih, orang harus paham seluruh sejarah dengan gudang contih dan presedennya juga ia tak boleh gagal menguasai UU dan hukum  sipil. Tentu aku tak perlu menambah dengan penyampaian bukan, ini harus diatur dengan gerak tubuh, gestur, ekspresi wajah dan dengan peralihan serta ragam suara. Seberapa peralihan serta ragam suara, seberapa besar upaya yang dibutuhkan untuk hal ini bahkan dari dirinya sendiri, dapat diamati melalui keterampilan biasa para aktor di panggung sebab meski masing dari mereka berupaya mengatur ekspresi wajah, suara, dan gerakannya kita semua tau sejak dulu sampai kini betapa sedikit aktor yang sungguh yang dapat ditonton hingga jijik, apa yang harus ku katakan tentang ingatan, gudang barang berharga itu, jelaslah bahwa kalau kemampuan ini tidak dipasang sebagai penjaga gagasan dan kata yang telah kita rancang dan yang telah dipikirkan baik untuk pidato kita semua kualitas orator, secemerlang akan sia, berhenti menerka mengapa hanya ada sedikit saja pembicara fasih, mengingat bahwa kefasihan berbicara bergantung  pada perpanduan semua pencapaian ini yang masing saja sudah merupakan tugas berat untuk disempurnakan,  daripada menerka hendakkah kita mendorong anak kita, dan semua orang yang nama baik dan reputasinya berharga bagi kita, untuk sepenuhnya menyadari cakupannya yang luas., janganlah mereka mengandalkan panduan atau para guru atau metode latihan umum melainkan percayalah bahwa mereka dapat mencapai tujuannya dengan panduan, guru, dan metode latihan yang lain, sekarang aku berpendapat bahwa mustahil bagi siapa saja untuk menjadi orator yang diberkati dengan semua sifat yang pantas dipuji, kecuali ia telah memperoleh pengetahuan tentang semua tema dan keterampilan yang penting, sebab tentu melalui pengetahuanlah sebuah pidato akan bersemi dan mencapai kepenuhan kecuali bila si orator sudah menguasai pidatonya akan seluruhnya kosong, ya hampir seperti celoteh kekanakan (De Oratore 1.6 -20)

Contekan ala Cicero untuk efektif berpidato:

1.      Kodrat, seni dan latihan. Inilah 3 persyaratan untuk menjadi pembicara efektif. Pembicara yang baik harus memiliki kualitas tertentu yang dianugerahkan oleh alam/kodrat misalnya suara yang enak didengar dan kemampuan melantangkannya, pemahaman tentang kumpulan sistematis pedoman retorika yakni penguasaan seni retorika yakni penguasaan seni retorika juga penting, akhirnya bakat alamiah dan pemahaman tentang panduan itu harus dipoles dan dibina dengan latihan yang terencana dan tekun

2.      Kefasihan berbicara adalah sebuah senjata ampuh. Kemampuan manusia untuk berpikir dan kemampuan mengungkapkan perasaan itu melalui ujaran persuasif, menurut Cicero adalah unsur yang membedakan manusia dari makhluk lain bila disalurkan dengan benar dan dilandasi pemikiran yang baik, pidato yang fasih adalah senjata ampuh untuk membawa kebaikan dalam masyarakat, para pembicara paling berbakat harus selalu mencamkan besarnya daya yang dimiliki pidato mereka terhadap orang lain dan menggunakannya demi kemajuan masyarakatnya

3.      Kenali, susun, hafal ketika mulai menyusun suatu argumen atau pidato, orang hendaknya pertama mengenali pokok permasalahan dan menemukan bahan yang cocok untuk membuktikannya lantas susunlan bahan itu secara efektif dan strategis, terapkan gaya yang cocok kemudian kalau perlu masukkan ke dalam ingatan dan akhurnya gunakan cara yang cocok untuk menyampaikan argumen, inilanh yang kerap disebut langkah persiapan seorang pembicara, merancang garis besar apa yang hendak dilakukannya dan urutan untuk membangun sebuah pidato yang efektif. Tiga langkah persiapan yang pertama juga dapat digunakan secara efektif dalam karangan tertulis

4.      Bukan dengan logika saja. Persuasi melibatkan lebih dari sekadar berargumen secara logis, tersedia 3 sumber persuasi bagi pembicara: argumentasi rasional, pembuktian, berdasarkan karakter dan tarikan emosi, Aristoteles mengindentifikasi 3 sumber pembuktian atau persuasi dan Cicero menyarankan untuk menggunakan semuanya mengajar, membuat senang dan menggerakan audiens, orang dapat menggunakan alat logika, misalnya penalaran deduktif dan induktif digambarkan dalam silogisme dan contoh atau ia dapat mengandalkan pembuktian berdasarkan penggambaran karakter seseorang atau membujuk dnegan tarikan emosi, ada waktu dan tempat untuk masing – masing dan seorang pembicara terampil akan tau kapan dan dimana menggunakan ragam cara pembuktian ini

5.      Kenali audiens. Ketika sedang menyusun kata, kalimat, dan paragraf untuk sebuah argumen atau pidato, si pembicara hendaknya ingat bahwa ada gaya yang berbeda dan bahwa konteks serta audiens tertentu menuntut gaya yang tertentu dan cocok entah itu gaya biasa, sedang, atau agung. Apakah orang berargumen dengan seorang teman atau mempresentasikan sebuah makalah di kelas, atau membuktikkan laporan pernyataan sikap di pengadilan, masing membutuhkan gaya akan menyesuaikan tingkatan gayanya menurut konteks dan audiens yang sedang disapanya

6.      Berbicaralah dengan jelas dan tepat. Terlepas dari gaya tertentu yang digunakan pembicara akan dengan tekun dan cermat menerapkan keutamaan atau mutu gaya, pada pidato atau argumen mereka: ketepatan, kejelasan, kegemilangan dan kepantasan. Entah dalam tingkatan gaya manapun sebuah argumen ditempatkan si pembicara harus memastikan bahwa bahasa yang digunakan tepat dalam hal sintaksis dan tata bahasana, bahwa ia diungkapkan dengan cara sejelas mungkin, bahwa ia dijadikan gemilang dengan menggunakan kata kiasan dan makna figuratif, dan bahwa ia seluruhnya cocok dengan waktu, konteks,dan audiens

7.      Penyampaian sangatlah penting. Kadang yang terpenting bukanlah apa yang dikatakan melainkan bagaimana mengatakannya, Cicero paham dan sadar kekuatan penyampaian, yakni cara sebuah pidato atau argumen disampaikan, mungkin semua pernah punya pengalaman dengan seorang guru yang memiliki pemikiran brilian dan pengetahuan ensiklopedia tentang suatu tema, tetapi tidak bisa menyajikan materi dengan jelas dan meyakinkan sebaliknya barangkali juga pernah mendengar seorang politisi atau sales mempesona orang dengan presentasi memikat yang diteliti lebih dekat sesungguhnya isinya bolong sana sini penyampaian yang efektif mengenai suatu argumen atau pidato dengan menggunakan suara dan gerak tubuh yang terampil, dapat menjadi faktor penentu dalam memenangkan suatu argumen

8.      Meniru seseorang adalah cara diam untuk meghormatinya dan bahkan lebih dari itu, Cicero sangat yakin akan pentingya menemukan panutan yang baik untuk ditiru, pembicara terbaik adalah mereka  yang telah mengenali panutan unggul dan telah membiasakan diri meniru kekuatannya, seraya mengesampingkan kelemahannya, beberapa panutan pantas dipertimbangkan sambil memungut apa yang terbaik dari masing – masing

9.      Pena kerap lebih tajam daripada pedang, lidah dapat menjadi senjata terpenting seorang pembicara yangb berbakat, tetapi menurut Cicero, ia terkait sangat erat dengan penat. Kalau ingin meningkatkan kemampaun berbicara menulis dan menulis beragam dan banyak demikian Cicero kunci untuk mencapai tujuan

10.  Kata, tanpa substansi adalah hampa, Cicero yakin bahwa pidato yang paling efektif, yang persuasif  mengalir dengan sendirinya dari pokok perkara yang mendasari, tanpa pengetahuan yang kokoh dan luas sebagai fondasi, kata mengalir dari mulut pembicara tak lain daripada celoteh anak. Karena itu pembicara ideal menurut Cicero, dia yang bukan hanya tau dan paham panduan sebagaimana termaktub dalam seni retorika, melainkan lebih penting seorang yang berpengetahuan mendalam mengenai sastra, sejarah, hukum, filsafat, pendek kata, semua tema yang dikenal sebagai humaniora (liberal arts) seperti suka dikatakan Cato tua, seorang negarawan Romawi sebelum Cicero, rem tene, verba sequentur (cengkeramlah perkara, kata akan menyusul)